TENTANG KEHADIRAN NABI ISA A.S. DI AKHIR ZAMAN

Sebelum membahas secara singkat judul di atas, ada baiknya dijabarkan terlebih dahulu tentang pembuktian bahwa memang benar adanya, setelah kehadiran Nabi Isa as, maka Rasulullah Muhammad SAW adalah merupakan utusan Allah SWT yang terakhir untuk menyempurnakan seluruh ajaran dari nabi-nabi sebelumnya.

★ Pembuktian Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi yang diutus setelah Isa as.

Dengan analisa numerik Al Quran yang sederhana dapat dibuktikan bahwa setelah nabi Isa as, akan diutus Rasulullah Muhammad SAW.

Perhatikan baik-baik :

– Nabi Isa as : nabi ke 24
– Abjad hijaiyah ke 24 : Mim / م

Keunikan nilai 24 (2 dan 4) :
– 2 + 2 = 4
– 2 x 2 = 4
– Keduanya menghasilkan nilai 4

Dengan landasan di atas, maka nilai 24 / Mim / م dijabarkan lebih lanjut dengan 2 metode (penjumlahan dan perkalian) :

✩ 24 / Mim / م pertama :

– 2 + 4 = 6
– Abjad ke 6 adalah Ha / ح
– Terbentuk kombinasi huruf م + ح
– Atau مح

✩ 24 / Mim / ke dua :
– 2 x 4 = 8
– Abjad ke 8 adalah Dal / د
– Terbentuk kombinasi huruf م + د
– Atau مد

Hasil dari kedua metode di atas di gabungkan :

– Mim Ha + Mim Dal (مح dan مد)
– Sehingga menjadi : محمد (Muhammad)

Sangat jelas bukan..?

Terbukti benar adanya, bahwa setelah nabi Isa as, diutuslah Rasulullah Muhammad SAW, sebagai nabi penutup/terakhir, nabi ke 25, yang membawa risalah Al Quran.

Surat ke 25 pun adalah Al Furqan (Nama lain dari Al Quran)

Nilai 2 + 2 dan 2 x 2 di atas, yang sama-sama menghasilkan nilai 4, juga membuktikan bahwa Al Quran adalah sebagai kitab ke 4, kitab penyempurna atas kitab-kitab sebelumnya.

★★ Hubungan nama Rasulullah SAW, Ahmad dan Muhammad

Di Qs. 61 Ash Shaf ayat ke 6, bahwa pada zaman nabi Isa as, beliau sudah memberitakan tentang akan diutusnya nabi Muhammad SAW.

Qs. 61. Aṣh-Ṣhaff 6 :

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Namun pada ayat tersebut nama Rasulullah SAW, disebutkan sebagai Ahmad.

Bagaimana keterkaitan secara numerikalnya, yang membuktikan bahwa Ahmad dan Muhammad SAW adalah 1 orang yang sama..?

Berikut pembuktiannya :

– Lafadz dari Ahmad : احمد
– Huruf ا = Huruf ke 1
– Huruf ح = Huruf ke 6
– Huruf م = Huruf ke 24
– Huruf د = Huruf ke 8

Jumlah seluruhnya :
– 1 + 6 + 24 + 8 = 39
– Surat ke 39 : Az Zumar
– Surat ini terdapat pada 2 Juz
– di Juz 23 : ayat ke 1 – 31
– di Juz 24 : ayat ke 32 – 75

Bila dijumlahkan nilai Juz nya :
– 23 + 24 = 47
– Surat ke 47 : Muhammad

Terbukti bukan…?

Nilai numerik dari lafadz nama Ahmad ( احمد ) adalah 39 :

– Qs. 39, Az Zumar : 75 ayat

Nomor surat + jumlah ayatnya adalah :

– 39 + 75 = 114
– Nilai 114 = Jumlah surat di Al Quran

Artinya, memang benar terbukti bahwa Al Quran (114 surat) tersebut difirmankan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

★★★ Bukti Bahwa Al Quran Diturunkan, Setelah 3 Kitab Sebelumnya

Sebelum Al Quran, telah di wahyukan dan diturunkan 3 kitab kepada 3 Nabi :

1. Taurat : Musa as
2. Zabur : Daud as
3. Injil : Isa as

Nilai 3 kitab dan 3 nabi ini, dikonversikan menjadi surat ke 3, Ali ‘Imraan ayat ke 3, yaitu :

FB_IMG_1506662879363

Sebuah pembuktian sederhana tentang kebenaran Al Quran sebagai kitab penyempurna (atas 3 kitab sebelumnya), yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW

Karena Al Quran diturunkan sebagai kitab ke 4, perhatikan pula ayat ke 4 nya : 3 Ali ‘Imraan 4. Lihat gambar di atas.

Selain itu, penjabaran di atas dapat diperkuat dengan penjelasan di bawah ini :

Al Quran adalah sebagai kitab ke 4 yang diturunkan ke muka bumi ini. Lalu nilai 4 di konversikan menjadi surat ke 4, An Nisaa’

Selanjutnya, karena Al Quran di wahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW, maka nilai 4 (Qs. An Nisaa’) di atas koneksikan dengan nilai 47 (karena di Al Quran, Muhammad adalah surat ke 47).

Nilai 47 tersebut di konversikan menjadi nomor ayat, dari surat ke 4 An Nisaa’.

Sehingga di dapat ayat dari surat ke 4, An Nisaa’ ayat 47, yaitu :

FB_IMG_1506662856468

Sebuah teguran dan peringatan serta perintah yang tegas, bagi ummat yang mengimani 3 kitab sebelum Al Quran (Taurat, Zabur dan Injil), agar mengimani Al Quran sebagai kitab penyempurna atas kitab-kitab sebelumnya.

★★★★ Jawaban TEGAS atas pengakuan adanya nabi baru (nabi ke 26), setelah Rasulullah Muhammad SAW (nabi ke 25)

Firman/Kitab Allah SWT yang diturunkan kepada 4 Nabi :

– Taurat : Musa as, nabi ke 16
– Zabur : Daud as, nabi ke 20
– Injil : Isa as, nabi ke 24
– Al Quran : Muhammad SAW, nabi ke 25

Mari perhatikan dan jumlahkan nomor kenabiannya :

– 16 + 20 + 24 + 25 = 85

Di Al Quran, hanya ada satu nilai 85, yang merupakan kombinasi dari hasil penjumlahan nomor surat dan jumlah ayatnya, yaitu :

– Surat Muhammad, surat ke 47 dengan jumlah ayat 38.

Sehingga bila dijumlahkan :
– 47 + 38 = 85

Hal ini adalah sebagai bukti nyata, bahwa memang benar adanya, Rasulullah Muhammad SAW, adalah sebagai sang penerima wahyu atas kitab terakhir, kitab penyempurna, Al Quran Al Kariim, setelah 3 nabi pembawa 3 kitab sebelumnya.

Akhir-akhir ini, telah terjadi beberapa kasus, dimana ada oknum-oknum yang mengaku sebagai nabi “baru”, artinya mereka mengakui adanya nabi ke 26, setelah Rasulullah Muhammad SAW..??

Mari kita buktikan fenomena ini, dengan numerik Al Quran.

Nilai ke 4 nabi pembawa kitab di atas adalah 85. Bila nilai ini ditambahkan 26 (sebagai nabi ke 26 / nabi palsu mereka), maka hasilnya menjadi :

– 85 + 26 = 111

Nilai 111, bila dikonversikan sebagai nomor surat adalah Qs. 111 Al Lahab, atau Abu Lahab, seorang sosok penantang dan pembangkang atas risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW (Al Quran).

Artinya, dapat disimpulkan di sini, bahwa sosok-sosok yang mengaku sebagai nabi ke 26 tersebut, setelah nabi ke 25 (Rasulullah Muhammad SAW), adalah sebagai sosok-sosok dari Abu Labab versi baru di zaman ini..!!

Yang ingin merusak ajaran Islam yang sesungguhnya, mereka adalah para penentang kemurnian Firman Allah SWT, Al Quran Al Kariim dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

★★★★★ Tentang Kehadiran Nabi Isa as, Di akhir Zaman
(Melalui Analisa Numerik Al Quran)

Telah dibahas sebelumnya tentang bantahan akan kehadiran nabi palsu, yang mengakui adanya nabi baru (nabi ke 26) setelah Rasulullah Muhammad SAW.

Kali ini akan dibahas tentang kehadiran nabi Isa as pada akhir zaman yang akan membunuh Dajjal, lalu meluruskan akidah keislaman ummat, menuju kemurnian risalah yang rasulullah Muhammad SAW sampaikan.

Perlu diulangi sedikit uraian sebelumnya.

Firman/Kitab Allah SWT yang diturunkan kepada 4 Nabi :

– Taurat : Musa as, nabi ke 16
– Zabur : Daud as, nabi ke 20
– Injil : Isa as, nabi ke 24
– Al Quran : Muhammad SAW, nabi ke 25

Mari perhatikan dan jumlahkan nomor kenabiannya :

– 16 + 20 + 24 + 25 = 85

Di Al Quran, hanya ada satu nilai 85, yang merupakan kombinasi dari hasil penjumlahan nomor surat dan jumlah ayatnya, yaitu :

– Surat Muhammad, surat ke 47 dengan jumlah ayat 38.

Sehingga bila dijumlahkan :
– 47 + 38 = 85

Hal ini adalah sebagai bukti nyata, bahwa memang benar adanya, Rasulullah Muhammad SAW, adalah sebagai sang penerima wahyu atas kitab terakhir, kitab penyempurna, Al Quran Al Kariim, setelah 3 nabi pembawa 3 kitab sebelumnya.

Selanjutnya, dengan akan dihadirkannya kembali nabi Isa as, di akhir zaman, maka nilai 85 di atas akan ditambahkan kembali dengan nilai 24 (sebagai urutan kenabian Isa as).

Karena nabi Isa as, dihadirkan bukanlah sebagai nabi baru atau nabi ke 26. Jadi.. nilai 24 tetap digunakan sebagai dasar perhitungannya.

Sehingga menjadi :

– 85 + 24 = 109

Nilai 109 ini dikonversikan menjadi urutan surat ke 109, yakni :

– Qs. 109 Al Kaafirun.

