Pembuktian Ibrahim as sebagai Bapak Tauhid


Bukti ketauhidan nabi Ibrahim as tak diragukan lagi. Ujian-ujian yang teramat sangat berat telah beliau lalui dengan penuh keyakinan dan kesabaran serta keikhlasan. Mungkin hal ini sudah sering dibahas bagaimana ia menghancurkan berhala-berhala di ka’bah yang dibuat oleh ayahnya sendiri, begitu pula bagaimana ketika ia harus menghadapi hukuman dibakar hidup-hidup oleh raza Namruz, bahkan ia pun di uji untuk mengorbankan putra kesayangannya Nabi Isma’il as. Sehingga patutlah ia mendapatkan gelar sebagai Bapak Tauhid.

Dalam wacana kali ini, melalui analisa numerik Al Quran nya, akan disajikan mengenai pembuktian bahwa benarlah adanya nabi Ibrahim as adalah sang Bapak Tauhid.

Nabi Ibrahim as, diabadikan namanya dalam sebuah surat di al qur’an dalam Qs. 14 Ibrahim. Selanjutnya dengan nilai 14 ini, akan dijadikan sebagai parameter perhitungannya, yaitu :

Apabila nilai 14 ditambahkan dengan 14 maka akan diperoleh nilai 28. Selanjutnya nilai 28 akan kembali ditambahkan dengan nilai 14. Begitu seterusnya seluruh nilai yang diperoleh dari hasil penambahan nilai 14 kembali ditambahkan dengan nilai 14 sampai dengan titik akhir menuju surat yang terakhir yaitu Qs. 114.

Dalam bentuk skema terlihat seperti di bawah ini :

slide1

Penjelasan :

  • Dengan perhitungan seperti diterangkan di atas, ternyata perhitungan yang di awali dari Qs. 14 Ibrahim (Bapak Tauhid) berakhir pada Qs. 112 Al Ikhlash (surat tentang ketauhidan/memurnikan keesaan Allah SWT).
  • Perhitungan di atas menghasilkan sebanyak 8 surat dan perhitungan di akhiri sampai dengan Qs. 112 karena apabila diteruskan dengan menjumlahkannya lagi dengan nilai 14, akan melampaui batas jumlah surat di Al qur’an yang berjumlah 114 surat.
  • Disini terlihat sebuah pembuktian tentang nabi Ibrahim sebagai Bapak Tauhid.

Akan tetapi, dengan sedikit perubahan metode perhitungan, yaitu dengan metode pengurangan, maka kembali akan terlihat sebuah makna yang lebih jauh lagi.

  • Dalam skema sebelumnya perhitungan berakhir pada Qs. 112 Al Ikhlas yang berjumlah 4 ayat.
  • Apabila nilai Qs. 112 dikurangi dengan jumlah ayatnya maka akan diperoleh sebuah nilai baru yaitu : 112 – 4 = 108.

Nilai ini kemudian dikurangi dengan nilai 14, menuju surat-surat sebelumnya, sehingga menjadi :

slide2

Penjelasan :

  • Pada perhitungan sebelumnya, berakhir pada Qs. 112 Al Ikhlash.
  • Lalu nomor surat dan jumlah ayatnya ditambahkan : 112 – 4 = 108
  • Dengan sistem pengurangan nilai 14, dari Qs. 108 menuju surat-surat lainnya, ternyata tepat pada urutan nomor ke 14, berakhir pada Qs. 38 Shad (ص ).
  • Surat ke 38, ini memiliki nama yang unik yaitu dinamai dengan sebuah abjad, yaitu abjad ke 14 (shad – ص ).
  • Dari perhitungan di awal yang dimulai dari variabel ke 14, akhirnya ditutup dengan surat yang memiliki nilai 14 juga (surat shad – ص = abjad shad – ص = abjad ke 14)
  • 38 Shad (88 ayat) ini sangat terkait dengan nilai 14, selain dapat dilihat dari abjad nama suratnya, dapat juga dilihat dari penjumlahan no suratnya + abjad suratnya + jumlah ayatnya, sehingga menjadi : 38 + 14 + 88 = 140. Kembali terlihat sebuah keterkaitan dengan nilai 14 juga,  yaitu dengan perkalian 10 (14 x 10 = 140).

