Al Qur’an (An Nuur / Cahaya)

🕋 Al Qur’an (An Nuur / Cahaya) 🎇

Sebagaimana diketahui, salah satu sebutan lain dari Al Qur’an adalah An Nuur (Cahaya).

Secara numerik sederhana dapat dibuktikan sbb :

✒️ Al Quran terdiri dari 86 surat Makiyah dan
✒️ 28 surat Madaniyah

Nilai di atas (86 dan 28) dijumlahkan :

✒️ 8 + 6 = 14
✒️ 2 + 8 = 10
✒️ Nilai 14 + 10 = 24

Hasil nilai 24 dikonversikan menjadi nomor surat, yakni Qs. 24 An Nuur.

Selanjutnya dengan metode perkalian :

✒️ 8 × 6 = 48
✒️ 2 × 8 = 16
✒️ Nilai 48 + 16 = 64

Nilai 64 ini, ternyata terkait dengan jumlah ayat dari Qs. 24 An Nuur, yakni 64 ayat.

Selanjutnya, bila kedua nilai dari Qs. An Nuur (24 dan 64) tersebut dijumlahkan, adalah 88, dan nilai 88 ini adalah sama dengan nilai dari lafadz Al Quran (القران) :

  • ال : 31
  • ق : 21
  • ر : 10
  • ا : 1
  • ن : 25

Jumlah : 31 + 21 + 10 + 1 + 25 = 88

Terbukti.. bahwa nama lain dari Al Quran adalah An Nuur..!!

Qs. 64. At-Taghabun : 8

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Selanjutnya, dari perolehan 2 nilai pertama (14, 10) dan 2 nilai kedua (48, 16), dilanjutkan sbb :

A. Nilai 14 dan 10 :
✒️ 1 + 4 = 5
✒️ 1 + 0 = 1
✒️ Nilai 5 + 1 = 6

B. Nilai 48 dan 16 :
✒️ 4 + 8 = 12
✒️ 1 + 6 = 7
✒️ Nilai 12 + 7 = 19

Dengan perhitungan di atas diperoleh 2 nilai baru, yakni : 19 dan 6. Dimana bila kedua nilai ini diperhitungkan kembali dengan 2 metode (penjumlahan dan perkalian), menjadi sbb :

A. Metode penjumlahan :

✒️ 19 + 6 = 25

Nilai 25 ini terkait dengan nomor kenabian dari Rasulullah Muhammad SAW (Nabi ke 25), sebagai sosok suci yang menerima wahyu/risalah Al Quran/An Nuur itu sendiri

Selain itu, nilai 25 disini juga menjelaskan tentang nama lain dari Al Quran, yakni Al Furqan (Pembeda) karena Qs. Al Furqan ini adalah surat ke 25. Kitab Furqan yang diturunkan kepada nabi ke 25 (Rasulullah Muhammad SAW).

B. Metode perkalian :

✒️ 19 × 6 = 114

Nilai 114 ini jelas sekali keterkaitannya dengan jumlah surat di Al Quran.

Lantas, dari 3 nilai yang diperoleh(24, 25 dan 114), kembali perhatikan jumlah ayatnya :

  1. Qs. 24 An Nuur : 64 ayat
  2. Qs. 25 Al Furqaan : 77 ayat
  3. Qs. 114 An Naas : 6 ayat

Jumlah seluruh ayatnya adalah :

✒️ 64 + 77 + 6 = 147

Terkait dengan apakah nilai 147 ini ?

Mari kita perhatikan Qs. Muhammad, surat ke 47, sebagai sang penerima wahyu/risalah Al Quran.

✒️ Nomor surat : 47
✒️ Jumlah ayat : 38
✒️ Nilai lafadz judul surat Muhammad (محمد) :

  • م : 24
  • ح : 6
  • م : 24
  • د : 8

Jumlah : 24 + 6 + 24 + 8 = 62

Sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 47 + 38 + 62 = 147

Kembali terbukti, ternyata nilai 147 tsb, sangat terkait dengan Rasulullah Muhammad SAW, sang Al Quran yang berjalan, seseorang yang berakhlakan Al Quran. Nur Qur’an, Nur Muhammad yang menyatu dalam kemurnian risalah, petunjuk bagi seluruh ummat manusia, rahmat bagi sekalian alam.