Lalu.. hasil di atas, dikaitkan dengan hadist Rasulullah SAW di bawah ini :

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW, berkata:

“Tidak ada seorang nabi pun kecuali memperingatkan umatnya dari Dajjal. Buta satu matanya, pendusta. Ketahuilah dia buta. Adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal: ك ف ر – (KAF-FA-RA), yakni kafir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain:
“Bisa dibaca oleh semua mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak.” (HR. Muslim).

Dari uraian di atas, berujung pada Qs. 109 Al Kaafirun, yang berasal dari kata dasar kafir (kaf-fa-ra), yang juga merupakan tanda yang tertera di antara ke dua mata Dajjal, laknatullah.

Jelas bukan..? Bahwa memang sesungguhnya misi utama dari kehadiran nabi Isa as di akhir zaman, adalah dalam rangka mengalahkan dan membunuh Dajjal, yang telah melakukan banyak fitnah besar serta merusak akidah ummat pada saat itu (yang sebagian besar, telah termakan oleh fitnah Dajjal, menuju keingkaran/kekafiran).


Semoga bermanfaat

Syaiful Husein

Advertisements

Tujuh Ayat yang Berulang

★ Tujuh Ayat yang Berulang dan Tujuh Titik Sujud

Dalam salah satu Firman Allah SWT, yang disebutkan pada Qs. 15. Al-Ḥijr : 87

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung”.

Dari nomor surat dan ayatnya :
~ 15 dan 87
~ 1 + 5 + 8 + 7

Dari ayatnya, disebutkan nilai 7. Sehingga formasi di atas menjadi :

~ 1 + 5 + 8 + 7 + 7 = 28

Nilai 28 adalah merupakan hasil nilai deret hitung dari 7 atau :

~ 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 = 28

Kembali perhatikan nilai 15 dan 87 :

~ Qs. 15 Al Hijr : 99 ayat
~ Qs. 87 Al A’laa : 19 ayat

Dari jumlah ayat nya 99 dan 19 menjadi :

~ 9 + 9 + 1 + 9 = 28
~ Kembali diperoleh nilai 28

Disebutkan pada ayat tersebut, 7 ayat dan Al Quran, perhatikan penjabaran nilai numerik dari lafadz Al Quran / القران :

~ ال = 31
~ ق = 21
~ ر = 10
~ ا =    1
~ ن = 25

Jumlah keseluruhannya :
~ 31 + 21 + 10 + 1 + 25 = 88

Ternyata nilai 88 memiliki keterkaitan yang sangat jelas dengan nilai 28.

Karena nilai 88 adalah setara dengan jumlah ayat dari surat ke 28, Al Qashash. Dan nilai 28 sudah dijelaskan di atas, mengenai keterkaitannya dengan nilai 7.

7 ayat berulang sementara ini banyak ditafsirkan sebagai jumlah ayat dari surat Al Faatihah, 7 ayat yang tertulis (kauliyah) dimana 7 ayat ini berulang di baca dalam shalat setiap hari nya. Sudah banyak referensi penjelasannya, dan begitu banyak hikmah ilmu yang kita dapatkan.

Namun kali ini, 7 ayat yang berulang tersebut akan dikaitkan dengan ayat-ayat yang tidak tertulis (ayat kauniyah) di alam semesta ini.

Apakah itu..?

7 ayat (kauniyah) yang terjadi terus berulang di alam semesta ini adalah, jumlah hari dalam 1 minggu.

Melihat keterkaitannya nilai 7 ini dengan Al Quran (seperti penjabaran di atas), sangat jelas pesan yang bisa ditangkap, bahwa dalam keseharian kita yang tidak pernah lepas dari putaran waktu 7 hari (dalam satu minggu), sejak terlahir sampai akhir hayat kelak. Janganlah kita pernah lepas dari ketentuan dan ketetapan Firman Allah SWT di Al Quran. Dengan upaya untuk terus membacanya, mengkajinya, memahaminya dan mengamalkannya.

Agar kelak kita senantiasa menjadi hamba-hambanyaNya yang beriman dan selalu patuh/sujud hanya kepadaNya.

Tentang pencapaian untuk menjadi hambaNya yang beriman, dapat dijelaskan kembali dengan memperhatkan lagi nilai 99 dan 19 di atas, yang bila dijumlahkan menjadi :

~ 99 + 19 = 118

Nilai 118 ini adalah merupakan jumlah ayat dr. Qs. 23, Al Mu’minuun (orang yang beriman).

Sebuah nilai yang harus kita capai, dari hari ke hari bukan..? Yang di dalam kesehariannya wajib selalu patuh dan sujud hanya kepada ketentuanNya.

Selanjutnya..

Nilai 7, dalam bahasa Arabnya :
adalah, Sab’a (سبع), yang mengandung nilai numerik sbb :

~ س =   12
~ ب =     2
~ ع =   18

Jumlahnya : 12 + 2 + 18 = 32

Surat ke 32 adalah As Sajdah, Sujud.

Naah.. semakin jelas bukan hubungannya dengan pencapaian sebagai orang yang beriman (Qs. 23 Al Mukminun) yang patuh dan sujud hanya kepada Allah SWT, dengan segala ketentuanNya di Al Quran..?

Terkait dengan hal ini, mari kita perhatikan nilai 23 (Qs. Al Mukminuun) ini, dalam hubungannya dengan 7 titik sujud.

Secara numerik sederhana dapat dijelaskan sbb :

~ Titik sujud bertumpu pada 7 bagian tubuh
~ Kepala (1)
~ Telapak tangan (2)
~ Lutut (2)
~ Telapak kaki (2)

Lebih jauh lagi dapat dijabarkan kembali tentang tumpuan titik sujud menjadi :

~ Kepala (1)
~ Telapak Tangan (5 jari kanan & 5 jari kiri)
~ Lulut (2)
~ Telapak Kaki (5 jari kanan & 5 jari kiri)
~ Jumlahnya : 1 + 5 + 5 + 2 + 5 + 5 = 23
~ Surat ke 23 adalah Al Mu’minuun
(Orang yang beriman)

Sangat jelas bukan keterkaitan antara orang yang beriman dan sujud/patuh..?

~ Surat ke 7 Al A’raaf : Tempat tertinggi

Dengan sujudnya orang yang beriman akan menghantarkannya kepada derajat yang tinggi.

Selanjutnya apabila surat 23 Al Mu’minuun di balik nomor suratnya menjadi 32, maka surat ke 32 adalah As Sajdah (sujud).

Sedangkan 23 + 32 = 55 (Surat Ar Rahman), artinya setelah diangkat derajatnya, tentunya semakin melimpahlah kasih sayang Allah SWT kepadanya.

Semakin jelas bukan..?

★★ 7 Surat Diakhir Al Quran (Dengan jumlah 32 Ayat)

Masih tentang keutamaan sujud, akan semakin jelas keterkaitannya antara nilai 7 titik sujud dan nilai 32 (Qs. As Sajdah). Dengan penjabaran di bawah ini :

Ke 7 surat di akhir Al Quran adalah :

108  Al Kautsar        3 ayat
109  Al Kaafiruun     6 ayat
110  An Nashr          3 ayat
111  Al Lahab           5 ayat
112  Al Ikhlaash       4 ayat
113  Al Falaaq          5 ayat
114  An Naas            6 ayat
——- +                    ———– +
777                          32 ayat

Keterangan :
~ Terdiri dari 7 surat
~ 7 adalah jumlah tumpuan dalam bersujud
~ Jumlah ayatnya : 32 ayat
~ Surat ke 32 As Sajdah (Sujud/tempat sujud)
~ Jumlah nomor surat nya : 777
~ Surat ke 7 : Al A’raaf, Tempat yang tertinggi
~ Posisi sujud adalah posisi yang tertinggi kedudukannya dalam rukun shalat.
~ 777 + 32 = 809 : 8 + 0 + 9 = 17
~ 17 adalah jumlah rakaat shalat farfhu
~ Nilai 8 adalah jumlah raka’at yang dilakukan pada siang hingga sore hari (4 raka’ar Dzuhur dan 4 raka’at ‘Ashar) dan nilai 9 adalah jumlah raka’at shalat fardhu dari maghrib hingga shubuh (3 rakaat Maghrib, 4 raka’at Isya dan 2 raka’at Shubuh).
~ Dalam 17 rakaat, jumlah rukun sujudnya : 17 x 2 = 34 → 3 + 4 = 7

Yaa.. demikianlah adanya, ternyata 7 “ayat” yang disebut berulang-ulang dalam Qs. 15 ; 87 tersebut, memiliki makna yang teramat sangat dalam. Yang terus mengiringi kehidupan kita, sampai kelak akhir hayat kita. Terlebih bila melihat keterkaitannya dengan ritual ibadah shalat yang berulang dan terus berulang dalam putaran waktu 7 hari dalam satu minggu.

Baik itu dalam aplikasi ritual ibadah shalatnya maupun implementasi nilai-nilai luhur dari shalat tersebut yang tercermin dalam akhlak, kiprah dan perilaku kehidupan nyata kita.

Bukankah jumlah ayat dari Qs. 32 As Sajdah adalah 30 ayat ? Sehingga bila dijumlahkan menjadi 62, atau surat ke 62 adalah Al Jum’ah (Hari Jum’at)..??

Dan di dalam hari Jum’at ini pula ada sebuah kekhususan dalam pelaksanaan dan nilai ibadahnya, yakni Shalat Jum’at.

Untuk itu, mari terus tingkatkan kualitas keimanan dan ilmu kita, demi mencapai kriteria insan yang benar-benar beriman dalam arti sesungguhnya yang senantiasa tunduk, sujud dan patuh atas segala ketentuan Allah SWT.

collage-2017-07-24-21_56_50-e1506655139390.jpg

Semoga bermanfaat

Syaiful Husein

Kekhususan Hari Jum’at

Berikut ini akan kami sampaikan rangkuman atas beberapa artikel terkait dengan kekhususan dan keutamaan hari Jum’at, yang telah disampaikan pada posting facebook kami, numerik Al Quran.

★ PESAN PENTING YANG TERKANDUNG PADA HARI KE 6, JUMA’T

7 hari dalam 1 minggu, penamaannya mengacu pada bilangan dalam bahasa Arab :

1. Ahad      : Satu : Ahad
2. Itsnain   : Dua : Senin
3. Tsalatsa : Tiga : Selasa
4. Arba’a    : Empat : Rabu
5. Khamsa : Lima : Kamis

6. Sitta       : Enam : JUM’AT

7. Sab’a     : Tujuh : Sabtu

Namuuun.. mengapa khusus hari ke ENAM : JUM’AT, dibedakan sendiri…??