Ada sebuah pembuktian lagi tentang nilai 14 yang sangat unik di al qur’an. Kali ini ditinjau dari sisi jumlah ayat. Yaitu apabila diambil surat yang berjumlah 14 ayat maka akan diperoleh Qs. 61 Ash Shaf.

Lalu  diambil surat dengan jumlah ayat 38 yaitu Qs. 47 Muhammad (karena nilai 38 pun, sebagaimana penjelasan di atas berkaitan erat dengan nilai 14). Korelasi ke 2 surat ini dengan Qs. Ibrahim, akan dijabarkan lebih lanjut di bawah ini :

slide3

Penjelasan :

  • Qs. 61 Ash Shaf berjumlah 14 ayat dan Qs. 47 Muhammad  berjumlah 38 ayat
  • Ketika nomor-nomor suratnya dijumlahkan dengan jumlah ayatnya maka deiperoleh nilai : 61 + 47 = 108 dan 14 + 38 = 52 dan 108 + 52 = 160
  • Nilai 160 ini setara nilainya dengan nilai yang ada pada Qs. 14 Ibrahim (nomor suratnya + nilai numerik nama suratnya + jumlah ayatnya).

Shalawat Nabi pada Shalat

Terkait dengan uraian tentang nilai 14 dan 38 di atas, juga memiliki konektifitas dengan shalawat pada shalat. Yaitu ketika setelah selesai membaca tahyatul akhir dan membaca syahadat dilanjutkan dengan shalawat nabi. Pada shalawat tersebut yang disebutkan adalah dua nama nabi, yaitu nabi Muhammad saw dan Ibrahim as. Perhatikan skema dibawah ini :

presentation1

Uraian tersebut didapat dari :

  • Surat Muhammad adalah surat ke 47 dengan jumlah ayatnya 38
  • Bila dilanjutkan lagi maka surat ke 38 adalah surat Shaad (ص ).
  • Surat Shaad, mempunyai keunikan tersendiri, karena judulnya adalah sebuah abjad hijaiyah saja, yaitu abjad ke 14 (Shaad- ص ).
  • Bila nilai 14 kembali dikonversikan ke nomor surat yaitu surat ke 14, Ibrahim dengan jumlah ayat 52
  • Titik berangkat dimulai oleh Qs. 47 Muhammad dan berakhir pada Qs. 14 Ibrahim, disinilah terlihat sebuah sistematika yang mengkoneksikan sistem shalawat ke 2 nabi agung ini (Muhammad SAW dan Ibrahim as)
  • Nilai awal yang bermula dari angka 47 (nomor surat Muhammad) dan berakhir pada angka 52 (jumlah ayat Qs. Ibrahim)
  • Sehingga bila kedua variabel ini dijumlahkan maka : 47 + 52 = 99.
  • Dengan beberapa uraian sebelumnya, ‘berulang kali’ diperoleh nilai 99 dan 15 serta 114 (15 + 99 = 114 / jumlah surat di Al Qur’an), tentunya sudah dapat dipahami bersama, pesan dan maksud apa yang Allah ingin sampaikan. Yaitu mengandung pesan tentang keutamaan Al Quran (membacanya, memahami dan mengamalkannya), sebagai wujud nyata dari shalawat itu sendiri.
  • Karena, dari uraian diatas jelas sekali terbukti ‘ternyata’ shalawat nabi (Muhammad saw dan Ibrahim as) pun sangat erat korelasinya dengan Al Qur’an. Demikian sistematisnya korelasi antar keduanya.

Tentunya Allah mempunyai maksud tertentu dengan sistematika seperti ini, karena mengapa bukan nabi Adam as yang disandingkan dengan nabi Muhammad saw, padahal ia adalah nabi yang pertama dan Muhammad saw adalah nabi terakhir. Atau bisa saja dengan nabi-nabi yang lain. Mengapa harus dengan nabi Ibrahim as ?