Luar biasa, sistematika numeriknya, matematika illahiah.

Qs. 15. Al-Ḥijr : 21
Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.

Semoga bermanfaat..🙏🙏

Syaiful Husein

Tentang Maulud Nabi Muhammad SAW dan Sistem Penanggalan Islam (Sistem Hijiriyah)

Sekedar himbauan…

Terlepas dari 2 pendapat tentang pelaksanaan Hari Maulud Nabi Muhammad SAW, dimana ada yang melaksanakan dan ada juga yang melarangnya.

Inti dari penulisan ini adalah ingin menyampaikan, tentang sejauh manakah kita sudah mengenal dan mengetahui tanggal kelahiran kita menurut perhitungan penanggalan Hijriyah ? Dan lebih jauh lagi adalah, sebesar apakah kepedulian kita terhadap perhitungan penanggalan Islam tersebut (sistem Hijriyah) ?

Dalam kajian yang saya lakukan, sebagian besar jama’ah yang hadir tidak dapat menjawab dan mengetahui tanggal kelahirannya, bila dihitung dengan sistem penanggalan Hijriyah.

Bahkan, tidak hanya sampai disitu, ternyata setelah ditanyakan lebih lanjut tentang nama-nama bulan Islam (dari bulan pertama sampai bulan terakhir) pun, hampir semua tidak mengetahuinya.

  • Sedemikian tidak pentingnya kah, penanggalan sistem Hijriyah bagi ummat Islam ?
  • Sedemikian pentingnya kah, memperingati hari kelahiran (versi penanggalan Masehi), dengan mengabaikan sistem Hijriyahnya ?

Hari-hari utama yang begitu penting dalam keIslaman, dimana sebagiannya terkait pula dengan kaidah-kaidah ibadah, seluruhnya berdasarkan sistem penanggalan Hijriyah, seperti :

  • Nuzul Al Qur’an : 17 Ramadhan
  • Israa’ Mi’raj : 27 Rajab
  • Shaum : 1 – 29/30 Ramadhan
  • ‘Idul Fithri : 1 Syawal
  • Idhul Adha / Hajj : 10 Dzulhijjah
  • Tahun Baru Islam : 1 Muharam
  • Dan waktu-waktu penting keIslaman lainnya

Lantas, mengapa sistem penanggalan Islam (sistem Hijriyah) lebih TIDAK DIKENAL, bagi ummat islam itu sendiri..?

Sudah selayaknyalah, sebagai ummat Islam, kiranya harus peduli juga terhadap sistem penanggalannya.

Bukankah dalam firmanNya (Qs. 103 Al ‘Ashr), Allah bersumpah tentang waktu ?

FB_IMG_1598781017788

Artinya konsep waktu sedemikian vital dan sangat penting untuk diperhatikan !

Tentunya pesan yang dapat diambil dari sumpah Allah tersebut, selain kaidah-kaidah untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dengan amalan-amalan yang diwajibkan/disunnahkan, terkandung juga sebuah pesan penting, untuk memperhatikan tentang konsep perhitungan waktu itu sendiri, yakni sistem perhitungan masehi dan tentunya juga sistem penanggalan dalam Islam (Hijriyah) !!

Demikian disampaikan, semoga tulisan ini bermanfaat, demi menggugah kesadaran kita tentang kepedulian terhadap perhitungan waktu dalam Islam, sebagai ummat islam, tentunya SANGAT.. SANGAT.. SANGAT.. LAYAK UNTUK MENGETAHUINYA..

Wassalam

Syaiful Ipunk Husein – 0813 1724 9922

#Numerik_AlQuran

Ikhlash dan Totalitas

Artikel singkat tentang keikhlasan dan totalitas..

Surat ke 112 Al Ikhlash, terkandung di dalamnya tentang memurnikan ketauhidan, hanya kepada Allah.