Yuuk kita analisa sedikit….

Pengecualian yang terjadi ada pada hari ke 6. Nilai 6 ini kita deret hitungkan, sbb :

– 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 =21
– Surat ke 21 adalah Al Anbiyaa’, Para Nabi

Bila diperhatikan lebih lanjut nama surat ke 21 ini, jelas sekali terkandung sebuah pesan tentang “benang merah” dari risalah yang dibawa oleh seluruh para nabi, yaitu :

– Surat ke 21 : Al Anbiyaa’ : Para Nabi
– Jumlah ayat surat 21 : 112 ayat
– Surat ke 112 : Al Ikhlash.

Pada surat ke 112 ini menjelaskan tentang Ketauhidan, Memurnikan KeEsaan Allah SWT.

Hal ini membuktikan bahwa “benang merah” dari risalah para nabi, mulai dari Adam as. sampai dengan Muhammad SAW, adalah tentang ketauhidan, memurnikan keEsaan Allah SWT.

Sepertinya sudah mulai terlihat jelas mengapa hari ke 6 (Jum’at) diberikan sebuah pengecualian dalam penamaannya.

Ternyata mengandung pesan yang sangat terkait dengan nilai ketauhidan, sebuah nilai paling mendasar dan pencapaian tertinggi dalam Islam.

Surat 112 ini berjumlah 4 ayat. Merujuk pada surat ke 21, Al Anbiyaa’ (Para Nabi), pada kenyataannya ada 4 nabi yang dibekali dengan 4 kitab :

– Musa as : Taurat
– Daud as : Zabur
– Isa as : Injil dan
– Muhammad SAW : Al Quran

Sehingga bila nilai awal 21 dijumlahkan dengan 4 menjadi : 21 + 4 = 25.

Bukankah jumlah nabi yang wajib diimani ada 25 Nabi….??

Sehubungan dengan surat ke 21 (Para Nabi), di Al Quran ada 6 Nabi yang diabadikan namanya sebagai judul surat, yakni :

1. Surat 10 Yuunus : Nabi ke 15
2. Surat 11 Huud : Nabi ke 4
3. Surat 12 Yuusuf : Nabi ke 11
4. Surat 14 Ibrahim : Nabi ke 6
5. Surat 47 Muhammad : Nabi ke 25
6. Surat 71 Nuuh : Nabi ke 3

Tentu kita semua ingat yang mendapat gelar sebagai Bapak Tauhid diantara seluruh para nabi… yaitu nabi Ibrahim as (Nabi ke 6).

Kembali nilai 6 disini, terkait dengan hari ke 6 (Jum’at) dan pesan tentang Ketauhidan.

Kemudian dari ke 6 surat nama nabi yang namanya diabadikan sebagai judul surat tersebut, bila diurutkan sesuai urutan nabinya, akan menjadi sbb :

1. Nuuh as : nabi ke 3 : Qs. ke 71
2. Huud as : nabi ke 4 : Qs. ke 11
3. Ibrahiim as : nabi ke 6 : Qs. ke 14
4. Yuusuf as : nabi ke 11 : Qs. ke 12
5. Yuunus as : nabi ke 15 : Qs. ke 10
6. Muhammad SAW : nabi ke 25 : Qs. Ke 47

Dengan pengurutan seperti di atas posisi nomor ke 6 adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Sangat wajar bukan ?? mengapa pengecualian hari ke 6 (Jum’at) mendapatkan keutamaan tersendiri, karena ternyata terkait pula dengan sesosok manusia termulia yang menjadi junjungan kita semua, Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang membawa kitab penyempurna dan termulia sepanjang zaman, Al Quran Al Kariim.

Terlebih bila dikaitkan uraian di atas tentang nabi Ibrahim as (Bapak Tauhid) dengan uraian selanjutnya tentang Muhammad SAW, bukankah ke 2 nama nabi ini yang diabadikan dalam shalawat nabi dalam shalat ..??

Tentunya bukan sebuah kebetulan yang dicocok-cocokkan.. !!

Sebagai penutup dalam uraian kali ini, mari kita uraikan abjad-abjad dari lafadz nama Rasulullah Muhammad SAW ( محمد ) sbb :

– م : abjad ke 24

– ح : abjad ke 6

– م : abjad ke 24

– د : abjad ke 8

Nilai keseluruhan dari lafadz Muhammad (محمد) adalah :

– 24 + 6 + 24 + 8 = 62
– Surat ke 62 adalah : AL JUM’AH (hari JUM’AT)

Urutan surat Muhammad (Qs. 47), pada urutan 6 surat di atas, berada pada nomor ke 6. Dan ternyata penjabarannya menghasilkan nilai 62 (Qs. Al Jum’ah / Hari Jum’at).

Bukankah hari ke 6 adalah hari Jum’at…?? Yang penamaan harinya berbeda sendiri dan mendapatkan pengecualian khusus..?!

Naaaah…. semakin jelas bukaan..?? mengapa hari Jum’at sebagai hari ke 6, dikecualikan dan diberikan keutamaan tersendiri..?!

Karena ternyata di dalamnya terkandung pesan-pesan yang mendalam dan bernilai luhur yang harus kita pahami dan sikapi sebaik mungkin, yaitu tentang :

– Ketauhidan
– Rasulullah Muhammad SAW
– Al Quran Al Kariim

Seluruh jumlah nabi yang wajib diimani adalah 25 nabi. Nilai 2 + 5 = 7 atau sama dengan jumlah hari dalam 1 minggu.

Tidak akan pernah ada nabi setelah nabi ke 25 (Rasulullah Muhammad SAW) sebagai nabi penutup. Artinya hari ke 7 adalah sebagai hari terakhir dan penutup dalam 1 minggu.

Dan nilai 7 disini kembali pada penamaan hari selanjutnya, yaitu hari ke 7, yang dalam bahasa Arabnya adalah Sab’a / hari sabtu.

Masih terkait dengan nilai 25. Bila nilai 2 dan 5 ini dikaitkan dengan bilangan hari ke 2 dan ke 5, jatuh pada :

– Hari ke 2 : Senin
– Hari ke 5 : Kamis

Yaaa.. sudah tentu kita dapat memahami keterkaitannya dengan ibadah puasa sunnah yang dilaksanakan pada 2 hari diantara 7 hari yang ada, yaitu puasa Senin dan Kamis.

Pesan dan renungan :
Mari kita penuhi dan tingkatkan nilai-nilai ketauhidan kita, disetiap harinya 7 hari dalam seminggu secara terus menerus sepanjang hidup kita.


★★ TENTANG KEKHUSUSAN HARI JUM’AT DAN SHALAT JUM’AT

Qs. 92 Al Lail / Malam
Qs. 62 Al Jum’ah / Jum’at

Ternyata hanya ada perbedaan di nilai 6 dan 9.

Dari sisi jumlah ayatnya :

– Qs. 92 Al Lail : 21 ayat
– Qs. 62 Al Jum’ah : 11 ayat
– Total ayatnya : 21 + 11 = 32

Lalu :

– Qs. ke 32 adalah As Sajdah : 30 ayat
– No surat + Jumlah ayat = 32 + 30 = 62
– Qs. 62 : Al Jum’ah
– Nilainya kembali terkait dengan hari Jum’at

Dari perbedaan nilai yang disebutkan diawal yaitu nilai 6 dan 9, bila dijumlah kan :

– 6 + 9 = 15 → 1 + 5 = 6
– Hari ke 6 = Jum’at
– Nilainya kembali terkait dengan hari Jum’at

Berhubung nilai 6 sudah jelas keterkaiannya dengan hari Jum’at (hari ke 6).

Lantas bagaimana dengan nilai 9 nya..??

Mari kita perhatikan terjemahan dari ayat ke 9 dari surat ke 62 (Al Jum’ah) :

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”

Ayat di atas, adalah tentang perintah Shalat Jum’at..!!


★★★ KONEKTIFITAS HARI JUM’AT DAN QS. 18, ALKAHFI

Lafadz dari الجمعة
(Al Jum’ah/Jum’at)

ال = 31
ج =   5
م = 24
ع = 18
ة = 32

Jumlahnya :
31 + 5 + 24 + 18 + 32 = 110

Nilai 110 adalah sama dengan jumlah ayat dari surat ke 18, yaitu Al Kahfi.

Perhatikan nilai GENAP dan GANJIL nya : (Dari uraian lafadz Al Jum’ah di atas,)

~ GENAP : 18 + 24 + 32 = 74
~ GANJIL : 5 + 31 = 36

Ternyata nilai 74 dan 36 tsb. menunjukkan tentang pemilahan dari surat Al Kahfi (yang ada pada juz 15 dan 16), yaitu :

✩ Surat Al Kahfi di juz 15 = 74 ayat
Ayat ke 1 s.d. 74 dan

✩ Surat Al Kahfi di juz 16 = 36 ayat
Ayat ke 75 s.d. 110

Selanjutnya surat ke 110 adalah An Nashr, pertolongan.

Semoga dari hari Jum’at kini dan kedepannya, selalu ada pertolongan dari Allah kepada kita semua, dalam hal kebaikan apapun.


★★★★ MALAM JUM’AT / HARI JUM’AT DAN SURAT AL KAHFI

Srt ke 92 Al Lail : Malam
Srt ke 62 Al Jum’ah : Jum’at

Srt 92 Al Lail = 21 ayat
Srt 62 Al Jum’ah = 11 ayat

Pemilahan nilai GENAP dan GANJIL :
~ Srt. Al Lail : 9, 2, 2, 1
~ Srt. Al Jum’ah : 6, 2, 1, 1

Menjadi :
~ GENAP = 2, 2, 2, 6
~ Jumlah = 2 + 2 + 2 + 6 = 12

~ GANJIL = 1, 1, 1, 9
~ Jumlah = 1 + 1 + 1 + 9 = 12

Sama-sama memperoleh nilai = 12
Nilai 12 ditambahkan 6 (Jum’at hari ke 6)
✩ 12 + 6 = 18S

✩ Surat Ke 18 : Al Kahfi

Selain itu :

Srt ke 92 Al Lail : Malam
Srt ke 62 Al Jum’ah : Jum’at

Hanya ada perbedaan di angka 6 dan 9

Ternyata urutan secara krnologis turunnya, surat Al Kahfi, diturunkan sebagai surat ke 69

Perhatikan juga nilai nomor suratnya :
~ 92 + 62 = 154 = 1 + 5 + 4 = 10

Bukankah sudah sama-sama diketahui tentang keutamaan 10 ayat awal dari srt 18 Al Kahfi ?
_________________________________________

1. Dari Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

3. “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surah Al- Kahfi terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi)

Dari beberapa uraian di atas, menunjukkan sebuah pesan tentang keutamaan dan kekhususan dari hari Jum’at (Malam Jum’at / Shalat Jum’at / Jum’at Malam).