Selanjutnya, perlu dihadirkan pula, tentang beberapa keutamaan Nabi Ibrahim as yang ada Al Quran :

Orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang yang mengikutinya, dan Nabi ini (Muhammad), dan orang yang beriman. Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.

(Qs. 3. Ali ‘Imraan 68)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah Memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).

(Qs. 4 An Nisaa’ 125)

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhan-ku telah Memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.”

(Qs. 6. Al An’aam 161)

Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah),

(Qs. 16. An Nahl 120)

Kemudian Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”

(Qs. 16. An Nahl 123)

Dan Kami Abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

(Qs. 37. Ash Shaffat 108)

Demikian, sedikit penjelasan tentang pembuktian nabi Ibrahim as sebagai Bapak Tauhid yang sangat patut kita suritauladani. Dan mengingat semakin gencarnya serangan-serangan terhadap Islam belakangan ini (yang bertepatan pula dengan tahun 1438 H), sangat diharapkan wacana keilmuan ini dapat semakin menguatkan ketauhidan kita kepada Allah SWT, semakin meyakini firman-firmaNya dan tetap teguh dalam mempertahankan kebenarannya.

Alhamdulillah, kalimat Tauhid pun sudah semakin tersebar dimana-mana di segala belahan negeri ini. Semoga dapat memberikan dampak yang positif sebagai tanda-tanda sebuah kebangkitan dan berjayanya kembali Islam di muka bumi ini.

Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin…

KONSEP WAKTU DALAM AL QURAN (BERDASARKAN ANALISA NUMERIK AL QURAN)


Dimensi waktu, sedemikian vitalnya ia dalam  kehidupan manusia. Tak satu makhluk pun di alam semesta ini yang mampu terlepas dari dimensi ini. Bahkan dalam Islam tentang waktu pun menduduki peran yang teramat sangat penting. Begitu banyak ibadah dan aplikasi dalam Islam yang dikaitkan dengan waktu, seperti shalat, puasa, zakat, hajji dan lain-lainnya.

Tak terbayangkan apabila ummat Islam tak memiliki kepahaman tentang waktu, tentu segala kaidah ibadah yang dilaksanakan menjadi tak menentu arahnya, hampa akan kualitas dan tentunya tak mampu memberikan dampak yang positif bagi pelakunya.

Di dalam Al Quran, satu surat di mana Allah SWT bersumpah tentang waktu, ada pada surat ke 103-Al ‘Ashr (Waktu/Masa). Mengingat sumpah Allah SWT di surat ini, menegaskan betapa dimensi waktu memiliki makna dan hikmah ilmu yang luar biasa.

Mungkin tidak perlu dibahas lebih jauh, tentang keutamaan waktu, karena memang sudah sama-sama diketahui tentang betapa vitalnya dalam kehidupan di alam semesta ini.

Selanjutnya, dengan paradigma numeriknya, mari diperhatikan Qs. 103-Al ‘Ashr dengan jumlah 3 ayatnya.

Surat ini terletak di Juz 30, pada posisi ‘ain ke 28 surat ke 26 pada Juz 30 (bila diurutkan dari Qs. 78-An Naba yang merupakan surat pertama di Juz 30).

Setelah surat ini, ada 11 surat lagi sampai dengan Qs. 114-An Naas, sebagai surat terakhir di Al Quran.

Artinya, bila dihitung dari surat ke 103 ini, seluruhnya ada 12 surat menuju surat terakhir (Qs. 114-An Naas).