Sebuah pesan tentang wujud totalitas dalam memurnikan keEsaan Allah, dimana ketergantungan seorang hamba, hanyalah kepada Allahu Shamad (Hanya kepada Allah tempat untuk meminta dan menggantungkan segala sesuatu). Yang tertera pada ayat ke 2 nya :

Allahu Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu”. (Qs. 112 Al Ikhlash 2).

Bila dibalik nomor surat (112) dan nomor ayat (2) di atas, menjadi surat ke 2 Al Baqarah ayat ke 112, yakni :

“Tidak ! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Qs. 2 : 112)

Kembali menjelaskan tentang sebuah wujud totalitas dalam ketauhidan.

LAA ILAHA ILALLAH

Tiada tuhan selan Allah, tidak ada yang patut dituhankan selain Allah, tidak ada tempat bergantung dan meminta, kecuali hanya kepada Allah..!!

Selanjutnya, nilai 112 + 2 : Jumlah surat di Al Qur’an.

Artinya… Kemana lagi kita akan menelusuri jalan ketauhidan, kalau bukan melalui petunjuk dari firmanNya sendiri, Al Qur’an Al Kariim..

Selain itu, surat Al Ikhlash, dalam urutan kronologisnya, diturunkan sebagai surat ke 22. Kemudian, nilai 22 ini kembali dikonversikan sebagai nomor surat di mushaf, yakni surat Al Hajj.

Rukun Haji, merupakan target dan tujuan/pencapaian akhir dalam Rukun Islam (Rukun ke 5/terakhir). Dimana dalam pelaksanaan ritual ibadah haji ini pun, mencerminkan sebuah wujud totalitas. Sebagaimana tercatat dalam perjalanan bersejarah nabi Ibrahim as, istrinya Siti Hajar dan putranya dan nabi Isma’il as. Bahkan nabi Ibrahim as pun dikenal sebagai Bapak Tauhid.

Perhatikan ayat terakhir dari Qs. 14 Ibrahim, (ayat ke 52), jelas sekali pesan tentang ketauhidannya :

“Dan (Al-Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.”

Semoga bermanfaat..

Syaiful Husein – 0813 1724 9922

Tentang Ulul ‘Azmi

 

Ayat yang terkait tentang Ulul ‘Azmi tertera pada ayat di  Qs. 46 Al Ahqaaf 35 (ayat terakhir).

Surat ke 46 ini adalah surat awal di Juz 26 :
💫 Qs. 46 Al Ahqaaf : 1 -35 : 35 ayat
💫 Juz 26 adalah Juz Hamim
💫 Qs. 46 : Surat Hamim ke 7 (terakhir).

Berlandaskan pesan dari konsep Hamim ini, selanjutnya dijabarkan lebih jauh tentang konektifitasnya.

💫 Lafadz Hamim, bernilai 6 (Ha) dan 24 (Mim).
💫 Bila dituliskan angkanya adalah : 24-6
💫 Lalu digabungkan menjadi : 246.

Nilai 246 ini sangat terkait dengan jumlah ayat dari 1 juz sebelum juz 26 itu sendiri, yakni juz 25 (jumlah ayatnya 246).

Juz 25 ini, dimulai oleh 8 ayat dari Qs. 41 Hamim Sajdah (satu-satunya surat Hamim yang judul suratnya mengandung lafadz Hamim) :

💫 Awal dari juz 25 : Qs. 41. 47 – 54
💫 Ayat ke 47 – 54 : 8 ayat.

Note : Ayat ke 1 – 46 nya, ada di juz 24

Selain itu, pada juz ini seluruh suratnya termasuk kelompok surat-surat Hamim, yakni surat ke 41 s.d. surat 45.

Awal dari juz 25 dimulai dengan ayat ke 47 dari Qs. 41. Hal ini jelas terkait dengan sistem 25 nabi (yang di tutup oleh nabi ke 25 : Muhammad saw), karena jelas nilai 47 ini terkoneksi dengan Qs. 47. Muhammad.