Apakah seluruh hasil perhitungan tersebut kebetulan..?? Hanya dicocok-cocokan..?? Diada-adakan..??

Bukaan.. !! Inilah kesempurnaan Sistematika Matematika Illahiah..

Mari renungkan terjemahan ayat ini :

32. As-Sajdah : 3

“Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya”. Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk”

Hanya orang kafirlah yang mengatakan bahwa Al Quran adalah hasil buatan dan rekayasa yang diada-adakan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Al Quran adalah kebenaran mutlak dari Allah SWT. Baik dari kaidah verbal terjemahnya, maupun kaidah numerik/angka-angka nya.

Perhatikan juga terjemahan ayat-ayat di bawah ini :

69. Al-Haaqqah : 40 – 50

Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia (40)

dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (41)

Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. (42)

Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam (43)

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami (44)

niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. (45)

Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (46)

Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (47)

Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (48)

Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). (49)

Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). (50)

Semoga kita tidak termasuk pada golongan yang mendustakan kesempurnaan Al Quran.

 

Syaiful Husein

Keutamaan Ritual Hajji

Belum lama berselang pelaksanaan ritual rukun hajji dilewati, tepatnya pada tanggal 10 Dzuhiljjah 1438 tahun ini.

Tentunya, kemuliaan dan keutamaan dari rukun hajji ini, sudah banyak yang menyampaikan dengan berbagai macam pendekatan yang sangat bermanfaat. Alhamdulillaah..

Begitu pula penyampaian dari kami, melalui pendekatan paradigma numeriknya sudah beberapa artikel yang disampaikan pada face book kami, tentang numerik Al Quran.

Untuk itulah, kali ini kami mencoba untuk mengumpulkan dan merangkumkan beberapa kajian tersebut dalam blog ini. Dengan harapan dapat lebih memperluas sosialisasi yang dicapai. Selain itu, diharapkan penyampaian kali ini dapat melengkapi penjelasan kami pada artikel beberapa tahun yang lalu, tentang ritual hajji

Berikut beberapa hal yang terkait dengan kajian-kajian tersebut :

★ Surat ke 22, Al Hajj yang memiliki keunikan tersendiri

Setelah surat ini yaitu surat ke 23 sampai dengan surat terakhir (surat ke 114) ada 92 surat.

Sedangkan surat sebelum surat 22 ini, yaitu dari surat ke 1 sampai surat ke 21, jumlah nya ada 21 surat.

Dari hasil yang diperoleh yaitu nilai : 92 dan 21, ternyata memiliki keterkaitan yang sangat erat, karena ternyata surat ke 92, Al Lail berjumlah 21 ayat.

Mari dianalisa sedikit :

✩ Nilai 92 → 9 + 2 = 11
✩ Nilai 21 → 2 + 1 = 3
✩ Nilai 11 + 3 =14
✩ Qs. 14 adalah surat Ibrahim..

Nah.. kembali terlihat sebuah konektifitas antara ritual hajji dengan kisah sejarah nabi Ibrahim as.

Dilanjutkan..

✩ Nilai 92 → 9 + 2 = 11
✩ Nilai 11 → 1 + 1 = 2
✩ Nilai 21 → 2 + 1 = 3
✩ Diperoleh nilai 2 dan 3

Bila nilai 2 dan 3 ini diperhitungkan dengan 2 metode, maka :

✩ 2 + 3 = 5
✩ 2 x 3 = 6

Kembali terbukti, dari kedua hasil di atas (5 dan 6) pun terkait dengan hajji.

Karena huruf ke 5 adalah Jim (ج) dan huruf ke 6 adalah Ha (ح).

Bukankah kedua huruf ini yang membentuk lafaz Hajji ( حج )..?

Sebagai rukun Islam yang terakhir, ternyata begitu tinggi keutamaan dari ritual Hajji ini, sehingga pada 2 surat terakhir di Al Quran pun diabadikan kedua nilai 5 dan 6 ( حج ) ini, yakni :

✩ Qs. 113, Al Falaq : 5 ayat dan
✩ Qs. 114, An Naas : 6 ayat

Perhatikan pesan dari nilai kedua surat ini :

✩ Nilai 113 → 1 + 1 + 3 = 5
✩ Jumlah ayatnya pun 5
✩ Nilai 5 + 5 = 10

Lalu…

✩ Nilai 114 → 1 + 1 + 4 = 6
✩ Jumlah ayatnya pun 6
✩ Nilai 6 + 6 = 12

Kembali nilai 10 dan 12 di atas menunjukkan tanggal dan bulan dimana waktu puncak ritual hajji itu sendiri :

✩ 10 Dzulhijjah (tanggal 10 bulan ke 12)

Dan nilai 10 dan 12 pun bila dijumlahkan menjadi : 10 + 12 = 22 (Nomor surat dari Al Hajj).

Hanya kedua surat ini (Qs. 113 dan Qs. 114) yang jumlah ayatnya 5 dan 6 dengan posisi letaknya yang berdampingan.

Artinya di luar surat ini masih ada 112 surat lagi (Qs 1 s.d Qs. 112). Nilai 112 disini memuat tentang pesan akan keikhlasan dan ketauhidan. Karena surat ke 112 adalah Al Ikhlash (Memurnikan ke-Esaan Allah/ketauhidan).

Mari kita kembali ke uraian awal yang memperoleh nilai 21 dan 92, dan kita buka surat ke 21 Al Anbiyaa’ ayat ke 92 :

Collage 2017-09-02 21_34_32

Yaa.. memang begitulah adanya, puncak akan ritual hajji sebagai Rukun Islam yang terakhir, sejatinya mampu mengantarkan kita kepada kepahaman dan pengamalan akan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam secara utuh dan menyeluruh, dalam rangka menuju peningkatan nilai ketauhidan kita, untuk lebih mengenali Allah SWT, lebih dekat dengan-Nya.. bertambah dekat dengan-Nya.. semakin dekat dengan-Nya.

★★ Tentang Haji dan Hari Raya Qurban (‘Idul Adha) 10 Dzulhijjah

Sebelumnya sebagai acuan perhitungannya, beberapa kali menggunakan nilai 22, karena surat ke 22 adalah Al Hajj..

Bagaimanakah bila nilai 22 ini dikaitkan dengan juz 22…?

Pada juz 22 terdapat 4 surat :

√ Surat ke 33, Al Ahzaab
● Ayat 31 – 73 : 43 ayat

√ Surat ke 34, Sabaa
● Ayat 1 – 54 : 54 ayat

√ Surat ke 35, Faathir
● Ayat 1 – 45 : 45 ayat

√ Surat ke 36, Yaa Siin
● Ayat 1 – 21 = 21 ayat

Jumlah ayatnya :

√ 43 + 54 + 45 + 21 = 163
√ Nilai 163 → 1 + 6 + 3 = 10

Jumlah dari nomor suratnya :

√ 33 + 34 + 35 + 36 = 138
√ Nilai 138 → 1 + 3 + 8 = 12

Ternyata menghasilkan nilai 10 dan 12 lagi…

√ 10 : Tanggal
√ 12 : Bulan Dzulhijjah
√ 10 Dzulhijjah : ‘Idul Adha
√ 10 + 12 = 22, kembali ke nilai 22…!!

Laluu…

Bagaimana bila nilai 22, dikaji dari sisi jumlah ayat…?

Ada 2 surat di Al Quran yang jumlah ayatnya 22, yakni :

√ Qs. 58 Al Mujadilah : 22 ayat
√ Qs. 85 Al Buruuj : 22 ayat

Nilai nomor suratnya :

√ 58 → 5 + 8 = 13
√ 85 → 8 + 5 = 13

Nilai jumlah ayatnya :

√ 22 → 2 + 2 = 4
√ 22 → 2 + 2 = 4

Nilai keseluruhannya :

√ 13 + 13 + 4 + 4 = 34

Berdasarkan perhitungan awal dari surat 22 (Al Hajj), mari kita konversikan nilai 34 ini menjadi nomor ayat dari surat ke 22 Al Hajj, yakni : Qs. 22 Al Hajj ayat ke 34 :

Collage 2017-09-01 10_12_34

√ Nilai 22 + 34 = 56
√ Hasilnya terdiri dari 2 angka : 5 dan 6

Bila dikonversi sebagai huruf hijaiyah maka :

√ Huruf ke 5 : Jim (ج)
√ Huruf ke 6 : Ha (ح)

Bukankah ke 2 huruf ini yang membentuk lafadz حج (Haji)….?

Subhanallah..
Sistematika sempurna dari numerik Al Quran.. Sistematika Illahiah…
Kebenaran mutlak dari Allah SWT…!!

★★★ Hajji dan Ritual Qurban (berdasarkan dari lafadz Hajj : حج)

♡ Lafadz Hajj terdiri dar 2 huruf :
● Ha ( ح ) : Huruf ke 6 dan
● Jim (ج) : Huruf ke 5

♡ Nilai 6 dan 5 dideret hitungkan :
Deret hitung nilai 6 :
● 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 = 21

Deret hitung nilai 5 :
● 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15

♡ Nilai 21 + 15 = 36

♡ Surat Al Hajj adalah surat ke 22

♡ Bila nilai 36 di atas dikonversikan sebagai
nomor ayat dari surat 22 Al Hajj, yaitu :

Collage 2017-09-01 00_50_47

♡ Nilai 22 + 36 = 58

♡ Surat ke 58 : Al Mujadalah
Jumlah ayat surat ke 58 ini = 22

Kembali lagi ke nilai 22, atau surat Al Hajj ..!

Tentunya bukan sebuah kebetulan, namun inilah sempurnanya sistematika Illahiah pada Al Quran.

★★★★ Pristiwa Nabi Ibrahim as dan Ritual Hajji

Masih tentang ritual Hajji yang sangat terkait dengan sejarah dari nabi Ibrahim as. Secara singkat dan sederhana dapat dijelaskan sbb :

● Dalam urutan kenabiannya, Ibrahim as
adalah nabi ke 6.