Naah, di sini sedah mulai terlihat kaitannya dengan konsep waktu, karena.. nilai 12 akan terkait dengan sistem perhitungan waktu (12 jam siang/malam, 12 bulan hasehi dan hijriyah) sebagaimana Firman Allah SWT di bawah ini :

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia Menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa” (Qs. 9-At Taubah 36)

Melanjutkan uraian di atas, ke 12 surat tersebut adalah :

slide1

Jumlah ayat dari ke 12 surat di atas adalah 60 ayat. Nilai ini pun terkait dengan sistem perhitungan waktu, yaitu :

  • 1 menit = 60 detik
  • 1 jam = 60 menit

Sebagaimana yang telah disampaikan di atas, Qs. 103, tepat berada pada ‘Ain ke 28 di Juz 30. Sehingga bila disertakan nomor ‘ain nya tabel di atas menjadi :

slide2

Catatan :

  • Pada kolom sistem perhitungan nomor ‘ain, nilainya membentuk nilai urut dari 1 menuju 12 (nomor pengurutan  bulan), dari Muharam (1) sampai dengan DzulHijjah (12).

Dari tabel ke 2 di atas, dan disetarakan dengan nama-nama bulan hijriyah yang ada, maka akan terbentuk tabel sebagai berikut :

slide3

Beberapa pembuktian konsep waktu di atas dengan hal-hal yang terkait dalam dunia keIslaman :

slide4

Selanjutnya, mari perhatikan jumlah ke 12 surat di atas yaitu 60 ayat.

Diantara 114 surat, ada satu surat yang berjumlah 60 ayat, yaitu : Qs. 30-Ar Ruum

  • Ar Ruum artinya, bangsa Romawi : Sebuah simbol tentang Negeri/bangsa

Pada kenyataannya sistem perhitungan waktu di dunia saat ini berpatokan pada sistem GMT yang menjadi titik nol nya adalah di London – Inggris (simbol dari bangsa Romawi).

Padahal, seharusnya sebagai acuan perhitungan waktu ummat Ummat Islam adalah Ka’bah (Mekkah) sebagai titik nolnya. Karena, perhatikan perhitungan di bawah ini :

  • Jumlah ayat dari sistem waktu di atas adalah : 60 ayat
  • Diantara 114 surat, ada satu surat yang berjumlah 60 ayat, yaitu : Qs. 30-Ar Ruum
  • Nomor surat + Jumlah Ayat nya : 30 + 60 = 90, atau surat ke 90 adalah Al Balad (Negeri)
  • Yang dimaksud di sini adalah negeri Mekkah.

Sangat jelas, bahwa Al Quran sudah mengatur bahwa titik acuan perhitungan konsep waktu Islam (hijriyah) seharusnya menjadikan Ka’bah sebagai titik porosnya, titik NOL nya..!!!

Perhatikan kembali, posisi dari surat ke 90-Al Balad. Surat ini di apit oleh 2 surat, yaitu :

  • 89-Al Fajr (Waktu Fajar)
  • 90- Al-Balad (Negeri)
  • 91-Asy Syams (Matahari)
  • Ke 2 surat yang mengapit Qs. 90 ini (Fajr dan Matahari), sangat jelas keterkaitannya dengan konsep waktu di alam semesta ini

Terlebih apabila diperhatikan dari Qs. 2-Al Baqarah 150 :

“Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku Sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”

Dan Qs. 3-Ali ‘Imraan 96

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untualk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

Sangat jelas pesan dari ke 2 ayat di atas, bahwa Masjidil Haram/Ka’bah/Mekkah adalah merupakan pusat/poros yang seharusnya menjadi acuan dari ketetapan dari Allah SWT, termasuk dalam sistem perhitungan waktu.

(Dalam artikel-artikel sebelumnya sudah disampaikan tentang kaitan ayat ini yaitu Ka’bah sebagai simbul dari Al Quran, dapat dilihat pada artikel tentang Mukjizat Syahadat)

Selain itu, satu surat lagi di Al Quran yang memiliki jumlah 60 ayat, adalah Qs. 51-Adz Dzaariyat.

Surat ini adalah satu-satunya surat yang terpecah seimbang di dua Juz, yaitu :

  • 30 ayat berada di Juz 26
  • dan 30 ayat selanjutnya berada pada Juz 27.
  • Bukankah sistem nilai 30 ini terkait dengan sistem perhitungan jumlah hari dalam konsep hijriyah..?