Sedangkan pada juz 26 pun, setelah Qs. 46 nya, ternyata adalah surat ke 47 (Qs. Muhammad).

Karena terkait dengan sistem kenabian, maka tentu akan terkait dengan Qs. 21 Al Anbiyaa’ (Para Nabi).

Telah disampaikan dalam beberapa kali penjabaran sebelumnya, keterkaitan nilai 21 (Qs. 21 Al Anbiyaa’) dan nilai 25 (jumlah para nabi yang wajib diimani). Dimana ayat ke 25 dari Qs. 21 Al Anbiyaa’ ini menjelaskan tentang ‘benang merah’ dari risalah seluruh para nabi, yaitu tentang KETAUHIDAN.

Qs. 21.Al-Anbiyaa’ : 25
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan selain Aku maka sembahlah Aku.

Ternyata nilai 21 dan 25 ini pun terkait dengan nilai 46 → karena : 21 + 25 = 46 ( Qs. Al Ahqaaf)

Terkait dengan sistem kenabian, ada sebuah penjelasan khusus pada ayat terakhir dari Qs. 46 ini tentang nabi-nabi dengan kriteria Ulul ‘Azmi :

Qs. 46.Al-Ahqaaf : 35
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul (Ulul Azmi) yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah tinggal hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan, kecuali kaum yang fasik.

Siapakah para nabi Ulul ‘Azmi tersebut ?

Mari kita kembali pada awal juz 25.

Karena nilai ini terkait dengan sistem nilai 21 (seperti telah dijelaskan di atas), maka selanjutnya akan diambil ayat ke 21 dari awal juz 25, yang jatuh pada Qs. 42 Asy Syuraa’ ayat ke 13, yakni :

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)._

Alhamdulillah terjawab.

Dengan sistematika numerik Al Qur’an di atas, Terbukti bahwa yang dimaksud dari 5 nabi Ulul ‘Azmi tersebut (lihat nama-nama nabi yang ada pada Qs. 42 ; 13 di atas) adalah :

💫 Nabi Nuh as : Nabi ke 3
💫 Nabi Ibrahim as : Nabi ke 6
💫 Nabi Musa as : Nabi ke 16
💫 Nabi ‘Isa as : Nabi ke 24
💫 Nabi Muhammas saw : Nabi ke 25

Memang pada ayat di atas, tidak menyebutkan lafadz nama nabi Muhammad saw, namun jelas bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang rasulullah itu sendiri ( ….”dan telah Kami wahyukan kepadamu.. / Muhammad ).

Selain itu, bila kita jabarkan lebih jauh, lafadz dari Ulul ‘Azmi (اولواالعزم) hasilnya adalah :

💫 1+26+23+26+1+31+18+11+24 = 161
💫 Nilai 161 dikurangi 114
💫 161 – 114 = 47
💫 Qs. 47 Muhammad

Ternyata, hasil jabaran dari lafadz Ulul ‘Azmi, menghasilkan Qs. 47 Muhammad, yang lafadz namanya tidak tertera pada Qs. 42 : 13 di atas.

Artinya, disini kembali menjadi penegasan bahwa Rasulullah Muhammad saw pun, termasuk dalam nabi Ulul ‘Azmi.

Uraian penutup..

Jumlah nilai dari nomor urut kenabian (5 nabi Ulul ‘Azmi), di atas adalah :

💫 3 + 6 + 16 + 24 + 25 = 74
💫 Surat ke 74 adalah Qs. Al Mudatsir, 56 ayat
💫 Nilai 74 + 56 = 130

Terkait dengan apa nilai 130 ini dengan Ulul ‘Azmi ?

Mari kembali pada uraian awal (konsep dasar) di atas, tentang 2 nilai dari 2 surat di awal juz, yakni :

💫 Qs. 41 Hamim As Sajdah : 8 ayat
💫 Qs. 46 Al Ahqaaf : 35 ayat

Jumlah ke 4 nilai di atas adalah :

💫 41 + 8 + 46 + 35 = 130

Kembali terbukti sistematika konektifitas numeriknya..!