● Di Al Quran surat Ibrahim adalah surat ke 14.
Nilai 14 → 1 + 4 = 5

● Urutan abjad ke 6 adalah : Ha / ح

● Urutan abjad ke 5 adalah : Jim / ج

● Penggabungan kedua abjad menjadi : حج
atau Hajj (Hajji)

Cukup jelas bukan keterkaitannya…?

Khusus untuk nilai 5, karena terkait dengan Rukun Islam ke 5 yaitu Hajji, ditambahkan sedikit penjabarannya, yakni :

● Surat ke 5 adalah Al Maaidah

● Jumlah ayat dari surat Al Maaidah : 120

● Sederhananya nilai 120 adalah hasil dari :
10 x 12 = 120

● Tentunya sudah dapat dipahami bukan ? bahwa nilai 10 dan 12 di sini terkait dengan waktu puncak dari rukun hajji itu sendiri yaitu : tanggal 10 bulan ke 12 (10 Dzulhijjah).

★★★★★ Tentang Nabi Ibrahim as – Isma’il as dan Qurban

Pristiwa nabi Ibrahim as, khususnya dalam keterkaitannya dengan ritual hajji dan qurban tidak bisa dilepaskan dari putra kandungnya sendiri (yang diperintahkan untuk di-qurbankan), yaitu nabi Isma’il as.

Keterkaitan yang jelas, dapat dijabarkan dengan nilai-nilai numerik Al Quran di bawah ini :

★ Lafadz dari nama Ibrahim as ( ابرهيم ) :

♡ Alif ( ا )   :   abjad ke 1
♡ Ba ( ب )  :   abjad ke 2
♡ Ra ( ر )    : abjad ke 10
♡ Ha ( ه )    : abjad ke 27
♡ Ya ( ي )    : abjad ke 30
♡ Mim ( م ) : abjad ke 24

Jumlah seluruhnya :   94

Surat Ibrahim di Al Quran adalah surat ke 14.

Sehingga bila nilai dari lafadz namanya di tambahkan dengan nomor suratnya menjadi :

♡ 14 + 94 = 108

Ternyata nilai 108 ini, sama nilainya dengan lafadz dari nama nabi Isma’il as, seperti penjabaran di bawah ini :

★ Lafadz dari nama nabi Isma’il as (اسمعيل ) :

♡ Alif ( ا )    :   abjad ke 1
♡ Sin ( س ) : abjad ke 12
♡ Mim ( م ) : abjad ke 24
♡ ‘Ain ( ع )  : abjad ke 18
♡ Ya ( ي )     : abjad ke 30
♡ Lam ( ل ) : abjad ke 23

Jumlah seluruhnya : 108

Dan di surat ke 108 (Al Kautsar) ini, dalam arti terjemahannya mengandung pula tentang perintah berkurban.

Collage 2017-09-02 10_49_56

Perhatikan kembali :

♡ Nilai lafadz Ibrahim : 94
♡ Nilai lafadz Isma’il : 108
♡ Nilai 94 → 9 + 4 = 13
♡ Nilai 108 → 1 + 0 + 8 = 9
♡ Nilai 9 + 13 = 22

Nah.. kembali ke nilai 22 lagi bukan..? Atau nomor surat dari Al Hajj.

Bila dikaji sedikit, tentang nilai numerik Qs. 22 (Al Hajj) ini, kembali akan terlihat keterkaitannya dengan nabi Ibrahim as – Isma’il as :

♡ Qs. 22 Al Hajj : 78 ayat
♡ Nilai 22 + 78 = 100

Nilai 100 ini ternyata setara dengan nilai dari lafadz nama nabi Ibrahim as bila dijumlahkan dengan nomor kenabiannya, atau :

♡ Lafadz nama nabi Ibrahim as : 94
♡ Nomor kenabian Ibrahim as : nabi ke 6
♡ Nilai 94 + 6 = 100

Sedangkan nabi Isma’il as adalah nabi ke 8, sehingga bila nilai 100 di atas dijumlahkan dengan nilai 8 → 100 + 8 = 108

Nilai 108 ini adalah sama dengan nilai dari lafadz nama nabi Isma’il as..!

Sangat jelas bukan..? Keterkaitan dari surat 22 (Al Hajj) dengan nabi Ibrahim as dan nabi Isma’il as..

Selanjutnya, mari coba kita perhatikan nomor urut ‘ain nya dari kedua surat ini (Qs. 94 dan Qs. 108) :

♡ Qs. 94 Al Insyirah ada di ‘ain ke 19 (juz 30).

♡ Kembali nilai 19 ini dijumlahkan dengan nomor surat Ibrahim : 19 + 14 = 33

♡ Ternyata.. Qs. 108, tepat berada pada ‘ain ke 33 (di juz 30)…!!

♡ Dan bila nilai nomor ‘ain nya dijumlahkan : 19 + 33 = 52

Lantas… apakah sebuah kebetulan, bahwa nilai 52 ini, ternyata adalah sama dengan jumlah ayat dari Qs. 14 Ibrahim (52 ayat)..!

Subhanallah…
Sebuah sistematika numerik yang saling terkait antara nabi Ibrahim as dan nabi Isma’il as. Antara seorang ayah dan putra kandung yang amat dicintainya dan juga dicintai Allah SWT, dimana keduanya memiliki tingkat keikhlasan dan ketauhidan yang luar biasa.

Semoga suri tauladan dari kedua sosok nabi yang mulia ini, dapat menjadi pelajaran dan hikmah ilmu, dalam perbaikan akhlak serta peningkatan kualitas ibadah kita.

★★★★★★ Tentang Rukun Haji, Keikhlasan, dan Ketauhidan

Dalam urutan mushafnya, surat Al Hajj (Hajji), adalah surat ke 22.

Dan ternyata dalam urutan secara kronologis turunnya, surat ke 22 adalah surat Al Ikhlash (Keikhlasan/Memurnikan keEsaan Allah/Ketauhidan).

Sangat jelas bukan, keterkaitan tentang rukun Hajji, dengan pristiwa nabi Ibrahim as, yang begitu tinggi keikhlasannya dan dikenal pula sebagai Bapak Tauhid.

Selanjutnya perhatikan sistematika di bawah ini :

✩ Urutan berdasarkan kronologis turunnya, surat ke 22 adalah Al Ikhlash

✩ Berdasarkan urutan mushafnya, surat Al Ikhlash adalah surat ke 112

✩ Surat Al Ikhlash berjumlah : 4 ayat

✩ Nilai 22 → 2 + 2 = 4

✩ Nilai 112 → 1 + 1 + 2 = 4

✩ Jumlah ayatnya : 4

✩ 4 + 4 + 4 = 12

✩ Nilai 12 adalah waktu dimana dilaksanakannya rukun Hajji, yaitu bulan ke 12 (Dzulhijjah)

✩ 4 x 4 x 4 = 64 → 6 + 4 = 10

✩ Nilai 10, adalah tanggal puncak dari Ritual Rukun Hajji, ‘Idhul Adha, atau 10 Dzulhijjah (tanggal 10 bulan ke 12).

✩ Nilai 12 + 10 = 22

✩ Nilai 22 ini kembali kepada surat ke 22 (Al Hajj) berdasarkan urutan mushafnya dan surat Al Ikhlash, dalam urutan kronologis.

Untuk memudahkan, berikut disampaikan daftar 114 surat berdasarkan urutan kronologis turunnya :

FB_IMG_1498128347606

Subhanallaah..
Adakah sistematika sempurna dari kitab lain, seperti sempurnanya sistematika Illahiah di Al Quran ..??

Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan ayat pada Qs. 32 As Sajdah ayat ke 3 ini :

Collage 2017-09-01 12_22_31

Alhamdulillah, begitu banyak pencerahan hikmah ilmu yang diperoleh terkait dengan hajji, ‘Idul Adha dan qurban, di tahun ini.

Tak lain harapan kami, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

Syaiful Husein

Tentang Bulan Muharam

Sebagaimana kita kenal, bulan Muharam adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam (Hijriyah)

Mari kita buktikan..

Karena berkaitan dengan yang pertama, mari dikaitkan dengan surat pertama di Al Quran, Al Faatihah.

✩ Lafadz dari Al Faatihah : الفا تحة

✩ Nilai numeriknya adalah :

● Huruf ال : huruf ke 31
● Huruf ف : huruf ke 20
● Huruf ا    : huruf ke   1
● Huruf ت : huruf ke   3
● Huruf ح : huruf ke    6
● Huruf ة  : huruf ke  32

Jumlahnya : 93

✩ Nilai 93 → 9 + 3 = 12

✩ Sudah mulai terlihat hubungannya dengan sistem waktu :

● Nilai 12 : Jumlah bulan dalam 1 tahun dan
● Nilai 12 : Jumlah jam siang dan malam

✩ Nilai 93 ini dijumlahkan dengan nomor suratnya Al Faatihah → 93 + 1 = 94

✩ Nilai ini ternyata sama dengan nilai dari lafadz surat At Taubah : التوبة :

● Huruf ال : huruf ke 31
● Huruf ت : huruf ke   3
● Huruf و  : huruf ke 26
● Huruf ب : huruf ke   2
● Huruf ة  : huruf ke 32
● Jumlahnya : 94

✩ Setelah sebelumnya digunakan sistem penjumlahan dari nilai 9 + 3 = 12, maka kali ini kita gunakan sistem perkalian : 9 x 4 = 36

✩ Karena sudah diperoleh surat At Taubah, mari kita perhatikan, surat 9, At Taubah ayat ke 36 :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

✩ Sangat jelas, ternyata penjelasan di atas sangat terkait dengan sistem perhitungan waktu, yaitu sebanyak 12 bulan.

✩ Kembali kepada nilai 93, Surat At Taubah dan nilai 36. Ternyata surat At Taubah pun terpilah dalam 2 juz (dengan pemisahan 93 ayat dan 36 ayat), yaitu :

● Di Juz 10 = ayat 1 – 93 (93 ayat)
● Di Juz 11 = ayat 94 – 129 (36 ayat)
● Terdapat nilai 93 dan 36

✩ Nilai 36 dan 93 ini memperlihatkan sistem yang bercermin, yaitu 36 dan 93

✩ Terdapat nilai yang berbeda 6 dan 9, nilai yang bentuknya saling bercermin → 69

✩ Hal ini memperlihatkan sebuah pencerminan atau pasangan antara siang dan malam

✩ Nilai 6 + 9 = 15

✩ Nilai 15 adalah merupakan jumlah ayat dari surat ke 91, Asy Syams (Matahari)

✩ Bukankah sistem waktu, siang dan malam dipengaruhi oleh peredaran matahari..?