Apabila dijumlahkan nomor surat dan jumlah ayatnya menjadi :

  • 51 + 60 = 111
  • Ada 2 surat yang memiliki jumlah ayat 111, yaitu Qs. 12-Yuusuf (Nabi Yuusuf as) dan Qs. 17-Al Israa (Perjalanan Malam)
  • Nilai 12 dari Qs. Yuusuf, kembali menunjukkan tentang keterkaitan dalam sistem perhitungan waktu
  • Nilai 17 dari Qs. Al-Israa, menunjukkan tentang keterkaitan sistem perhitungan waktu dengan penentuan waktu-waktu shalat (karena nilai 17 adalah jumlah bilangan rakaat shalat)
  • 111-Al Lahab berjumlah 5 ayat, pun hal ini menunjukan nilai 17 rakaat di atas terkait dengan sistem 5 waktu pembagian shalat fardhu.

Di dalam Juz 30, yang jumlah surat nya ada 37 surat, bila dicerminkan/dipasang-pasangkan, maka akan membentuk seperti tabel di bawah ini :

slide5

Perhatikan tabel yang bertuliskan warna MERAH di atas (12 surat dari Qs. 103 s.d. Qs. 114), ternyata Qs. 103 berpasangan dengan Qs. 89-Al Fajr (waktu fajar). Kembali terbukti, sebuah keterkaitannya dengan sistem waktu.

Terlebih bila kita perhatikan hal di bawah ini :

  • 103-Al ‘Ashr berjumlah 3 ayat
  • Pasangan Qs. 103 adalah Qs. 89-Al Fajr (30 ayat)
  • Namun bila kita mengambil ayat ke 3 dari Qs. 89-Al Fajr (karena Qs. 103, berjumlah 3 ayat)
  • Maka akan tepat jatuh pada Qs. 89-Al Fajr ayat ke 3, yang memiliki arti : “Demi yang genap dan ganjil”

Artinya, disini menunjukan 2 hal penting. Yaitu sumpah Allah SWT tentang Waktu dan Sistem Bilangan (genap dan ganjil). Dapatkah ke dua hal ini (waktu dan bilangan/angka) dipisahkan ?  Mustahil..!!

Disinilah penekanan tentang betapa pentingnya ummat Islam mempelajari tentang angka/numerik di Al Quran. Karena Islam adalah agama yang sangat sarat dengan angka dan waktu dalam aplikasinya. Islam adalah agama yang sangat logis dan rasional.

Pemahaman tentang angka, akan membimbing dan menggiring pola fikir manusia dalam kerangka logika, masuk akal dan ilmiah. Sehingga kebenaran Islam, dapat dibuktikan secara ilmiah, dan bukanlah agama yang berada dalam tatanan, katanya si A, katanya si B, menurut pendapat si fulan atau fulan lainnya.

Sebuah kebenaran dapat dibuktikan dengan adanya kerangka ilmiah yang bermetodologi, dan Al Quran sebagai kitab suci ummat Islam dapat membuktikannya, dalam segala macam aspek dan bidang pengetahuan bahkan teknologi.

Hanya tinggal tergantung bagi ummatnya, bersediakah untuk membuka diri dalam menerima keberadaan angka/numerik Al Quran..? Yang memiliki hikmah ilmu yang luar biasa mendampingingi kaidah-kaidah verbalnya (terjemahannya). Karena, pada intinya seluruh yang terkandung di Al Quran adalah dari Allah SWT, tanpa terkecuali sekecil apapun itu, bahkan titik-titik di abjadnya pun mengandung makna yang dahsyat.

Sebenarnya, masih teramat sangat luas apabila mengurai dan menjabarkan tentang konsep waktu. Namun cukuplah adalam tulisan kali ini, disampaikan mengenai konsep dasarnya saja.

Semoga kajian ini memberikan manfaat, dan pencerahan bagi kita yang sama-sama meyakini Al Quran sebagai sumber dari segala sumber ilmu.