Masyaa’ Allah. Maha Sempurna Allah, dengan segala FirmanNya.

Terimakasih, semoga manfaat..

Wassalam..

Syaiful Husein

0813 1724 9922 (WA)

BENANG MERAH RISALAH PARA NABI / RASUL

Belajar Numerik Al Quran

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..

Dengan uraian numerik Al Quran yang cukup singkat, dapat dijelaskan bahwa “Benang Merah” dari misi dan risalah para nabi yang diutus ke muka bumi ini, adalah untuk menyampakan dan menanamkan kepada ummat manusia mengenai ketinggian nilai-nilai Ketauhidan, memurnikan Ke Esaan akan Allah SWT.

Berikut penjabarannya.

Para nabi, di Al Qur’an diabadikan keberadaannya sebagai judul surat, yakni :

▶ Pada surat ke 21 Al Anbiyaa’ (Para Nabi).

▶ Surat ini berjumlah 112 ayat.

▶Bila nilai 112 ini kembali dikonversikan menjadi nomor surat, adalah Qs. 112 Al Ikhlash, dimana dari arti terjemahan yang terkandung dalam ke 4 ayatnya, sangat jelas mengandung pesan tentang memurnikan akan KeEsaan Allah SWT (Ketauhidan).

Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam uraian di bawah ini :

✴ Qs. 21 Al Anbiyaa’ (Para Nabi) 112 ayat

✴ Qs. 112 Al Ikhlash (Ikhlash / Memurnikan KeEsaan Allah / Ketauhidan)

Disinipun mengandung pesan yang sangat mendalam, bahwa untuk…

View original post 336 more words

‘PENGULANGAN’ AZAB KAUM NABI LUTH AS

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..

Telah kami sampaikan belakangan ini, beberapa artikel tentang tanda-tanda di akhir zaman.

Termasuk telah dijelaskan pula tentang peristiwa kejadian azab yang akan terjadi menjelang hari akhir (kiamat), yakni peristiwa Dukhan/asap dan munculnya Imam Mahdi.

Terkait dengan akhir zaman, tentunya sudah sama-sama diketahui juga, tentang akan diturunkannya kembali nabi Isa as, yang kelak akan ditugaskan untuk membunuh dajjal laknatullah.

Dan kemudian setelah itu, nabi Isa as, akan memimpin ummat Islam dengan adil, seadil-adilnya, diiringi pula dengan menyelesaikan tugasnya untuk meluruskan kembali kemurnian syari’at Islam, sesuai kemurnian awalnya sebagaimana yang telah Rasulullah Muhammad saw sampaikan.

Karena, pada kenyataannya sudah begitu banyak, kemurnian ajaran Islam, telah dinodai oleh propaganda busuk dan strategi keji dari dajjal laknatullah beserta para pengikutnya.

Dalam hubungannya dengan turunnya kembali nabi Isa as tersebut, terlebih dahulu diawali dengan persitiwa Dukhan yang akan menghukum dengan azab pedih bagi kaum yang tak beriman (lihat artikel sebelum ini tentang peristiwa Dukhan).

Dengan kajian numerik Al Qur’an, berikut ini akan disampaikan tentang azab pedih tersebut, yang pastinya juga akan menimpa sekelompok manusia pemuja maksiat sebagaimana yang pernah terjadi pada kaum nabi Luth as, yakni kaum homoseksual (LGBT).

Uraian kali ini, akan dimulai dengan keterkaitan sosok dari nabi Isa as, dimana keberadaan dan kelahirannya di Al Qur’an diabadikan di beberapa ayat, khususnya dalam penjabaran kali ini, akan difokuskan kaitannya dengan Qs. 19 Maryam, yang juga merupakan nama dari seorang wanita shaleha dan suci, ibundanya nabi Isa as itu sendiri.

Surat Maryam adalah surat ke 19. Dan dalam huruf hijaiyah huruf ke 19 adalah GHIN (غ). Atau dalam kesetaraan dengan huruf latinnya adalah huruf G, atau huruf ke 7.