Mari kita lanjutkan…

✩ Sinar Matahari : cahaya.

✩ Dengan mengkaitkan nilai 93 dengan sistem Asma ul Husna, kembali terlihat hubungan yang sangat jelas, karena ternyata, Asma ul Husna ke 93 adalah An Nuur (Cahaya)

✩ Dan surat ke 93, Adh Dhuha, pun terkait dengan cahaya matahari (Waktu Dhuha/Waktu matahari sepenggalan naik, di waktu pagi hari)

✩ Dalam konteks cahaya = An Nuur di atas, di Al Quran berada pada posisi surat ke 24 (surat An Nuur)

✩ Nilai 24 adalah huruf Mim (م)

✩ Nilai 24 → 2 + 4 = 6, huruf ke 6 adalah Ha (ح)

✩ Surat An Nuur : 64 Ayat

✩ Nilai 64 → 6 + 4 = 10, dan huruf ke 10 adalah Ra (ر)

✩ Nilai 64 → 6 x 4 = 24

✩ Nilai 24 ini, kembali kepada huruf ke 24 yaitu Mim (م)

✩ Dari ke 4 variabel di atas, diperoleh huruf :

● Mim  : م
● Ha     : ح
● Ra     : ر
● Mim  : م

✩ Bukankah ke 4 huruf tersebut, membentuk lafadz Muharam (محرم)..?

Terbukti bukan..? Dari penjabaran dari surat pertama (Al Faatihah) ternyata sangat terkait pula dengan bulan pertama dalam kalender Islam (Hijriyah), yakni bulan Muharam

Kembali perhatikan..

✩ Nilai dari lafadz Muharam adalah :

● Mim : م : huruf ke 24
● Ha     : ح : huruf ke 6
● Ra     : ر : huruf ke 10
● Mim : م : huruf ke 24
● Jumlahnya : 64

✩ Nilai 64 adalah merupakan jumlah ayat dari surat ke 24 An Nuur

✩ Kembali sebuah penegasan tentang sistem waktu yang sangat terkait dengan sistem pencahayaan
Untuk melengkapi penjabaran di atas, mari kita bahas lebih lanjut, dan kembali pada surat Al Faatihah

✩ Jumlah ayat dari surat Al Faatihah adalah 7

✩ Bila dideret hitungkan menjadi : 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 = 28

✩ Nilai 28, terkait dengan sistem 28 surat Madaniyah (Surat-surat yang diturunkan di Madinah)

✩ Hal ini cukup menegaskan, bahwa titik awal dari perhitungan sistem kalender Islam dimulai dari titik awal Rasulullah SAW, hijrah ke Madinah

Bila dipilah dengan sistem juz 1 sampai dengan juz 28 maka akan diperoleh sistematika sbb :

✩ Juz 1 s.d. juz 28 : dimulai dari surat 1, Al Faatihah s.d. Srt ke 66 At Tahrim, atau diperoleh sebanyak 66 surat.

✩ Dari Qs. At Tahrim ini pun memiliki keseteraan makna dan berasal dari akar kata yang sama dengan kata muharam.

Untuk mencapai sampai surat terakhir (surat ke 114) maka diperoleh sistematika sbb :

✩ Juz 29 s.d juz 30 : Surat ke 67 s.d 114, atau diperoleh sebanyak 48 surat

✩ Kedua nilai di atas, nilai 66 dan 48 dapat dijabarkan lebih lanjut :

● Nilai 66 → 6 + 6 = 12
● Nilai 48 → 4 + 8 = 12
● Kembali terbentuk sistem nilai 12 yang terkait dengan konsep perhitungan waktu (12 bulan dan 12 jam waktu siang dan malam)

✩ Nilai 12 + 12 = 24, pun kembali kepada sistem pencahayaan (Surat ke 24 : An Nuur : Cahaya)

✩ Surat ke 24 : An Nuur, berjumlah 64 ayat

✩ Lalu surat ke 64 adalah At Taghaabun, 18 ayat

✩ Nilai 18 terkait dengan huruf ke 18 yaitu ‘Ain (ع)

✩ Bila dikaitkan ‘Ain ke 28 di antara 30 juz, hanya ada di juz 30

✩ Dan ‘Ain ke 28 pada juz 30 tersebut, tepat jatuh di surat 103, Al ‘Ashr (Masa/Waktu)

✩ Jelas sekali keterkaitannya dengan konsep waktu bukan..?

✩ Terlebih bila kita perhatikan dari surat ke 103 menuju surat ke 114 terdapat 12 surat. Yang menunjukkan kembali sistem nilai perhitungan waktu

✩ Jumlah ayat dari ke 12 surat (Surat 103 s.d 114) ini pun menunjukkan sistem nilai perhitungan waktu, karena seluruhnya berjumlah 60 ayat

✩ Nilai 60, terkait sistem nilai perhitungan waktu yang lebih detail yaitu :

● Sistem 60 menit dalam 1 jam
● Sistem 60 detik dalam 1 menit

Subhanallah, sedemikian sempurna dan detailnya Al Quran.

Tentang konsep waktu, berdasarkan surat 103, Al ‘Ashr ini dibahas khusus di dalam artikel kami sebelumnya.

✩ Kembali ke uraian dari lafadz Muharam :
● Mim : م : huruf ke 24
● Ha    : ح : huruf ke 6
● Ra     : ر : huruf ke 10
● Mim : م : huruf ke 24

✩ Bila dipilah menjadi 2 bagian, maka menjadi sbb :

✩ Nilai dari lafadz Muharam adalah :
● Mim : م : huruf ke 24
● Ha    : ح : huruf ke 6
● Jumlahnya 24 + 6 = 30

Dan
● Ra     : ر : huruf ke 10
● Mim : م : huruf ke 24
● Jumlahnya : 10 + 24 = 34

Nilai 30 dan 34 dijabarkan lebih lanjut, dengan sistem berkait, dimana jumlah ayat dari surat terkait kembali dikonversikan menjadi nomor surat, seperti penjabaran di bawah ini :

✩ Nilai 30 :
● Qs. 30 Ar Ruum              : 60 ayat
● Qs. 60 Al Mumtahanah : 13 ayat
● Qs. 13 Ar Ra’du               : 43 ayat
● Qs. 43 Az Zukhruf          : 89 ayat
● Qs. 89 Al Fajr                  : 30 ayat
● Sampai nilai akhir 30 ini tidak dilanjutkan lagi, karena akan kembali terjadi siklus ke titik 30 di awal, dan tak akan ada habisnya berputar.
● Sehingga diperoleh sebanyak 5 surat
● Dengan nilai nomor suratnya : 30+60+13+43+89 = 235
● Dan nilai jumlah ayatnya pun : 30+60+13+43+89 = 235

✩ Nilai 34
● Qs. 34 Sabaa’          : 54 ayat
● Qs. 54 Al Qamar    : 55 ayat
● Qs. 55 Ar Rahman : 78 ayat
● Qs. 78 An Naba      : 40 ayat
● Qs. 40 Almu’min   : 85 ayat
● Qs. 85 Al Buruuj    : 22 ayat
● Qs. 22 Al Hajj : 78 ayat
● Sampai nilai akhir 78 ini tidak dilanjutkan lagi, karena akan kembali terjadi siklus ke titik 78 di atasnya, dan tak akan ada habisnya berputar.
● Sehingga diperoleh sebanyak 7 surat
● Dengan nilai nomor suratnya : 34+54+55+78+40+85+22 = 368
● Dan nilai jumlah ayatnya pun : 34+54+55+78+40+85+22 = 368

✩ Dari penjabaran di atas ternyata diperoleh 5 surat + 7 surat = 12 surat (Konsep perhitungan waktu)

✩ Dan dari pengelompokkan surat-surat di ataspun terlihat sebuah siklus atau putaran yang berulang dan tak habis-habis, sebagaimana putaran waktu itu sendiri.

Lalu selanjtnya, kita jabarkan kembali nilai 235 dan 368 di atas :

✩ Nilai 235 → 2 + 3 + 5 = 10

✩ Nilai 368 → 3 + 6 + 8 = 17

✩ Sehingga terbentuk nilai baru : 10 + 17 = 27

✩ Nilai 27 dikonversikan menjadi surat adalah surat An Naml, 93 ayat

✩ Tentunya masih terkait dengan penjabaran nilai lafadz Al Faatihah, yang berjumlah 93 di awal penjabaran ini.

✩ Karena nilai dari jumlah ayat dari penjabaran sistem 30 dan 34 diatas, juga menghasilkan nilai 235 dan 368, maka diperoleh nilai : 27 nya 2 kali, atau 27 x 2 = 54.

✩ Surat ke 54 adalah Al Qamar

✩ Dengan diperolehnya surat Al Qamar ini, yang berarti Bulan, semakin jelaslah bahwa perhitungan sistem kalender Islam/Hijriyah adalah berdasarkan sistem edar dari pada bulan.

Kembali kepada sistem nilai 30 dan 34 :

✩ Qs. 30 Ar Ruum : 60 ayat dan

✩ Qs. 34 Sabaa : 54 ayat

✩ Sehingga total ayatnya menjadi : 60 + 54 = 114

✩ Nilai ini terkait dengan 114 jumlah surat di Al Quran.

Yaa.. memang begitulah adanya, seluruh gerak alam semesta ini tidak pernah lepas dari sistem keteraturan yang telah Allah tetapkan di Al Quran.

Dan sehubungan dengan konsep hijrah, akan sangat terkait pula dengan sebuah pesan penting, agar secara terus menerus meng”hijrah”kan pola fikir kita, mind set kita, hati kita, untuk terus mengkaji, mendalami dan mengamalkan Al Quran secara menyeluruh.

Baik itu dari kaidah hikmah ilmu Al Quran yang tersurat maupun yang tersirat, demi kepentingan untuk pembuktian Islam sebagai Rahmatan lil ‘Aalamiin…

Semoga bermanfaat.