Penulis – Syaiful Husein

Shalat sebagai Kunci Pembuka Keilmuan Al Quran (2)


238 (Posting)_Page_01238 (Posting)_Page_02238 (Posting)_Page_03238 (Posting)_Page_04238 (Posting)_Page_05238 (Posting)_Page_06238 (Posting)_Page_07238 (Posting)_Page_08238 (Posting)_Page_09238 (Posting)_Page_10238 (Posting)_Page_11

 

SHALAT SEBAGAI KUNCI PEMBUKA KEILMUAN AL QURAN


AQ n SHLT_Page_1AQ n SHLT_Page_2AQ n SHLT_Page_3AQ n SHLT_Page_4AQ n SHLT_Page_5AQ n SHLT_Page_6AQ n SHLT_Page_7AQ n SHLT_Page_8AQ n SHLT_Page_9

DEMI YANG GENAP DAN YANG GANJIL (QS. 89 AL FAJR 3)


Demi yang genap dan yang ganjil_Page_1Demi yang genap dan yang ganjil_Page_2Demi yang genap dan yang ganjil_Page_3Demi yang genap dan yang ganjil_Page_4Demi yang genap dan yang ganjil_Page_5Demi yang genap dan yang ganjil_Page_6Demi yang genap dan yang ganjil_Page_7Demi yang genap dan yang ganjil_Page_8

Image

Konektifitas Al Quran (6236 Ayat – 30 Juz) dengan Ruh


AQ-JUZ-RUH_Page_01AQ-JUZ-RUH_Page_02AQ-JUZ-RUH_Page_03AQ-JUZ-RUH_Page_04AQ-JUZ-RUH_Page_05AQ-JUZ-RUH_Page_06AQ-JUZ-RUH_Page_07AQ-JUZ-RUH_Page_08AQ-JUZ-RUH_Page_09AQ-JUZ-RUH_Page_10

SEANDAINYA AL QUR’AN MAMPU BERBICARA


Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata :

“Wahai para pencintaku, para penggemar ilmu yang selalu mempelajari aku, membacaku, membuka lembaran demi lembaranku setiap harinya.. janganlah pernah berhenti mempelajariku…… kenali aku…… pahami aku….”

“Janganlah pernah merasa puas atas nilai kebenaran yang kalian peroleh melalui aku saat ini,.. karena sesungguhnya nilai kebenaran yang kalian peroleh, belumlah menggapai kebenaran yang Hakiki, jauh penggemarku…… masih sangat jauh. Bukankan kebenaran yang Hakiki hanya milik ALLAH semata?”

“Mohon maaf para penggemarku, aku hanya mampu mengarahkan dan mendekatkan kalian kepada kebenaran yang Hakiki, tapi aku tak mampu membuat kalian untuk meraihnya secara utuh”

“Walaupun seluruh pepohonan di muka bumi ini di jadikan pena dan tujuh lautan dijadikan sebagai tinta, bahkan bila ditambahkan sebanyak itu pula… Tak akan penah habis hikmah ilmu dan khazanah yang terkandung di dalamku tuk kalian raih kepahamannya..”

“Sekali lagi penggemarku, kebenaran Hakiki hanyalah milik ALLAH dan tak satupun makhluk yang mampu menggapainya secara utuh. Untuk itu janganlah kalian merasa paling pintar.. paling benar… mudah menyalahkan pendapat orang lain, dengan dalil ayat-ayat yang terkandung di dalamku… jangan sekali-kali pencintaku… Karena bila itu terjadi… maka kalian akan terpecah belah menjadi banyak golongan dan kalian akan saling bermusuhan.. saling bertikai bahkan saling menghabisi satu sama lainnya. Bukankah itu yang terjadi saat ini..?”