Bila nilai 7 dan 19 ini dimasukkan ke dalam urutan kenabian dari 25 nabi, maka nabi ke 7 adalah nabi Luth as

Dan bila diurutkan dari nomor kenabian terakhir (25 / Rasulullah Muhammaf SAW), maka urutan nabi ke 19 (dari nabi terakhir) pun tepat jatuh pada nabi Luth as.
(Lihat tabel di bawah ini)

NOMOR URUT KENABIAN
————————————————————–
NO. NAMA NABI
—————————————————————-
01 Adam as → urutan ke 25 dari akhir*
02 Idris as
03 Nuh as
04 Hud as
05 Shaleh as
06 Ibrahim as
—————————————————————-
07 Luth as → urutan ke 19 dari akhir*
—————————————————————-
08 Isma’il as
09 Ishaq as
10 Ya’qub as
11 Yusuf as
12 Ayyub as
13 Dzulkifli as
14 Su’aib as
15 Yunus as
16 Musa as
17 Harun as
18 Ilyas as
19 Ilyasa as
20 Daud as
21 Sulaiman as
22 Zakaria as
23 Yahya as
24 ‘Isa as
25 Muhammad SAW →urutan ke 1 dari akhir*

Lalu, mari coba kita kalikan kedua nilai 7 dan 19 tersebut :

✒ 7 x 19 = 133
✒ Nilai 133 → 1 + 3 + 3 = 7

Nilai 133 tidak dapat dikonversikan sebagai nomor surat, karena nomor surat terakhir di Al Quran adalah 114.

Untuk itu nilai 133 terlebih dahulu dikurangi dengan nilai 114.

Sehingga :

✒ 133 – 114 = 19

Dari kedua metode hitung di atas, kembali diperoleh nilai 7 dan 19.

Dimana telah dijelaskan di atas, bahwa 7 adalah nomor kenabian dari nabi Luth as bila dihitung dari dari nabi pertama (Adam as)

Dan bila dihitung dari nomor kenabian terakhir (25) atau Rasulullah Muhammad SAW, maka nabi ke 19 dari akhir pun adalah nabi Luth as.

Ada apakah dari makna titik temu yang sama yaitu tepat pada nomor kenabian Luth as ?

Apakah azab pada zaman nabi Luth as akan terulang kembali, akibat kebejatan moral dan perilaku homoseksual yang sudah terang-terangan dilakukan saat ini ?

Qs. 11. Huud : 82

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar.

15. Al-Ḥijr : 73 – 74

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit (73), Maka Kami jungkir balikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.(74).

Pesan-pesan tersirat telah terlihat, begitu juga dengan kejadian atas kebejatan moral dan kemaksiatan telah terjadi secara terang-terangan, hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan kesungguhan dalam memperbaiki keterpurukan nilai-nilai moral yang bahkan sudah dilegalkan oleh oknum-oknum kaki tangannya dajjal laknatullah. Sebelum azab pedih dari Allah ditimpakan ke muka bumi ini.

Selanjutnya, nilai 19 bila dikonversikan menjadi nomor surat adalah Qs. Maryam, atau ibundanya nabi ‘Isa as.

Lalu lebih lanjut, nilai abjad dari lafadz Maryam (مريم) ini dijabarkan sbb :

▶ Huruf م : huruf ke 24
▶ Huruf ر : huruf ke 10
▶ Huruf ي : huruf ke 30
▶ Huruf م : huruf ke 24

Sehingga jumlah seluruhnya :

✒ 24 + 10 + 30 + 24 = 88

Surat ke 88 adalah Qs. Al Ghaasyiah (Hari Pembalasan).

Bukankah pertemuan nabi ‘Isa as dan dajjal laknatullah merupakan salah satu tanda dari akhir zaman (kiamat), dan didahului pula sebelumnya dengan peristiwa yang akan ditimpakan azab pedih, sebagai balasan atas kemaksiatan dan berbagai keingkaran sebelumnya..?