Syaiful Husein

 

Pembuktian Ibrahim as sebagai Bapak Tauhid

Bukti ketauhidan nabi Ibrahim as tak diragukan lagi. Ujian-ujian yang teramat sangat berat telah beliau lalui dengan penuh keyakinan dan kesabaran serta keikhlasan. Mungkin hal ini sudah sering dibahas bagaimana ia menghancurkan berhala-berhala di ka’bah yang dibuat oleh ayahnya sendiri, begitu pula bagaimana ketika ia harus menghadapi hukuman dibakar hidup-hidup oleh raza Namruz, bahkan ia pun di uji untuk mengorbankan putra kesayangannya Nabi Isma’il as. Sehingga patutlah ia mendapatkan gelar sebagai Bapak Tauhid.

Dalam wacana kali ini, melalui analisa numerik Al Quran nya, akan disajikan mengenai pembuktian bahwa benarlah adanya nabi Ibrahim as adalah sang Bapak Tauhid.

Nabi Ibrahim as, diabadikan namanya dalam sebuah surat di al qur’an dalam Qs. 14 Ibrahim. Selanjutnya dengan nilai 14 ini, akan dijadikan sebagai parameter perhitungannya, yaitu :

Apabila nilai 14 ditambahkan dengan 14 maka akan diperoleh nilai 28. Selanjutnya nilai 28 akan kembali ditambahkan dengan nilai 14. Begitu seterusnya seluruh nilai yang diperoleh dari hasil penambahan nilai 14 kembali ditambahkan dengan nilai 14 sampai dengan titik akhir menuju surat yang terakhir yaitu Qs. 114.

Dalam bentuk skema terlihat seperti di bawah ini :

slide1

Penjelasan :

  • Dengan perhitungan seperti diterangkan di atas, ternyata perhitungan yang di awali dari Qs. 14 Ibrahim (Bapak Tauhid) berakhir pada Qs. 112 Al Ikhlash (surat tentang ketauhidan/memurnikan keesaan Allah SWT).
  • Perhitungan di atas menghasilkan sebanyak 8 surat dan perhitungan di akhiri sampai dengan Qs. 112 karena apabila diteruskan dengan menjumlahkannya lagi dengan nilai 14, akan melampaui batas jumlah surat di Al qur’an yang berjumlah 114 surat.
  • Disini terlihat sebuah pembuktian tentang nabi Ibrahim sebagai Bapak Tauhid.

Akan tetapi, dengan sedikit perubahan metode perhitungan, yaitu dengan metode pengurangan, maka kembali akan terlihat sebuah makna yang lebih jauh lagi.

  • Dalam skema sebelumnya perhitungan berakhir pada Qs. 112 Al Ikhlas yang berjumlah 4 ayat.
  • Apabila nilai Qs. 112 dikurangi dengan jumlah ayatnya maka akan diperoleh sebuah nilai baru yaitu : 112 – 4 = 108.

Nilai ini kemudian dikurangi dengan nilai 14, menuju surat-surat sebelumnya, sehingga menjadi :

slide2

Penjelasan :

  • Pada perhitungan sebelumnya, berakhir pada Qs. 112 Al Ikhlash.
  • Lalu nomor surat dan jumlah ayatnya ditambahkan : 112 – 4 = 108
  • Dengan sistem pengurangan nilai 14, dari Qs. 108 menuju surat-surat lainnya, ternyata tepat pada urutan nomor ke 14, berakhir pada Qs. 38 Shad (ص ).
  • Surat ke 38, ini memiliki nama yang unik yaitu dinamai dengan sebuah abjad, yaitu abjad ke 14 (shad – ص ).
  • Dari perhitungan di awal yang dimulai dari variabel ke 14, akhirnya ditutup dengan surat yang memiliki nilai 14 juga (surat shad – ص = abjad shad – ص = abjad ke 14)
  • 38 Shad (88 ayat) ini sangat terkait dengan nilai 14, selain dapat dilihat dari abjad nama suratnya, dapat juga dilihat dari penjumlahan no suratnya + abjad suratnya + jumlah ayatnya, sehingga menjadi : 38 + 14 + 88 = 140. Kembali terlihat sebuah keterkaitan dengan nilai 14 juga,  yaitu dengan perkalian 10 (14 x 10 = 140).

Ada sebuah pembuktian lagi tentang nilai 14 yang sangat unik di al qur’an. Kali ini ditinjau dari sisi jumlah ayat. Yaitu apabila diambil surat yang berjumlah 14 ayat maka akan diperoleh Qs. 61 Ash Shaf.

Lalu  diambil surat dengan jumlah ayat 38 yaitu Qs. 47 Muhammad (karena nilai 38 pun, sebagaimana penjelasan di atas berkaitan erat dengan nilai 14). Korelasi ke 2 surat ini dengan Qs. Ibrahim, akan dijabarkan lebih lanjut di bawah ini :

slide3

Penjelasan :

  • Qs. 61 Ash Shaf berjumlah 14 ayat dan Qs. 47 Muhammad  berjumlah 38 ayat
  • Ketika nomor-nomor suratnya dijumlahkan dengan jumlah ayatnya maka deiperoleh nilai : 61 + 47 = 108 dan 14 + 38 = 52 dan 108 + 52 = 160
  • Nilai 160 ini setara nilainya dengan nilai yang ada pada Qs. 14 Ibrahim (nomor suratnya + nilai numerik nama suratnya + jumlah ayatnya).

Shalawat Nabi pada Shalat

Terkait dengan uraian tentang nilai 14 dan 38 di atas, juga memiliki konektifitas dengan shalawat pada shalat. Yaitu ketika setelah selesai membaca tahyatul akhir dan membaca syahadat dilanjutkan dengan shalawat nabi. Pada shalawat tersebut yang disebutkan adalah dua nama nabi, yaitu nabi Muhammad saw dan Ibrahim as. Perhatikan skema dibawah ini :

presentation1

Uraian tersebut didapat dari :

  • Surat Muhammad adalah surat ke 47 dengan jumlah ayatnya 38
  • Bila dilanjutkan lagi maka surat ke 38 adalah surat Shaad (ص ).
  • Surat Shaad, mempunyai keunikan tersendiri, karena judulnya adalah sebuah abjad hijaiyah saja, yaitu abjad ke 14 (Shaad- ص ).
  • Bila nilai 14 kembali dikonversikan ke nomor surat yaitu surat ke 14, Ibrahim dengan jumlah ayat 52
  • Titik berangkat dimulai oleh Qs. 47 Muhammad dan berakhir pada Qs. 14 Ibrahim, disinilah terlihat sebuah sistematika yang mengkoneksikan sistem shalawat ke 2 nabi agung ini (Muhammad SAW dan Ibrahim as)
  • Nilai awal yang bermula dari angka 47 (nomor surat Muhammad) dan berakhir pada angka 52 (jumlah ayat Qs. Ibrahim)
  • Sehingga bila kedua variabel ini dijumlahkan maka : 47 + 52 = 99.
  • Dengan beberapa uraian sebelumnya, ‘berulang kali’ diperoleh nilai 99 dan 15 serta 114 (15 + 99 = 114 / jumlah surat di Al Qur’an), tentunya sudah dapat dipahami bersama, pesan dan maksud apa yang Allah ingin sampaikan. Yaitu mengandung pesan tentang keutamaan Al Quran (membacanya, memahami dan mengamalkannya), sebagai wujud nyata dari shalawat itu sendiri.
  • Karena, dari uraian diatas jelas sekali terbukti ‘ternyata’ shalawat nabi (Muhammad saw dan Ibrahim as) pun sangat erat korelasinya dengan Al Qur’an. Demikian sistematisnya korelasi antar keduanya.

Tentunya Allah mempunyai maksud tertentu dengan sistematika seperti ini, karena mengapa bukan nabi Adam as yang disandingkan dengan nabi Muhammad saw, padahal ia adalah nabi yang pertama dan Muhammad saw adalah nabi terakhir. Atau bisa saja dengan nabi-nabi yang lain. Mengapa harus dengan nabi Ibrahim as ?

Selanjutnya, perlu dihadirkan pula, tentang beberapa keutamaan Nabi Ibrahim as yang ada Al Quran :

Orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang yang mengikutinya, dan Nabi ini (Muhammad), dan orang yang beriman. Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.

(Qs. 3. Ali ‘Imraan 68)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah Memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).

(Qs. 4 An Nisaa’ 125)

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhan-ku telah Memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.”

(Qs. 6. Al An’aam 161)

Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah),

(Qs. 16. An Nahl 120)

Kemudian Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”

(Qs. 16. An Nahl 123)

Dan Kami Abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

(Qs. 37. Ash Shaffat 108)

Demikian, sedikit penjelasan tentang pembuktian nabi Ibrahim as sebagai Bapak Tauhid yang sangat patut kita suritauladani. Dan mengingat semakin gencarnya serangan-serangan terhadap Islam belakangan ini (yang bertepatan pula dengan tahun 1438 H), sangat diharapkan wacana keilmuan ini dapat semakin menguatkan ketauhidan kita kepada Allah SWT, semakin meyakini firman-firmaNya dan tetap teguh dalam mempertahankan kebenarannya.

Alhamdulillah, kalimat Tauhid pun sudah semakin tersebar dimana-mana di segala belahan negeri ini. Semoga dapat memberikan dampak yang positif sebagai tanda-tanda sebuah kebangkitan dan berjayanya kembali Islam di muka bumi ini.

Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin…

KONSEP WAKTU DALAM AL QURAN (BERDASARKAN ANALISA NUMERIK AL QURAN)

Dimensi waktu, sedemikian vitalnya ia dalam  kehidupan manusia. Tak satu makhluk pun di alam semesta ini yang mampu terlepas dari dimensi ini. Bahkan dalam Islam tentang waktu pun menduduki peran yang teramat sangat penting. Begitu banyak ibadah dan aplikasi dalam Islam yang dikaitkan dengan waktu, seperti shalat, puasa, zakat, hajji dan lain-lainnya.

Tak terbayangkan apabila ummat Islam tak memiliki kepahaman tentang waktu, tentu segala kaidah ibadah yang dilaksanakan menjadi tak menentu arahnya, hampa akan kualitas dan tentunya tak mampu memberikan dampak yang positif bagi pelakunya.

Di dalam Al Quran, satu surat di mana Allah SWT bersumpah tentang waktu, ada pada surat ke 103-Al ‘Ashr (Waktu/Masa). Mengingat sumpah Allah SWT di surat ini, menegaskan betapa dimensi waktu memiliki makna dan hikmah ilmu yang luar biasa.