“Wahai penggemarku… keberadaanku, bukanlah untuk menjadi mudarat bagi alam semesta ini. Sadarilah wahai penggemarku, perbedaan yang terjadi diantara kalian dalam memahamiku adalah merupakan bukti nyata.. betapa terbatasnya kemampuan kalian tuk memahamiku. Bila untuk memahamiku saja kalian tak mampu, bagaimana mungkin kalian akan mampu menggapai segala ke “Maha” an NYA ???”

“Keberadaanku adalah sebagai penebar keselamatan di alam semesta ini.. pembawa rahmat bagi sekalian alam.. bukan penebar ketidak nyamanan.. bukan pencipta kegelisahan.. bukan pemecah belah di antara kalian.. bukaan.. sama sekali bukaan..!! Bagaimana mungkin tuk hal yang sangat sederhana ini saja, kalian tak mampu memahaminya..? Apakah yang ada di benak kalian.. sehingga walaupun kalian sudah mempelajariku, namun… kalian acapkali bertindak bertentangan dengan peruntukkanku di alam semesta ini..?”

Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata :

“Wahai manusia yang teramat sangat kucintai.. sebenarnya.. cukuplah kalian ikuti saja bimbinganku, arahanku, untuk mengenali diri kalian sendiri lebih mendalam, tentang keberadaan kalian, tentang peruntukan kalian diciptakan.. serta tentang beban amanah apa yang kalian emban dan wajib jalankan, sebelum hayat berakhir meninggalkan dunia ini. Dan bila kalian isqamah mengikuti bimbinganku tuk memahami dan mengenali tentang diri kalian sendiri.. niscaya kelak kalian akan lebih memahami dan mengenali akan Tuhan kalian yang sebenarnya.. ALLAH SWT, Pencipta kalian semua”

“Ooooh… penggemarku … kalian terlalu muluk … sangat terlalu muluk bila kalian telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, dan kalian memutuskan untuk berhenti mempelajariku.. memahamiku…”

“Jangan lakukan itu penggemarku, jangan lakukan… pelajari aku terus, kenali aku terus… pahami aku terus…. amalkanlah segala yang telah kalian pahami.. Karena bila kalian berhenti mempelajariku dan telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, aku khawatir kalian akan menjadi takabur.. arogan.. sombong. Aku sangat yakin, seyakin-yakinnya itulah kesesatan yang teramat besar !!! layaknya syaitan yang sombong dan terkutuk selamanya dan akan menjadi penghuni abadi di neraka jahanam”

Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata :

“Wahai manusia.. bersyukurlah atas ke Islaman kalian yang sudah terbawa sejak lahir.. karena apabila kalian istiqamah dalam menjalankan shalat.. paling tidak sebanyak 9 kali dalam sehari di waktu-waktu shalat, kalian bersyahadat.. menyatakan kesaksian bahwa tiada tuhan selain ALLAH dan Rasulullah Muhammad saw sebagai utusan yang membawa risalah yang terkandung di diriku..”

“Namun.. realitanya bagaimana dengan wujud nyata atas kesaksian kalian tersebut..? apakah kesaksian kalian sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai kumpulan firmanNYA yang mampu menghantarkan kalian kepada petunjuk yang benar dalam menggapai ridhaNYA ? Apakah kesaksian kalian atas Rasulullah Muhammad saw, sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai risalah yang beliau sampaikan kepada kalian agar terselamatkan di dunia maupun akhirat ? Yaa.. dengan mempelajari aku.. memahami aku.. adalah sebuah cara yang tepat dalam memperbaiki kualitas ke Islaman dan syahadat kalian semua”

Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata :

“Wahai manusia.. dalam sehari.. paling tidak 17 kali dalam shalat kalian membaca bagian dariku yaitu surat “Al Faatihah” dan berdoa meminta ditunjuki kepada jalan yang lurus. Tidakkah kalian sadar, bahwa jalan yang lurus sebenarnya sudah ALLAH sediakan melalui aku.. kumpulan dari segala petunjukNYA, yang tidak ada keraguan di dalamnya bagi orang-orang yang bertaqwa..?? Lantas mengapa engkau masih saja belum tergerak atau enggan mencari petunjuk yang telah disediakan di dalam diriku ?” Yaa.. memang salah satu namaku adalah Al Hudaa, petunjuk atas segala problematika yang ada di alam semesta ini bahkan tuk pencapaian kebaikan akhirat sekalipun ada di dalam diriku, dan itu semuanya DIA sediakan dan peruntukkan bagi kalian semua. Sadarilah itu.. Wujudkanlah permintaan dan doa kalian dalam shalat itu dengan membaca aku, mempelajari aku, memahami aku, demi meraih petunjuk jalan yang lurus atas segala hal dan masalah yang kalian hadapi”

Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata :

“Wahai… sebagian manusia yang belum muncul kecintaannya padaku… seandainya kalian Islam.. mengapa kalian belum juga menyentuh diriku.. membuka lembaran demi lembaran diriku.. bencikah kalian pada ku..? Tidak rindukah kalian kepadaku, sang kitab termulia yang pernah ada di sepanjang zaman ?

“Berapa saat kah dalam keseharian kalian teringat akan aku.. terbersit tentang keutamaanku.. pernahkah kalian sempatkan sedikit waktu saja tuk menyentuhku.. melihatku.. membacaku ? Ketahuilah.. aku sangat merindukan kalian.. teramat sangat rindu..”

“Ketika aku akan diturunkan kemuka bumi ini, betapa ALLAH telah mempersiapkan segala kondisi yang terbaik untukku.. IA pilihkan waktu terbaik diantara seluruh waktu yang pernah ada tuk menurunkanku.. Lailatul Qadr..”

“IA pilihkan panglima malaikat tertinggi tuk membawa aku ke permukaan bumi ini.. Jibril yang perkasa..”

“IA pilihkan sosok manusia terbaik sepanjang masa tuk menerima kehadiran ku.. baginda Rasulullah Muhammad saw.. yang dengan segala pengorbanan harta, jiwa dan raga serta waktu dalam hidupnya, ia persembahkan demi sampainya aku kepada kalian semua.. begitu pula dengan para sahabatnya yang begitu setia, mulia dan total dalam memperjuangkan keberadaanku agar sampai kepada era kalian saat ini”

“Entah sudah berapa banyak nyawa para pejuang Islam yang sudah mengorbankan dan merelakan jiwanya demi memperjuangkan syiar akan keberadaanku, sehingga sampailah aku kepada masa kalian saat ini..”

“Dengan segala keutamaan pristiwa diturunkannya aku ke muka bumi ini dan perjalanan sejarah yang luar biasa itu.. Lantas mengapa dengan mudah dan ringannya kalian tak pedulikan aku..? memandang sebelah mata padaku..?” Seandainya kalian tau, bagaimana kelak aku akan dapat menerangi dan melapangkan makam kalian.. membela kalian di hari perhitungan kelak.. tentu kalian akan menghampiriku waktu demi waktu.. membawaku kemana kalian pergi.. Tapiiii.. bagaimana aku akan mampu melakukan semua itu.. tanpa munculnya kecintaan kalian pada ku..??”

Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata :

“Wahai manusia.. teramat sangat banyak sebenarnya yang ingin ku sampaikan kepada kalian semua, seandainya aku diberikan kemampuan bicara layaknya kalian.. yang dapat didengar dengan jelas ditelinga.. tentunya aku tak akan pernah bosan tuk menasehati.. mengingatkan.. dan membimbing kalian semua, sepanjang hari tanpa henti.. demi menuju kepada keridhaanNYA”

“Aaah sudahlah… nyatanya.. sampai dengan saat ini…. aku tidak diberikan kemampuan untuk berkata-kata seperti layaknya kalian.. yang setiap waktu bisa didengarkan ditelinga manusia… ini hanyalah sebuah kemungkinan.. seandainya…. seandainya saja aku Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya kalian wahai manusia…”

PENULIS :

Aku yang tersesat dan merindukan suara Al Quran tuk membimbingku (JANGAN KLIK DISINI)