Mungkin tidak perlu dibahas lebih jauh, tentang keutamaan waktu, karena memang sudah sama-sama diketahui tentang betapa vitalnya dalam kehidupan di alam semesta ini.

Selanjutnya, dengan paradigma numeriknya, mari diperhatikan Qs. 103-Al ‘Ashr dengan jumlah 3 ayatnya.

Surat ini terletak di Juz 30, pada posisi ‘ain ke 28 surat ke 26 pada Juz 30 (bila diurutkan dari Qs. 78-An Naba yang merupakan surat pertama di Juz 30).

Setelah surat ini, ada 11 surat lagi sampai dengan Qs. 114-An Naas, sebagai surat terakhir di Al Quran.

Artinya, bila dihitung dari surat ke 103 ini, seluruhnya ada 12 surat menuju surat terakhir (Qs. 114-An Naas).

Naah, di sini sedah mulai terlihat kaitannya dengan konsep waktu, karena.. nilai 12 akan terkait dengan sistem perhitungan waktu (12 jam siang/malam, 12 bulan hasehi dan hijriyah) sebagaimana Firman Allah SWT di bawah ini :

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia Menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa” (Qs. 9-At Taubah 36)

Melanjutkan uraian di atas, ke 12 surat tersebut adalah :

slide1

Jumlah ayat dari ke 12 surat di atas adalah 60 ayat. Nilai ini pun terkait dengan sistem perhitungan waktu, yaitu :

  • 1 menit = 60 detik
  • 1 jam = 60 menit

Sebagaimana yang telah disampaikan di atas, Qs. 103, tepat berada pada ‘Ain ke 28 di Juz 30. Sehingga bila disertakan nomor ‘ain nya tabel di atas menjadi :

slide2

Catatan :

  • Pada kolom sistem perhitungan nomor ‘ain, nilainya membentuk nilai urut dari 1 menuju 12 (nomor pengurutan  bulan), dari Muharam (1) sampai dengan DzulHijjah (12).

Dari tabel ke 2 di atas, dan disetarakan dengan nama-nama bulan hijriyah yang ada, maka akan terbentuk tabel sebagai berikut :

slide3

Beberapa pembuktian konsep waktu di atas dengan hal-hal yang terkait dalam dunia keIslaman :

slide4

Selanjutnya, mari perhatikan jumlah ke 12 surat di atas yaitu 60 ayat.

Diantara 114 surat, ada satu surat yang berjumlah 60 ayat, yaitu : Qs. 30-Ar Ruum

  • Ar Ruum artinya, bangsa Romawi : Sebuah simbol tentang Negeri/bangsa

Pada kenyataannya sistem perhitungan waktu di dunia saat ini berpatokan pada sistem GMT yang menjadi titik nol nya adalah di London – Inggris (simbol dari bangsa Romawi).

Padahal, seharusnya sebagai acuan perhitungan waktu ummat Ummat Islam adalah Ka’bah (Mekkah) sebagai titik nolnya. Karena, perhatikan perhitungan di bawah ini :

  • Jumlah ayat dari sistem waktu di atas adalah : 60 ayat
  • Diantara 114 surat, ada satu surat yang berjumlah 60 ayat, yaitu : Qs. 30-Ar Ruum
  • Nomor surat + Jumlah Ayat nya : 30 + 60 = 90, atau surat ke 90 adalah Al Balad (Negeri)
  • Yang dimaksud di sini adalah negeri Mekkah.

Sangat jelas, bahwa Al Quran sudah mengatur bahwa titik acuan perhitungan konsep waktu Islam (hijriyah) seharusnya menjadikan Ka’bah sebagai titik porosnya, titik NOL nya..!!!

Perhatikan kembali, posisi dari surat ke 90-Al Balad. Surat ini di apit oleh 2 surat, yaitu :

  • 89-Al Fajr (Waktu Fajar)
  • 90- Al-Balad (Negeri)
  • 91-Asy Syams (Matahari)
  • Ke 2 surat yang mengapit Qs. 90 ini (Fajr dan Matahari), sangat jelas keterkaitannya dengan konsep waktu di alam semesta ini

Terlebih apabila diperhatikan dari Qs. 2-Al Baqarah 150 :

“Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku Sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”

Dan Qs. 3-Ali ‘Imraan 96

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untualk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

Sangat jelas pesan dari ke 2 ayat di atas, bahwa Masjidil Haram/Ka’bah/Mekkah adalah merupakan pusat/poros yang seharusnya menjadi acuan dari ketetapan dari Allah SWT, termasuk dalam sistem perhitungan waktu.

(Dalam artikel-artikel sebelumnya sudah disampaikan tentang kaitan ayat ini yaitu Ka’bah sebagai simbul dari Al Quran, dapat dilihat pada artikel tentang Mukjizat Syahadat)

Selain itu, satu surat lagi di Al Quran yang memiliki jumlah 60 ayat, adalah Qs. 51-Adz Dzaariyat.

Surat ini adalah satu-satunya surat yang terpecah seimbang di dua Juz, yaitu :

  • 30 ayat berada di Juz 26
  • dan 30 ayat selanjutnya berada pada Juz 27.
  • Bukankah sistem nilai 30 ini terkait dengan sistem perhitungan jumlah hari dalam konsep hijriyah..?

Apabila dijumlahkan nomor surat dan jumlah ayatnya menjadi :

  • 51 + 60 = 111
  • Ada 2 surat yang memiliki jumlah ayat 111, yaitu Qs. 12-Yuusuf (Nabi Yuusuf as) dan Qs. 17-Al Israa (Perjalanan Malam)
  • Nilai 12 dari Qs. Yuusuf, kembali menunjukkan tentang keterkaitan dalam sistem perhitungan waktu
  • Nilai 17 dari Qs. Al-Israa, menunjukkan tentang keterkaitan sistem perhitungan waktu dengan penentuan waktu-waktu shalat (karena nilai 17 adalah jumlah bilangan rakaat shalat)
  • 111-Al Lahab berjumlah 5 ayat, pun hal ini menunjukan nilai 17 rakaat di atas terkait dengan sistem 5 waktu pembagian shalat fardhu.

Di dalam Juz 30, yang jumlah surat nya ada 37 surat, bila dicerminkan/dipasang-pasangkan, maka akan membentuk seperti tabel di bawah ini :

slide5

Perhatikan tabel yang bertuliskan warna MERAH di atas (12 surat dari Qs. 103 s.d. Qs. 114), ternyata Qs. 103 berpasangan dengan Qs. 89-Al Fajr (waktu fajar). Kembali terbukti, sebuah keterkaitannya dengan sistem waktu.

Terlebih bila kita perhatikan hal di bawah ini :

  • 103-Al ‘Ashr berjumlah 3 ayat
  • Pasangan Qs. 103 adalah Qs. 89-Al Fajr (30 ayat)
  • Namun bila kita mengambil ayat ke 3 dari Qs. 89-Al Fajr (karena Qs. 103, berjumlah 3 ayat)
  • Maka akan tepat jatuh pada Qs. 89-Al Fajr ayat ke 3, yang memiliki arti : “Demi yang genap dan ganjil”

Artinya, disini menunjukan 2 hal penting. Yaitu sumpah Allah SWT tentang Waktu dan Sistem Bilangan (genap dan ganjil). Dapatkah ke dua hal ini (waktu dan bilangan/angka) dipisahkan ?  Mustahil..!!

Disinilah penekanan tentang betapa pentingnya ummat Islam mempelajari tentang angka/numerik di Al Quran. Karena Islam adalah agama yang sangat sarat dengan angka dan waktu dalam aplikasinya. Islam adalah agama yang sangat logis dan rasional.

Pemahaman tentang angka, akan membimbing dan menggiring pola fikir manusia dalam kerangka logika, masuk akal dan ilmiah. Sehingga kebenaran Islam, dapat dibuktikan secara ilmiah, dan bukanlah agama yang berada dalam tatanan, katanya si A, katanya si B, menurut pendapat si fulan atau fulan lainnya.

Sebuah kebenaran dapat dibuktikan dengan adanya kerangka ilmiah yang bermetodologi, dan Al Quran sebagai kitab suci ummat Islam dapat membuktikannya, dalam segala macam aspek dan bidang pengetahuan bahkan teknologi.

Hanya tinggal tergantung bagi ummatnya, bersediakah untuk membuka diri dalam menerima keberadaan angka/numerik Al Quran..? Yang memiliki hikmah ilmu yang luar biasa mendampingingi kaidah-kaidah verbalnya (terjemahannya). Karena, pada intinya seluruh yang terkandung di Al Quran adalah dari Allah SWT, tanpa terkecuali sekecil apapun itu, bahkan titik-titik di abjadnya pun mengandung makna yang dahsyat.

Sebenarnya, masih teramat sangat luas apabila mengurai dan menjabarkan tentang konsep waktu. Namun cukuplah adalam tulisan kali ini, disampaikan mengenai konsep dasarnya saja.

Semoga kajian ini memberikan manfaat, dan pencerahan bagi kita yang sama-sama meyakini Al Quran sebagai sumber dari segala sumber ilmu.

Penulis – Syaiful Husein

Shalat sebagai Kunci Pembuka Keilmuan Al Quran (2)

238 (Posting)_Page_01238 (Posting)_Page_02238 (Posting)_Page_03238 (Posting)_Page_04238 (Posting)_Page_05238 (Posting)_Page_06238 (Posting)_Page_07238 (Posting)_Page_08238 (Posting)_Page_09238 (Posting)_Page_10238 (Posting)_Page_11

 

SHALAT SEBAGAI KUNCI PEMBUKA KEILMUAN AL QURAN

AQ n SHLT_Page_1AQ n SHLT_Page_2AQ n SHLT_Page_3AQ n SHLT_Page_4AQ n SHLT_Page_5AQ n SHLT_Page_6AQ n SHLT_Page_7AQ n SHLT_Page_8AQ n SHLT_Page_9

DEMI YANG GENAP DAN YANG GANJIL (QS. 89 AL FAJR 3)

Demi yang genap dan yang ganjil_Page_1Demi yang genap dan yang ganjil_Page_2Demi yang genap dan yang ganjil_Page_3Demi yang genap dan yang ganjil_Page_4Demi yang genap dan yang ganjil_Page_5Demi yang genap dan yang ganjil_Page_6Demi yang genap dan yang ganjil_Page_7Demi yang genap dan yang ganjil_Page_8