Selanjutnya…

✒ Qs. 88 Al Ghaasyiah berjumlah 26 ayat.

Kembali kepada perhitungan awal yang diperoleh nilai 7 dan 19.

Bukankah bila kedua nilai ini dijumlahkan (7 + 19) = 26 ?

Dimana nilai ini (26) adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 88, Al Ghaasyiah.

Memperhatikan nilai 7 (nomor kenabian dari nabi Luth as), ada 2 nilai lagi dari nomor kenabian yang terkait dengan nilai 7, yakni :

✒ Nabi ke 16, Musa as
✒ Karena nilai 16 → 1 + 6 = 7
✒ Dan nabi ke 25, Muhammad SAW
✒ Karena nilai 25 → 2 + 5 = 7

Dari nilai 25 (nomor kenabian dari Rasulullah Muhammad SAW), menjelaskan bahwa memang pada kenyataannya, kita sebagai ummat Islam saat ini, adalah merupakan bagian dari era ummat dari Rasulullah Muhammad SAW (yang akan mengalami seluruh kejadian di akhir zaman)

Sedangkan keterkaitan dengan nabi Musa as, akan lebih jelas terlihat melalui perhitungan sebelumnya di atas, yaitu dari perkalian dari nilai 7 x 19 = 133.

Karena dari awal penjelasan di atas jelas terlihat hubungannya dengan nabi ke 7 (Luth as), maka mari kita buka Qs. 7 Al A’raaf ayat 133 :

“Maka, Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa”.

Dari ayat tersebut pun, ternyata menjelaskan tentang azab dari Allah SWT, atas perilaku manusia yang sudah melampaui batas dalam menentang segala aturan dan ketetapan Allah SWT, pada era zaman nabi Musa as.

Lebih jauh lagi terkait dengan nilai 7, kali ini nilai 7 di deret hitungkan menjadi :

✒ 1 + 2 + 3+ 4 + 5 + 6 + 7 = 28
✒ Nilai 28 ini kembali dikaitkan dengan kenabian, dimana nilai ini (28) ternyata adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 71 Nuh.

Sebagaimana diketahui, dalam sejarahnya, azab yang terjadi pada zaman nabi Nuh as, sangatlah luar biasa, karena sampai berdampak secara global dan mendunia.

Kedua hal ini pun sangat memungkinkan kembali akan terulang, mengingat kebejatan moral yang terjadi saat ini bukan hanya terkait dengan homoseksual saja, namun masih sangat banyak kebejatan (prostitusi, zina, riba, korupsi, kecurangan, penyiksaan dan pembunuhan) serta berbagai kedzaliman lainnya yang terjadi di muka bumi ini.

Lebih jauh lagi, bila kita perhatikan nilai dari nomor surat dan jumlah ayat dari Qs. Nuh, yakni nomor suratnya 71 dan jumlah ayatnya 28, lalu kedua nilai ini dijumlahkan maka :

✒ 71 + 28 = 99
✒ Qs. 99 adalah Az Zalzalah (Goncangan) yang juga menggambarkan tentang peristiwa kiamat.

Terkait dengan nilai 99 ini, terkait juga dengan lafadz dari Mahdi (مهدى), yang kemunculannya  juga merupakan salah satu tanda di akhir zaman. Lihat tulisan sebelumnya tentang hadirnya Imam Mahdi.

Selain itu, nilai 99 ini pun terkait pula dengan nilai dari lafadz nama dari nabi Luth as, yakni :

✒ Lafadz nama nabi Luth as (لوط)
– ل : Huruf ke 23
– و : Huruf ke 26
– ط : Huruf ke 16

✒ Jumlahnya adalah 65
✒ Dalam urutan mushaf surat ke 65 adalah Qs. At Thalaq
✒ Dan surat Ath Thalaq ini pada urutan kronologis turunnya, ternyata diturunkan sebagai surat ke 99

Keterkaitan ini semakin memperjelas korelasi antara azab yang pernah terjadi pada kaum nabi Luth as, pun sangat mungkin akan terjadi kembali pada akhir zaman ini, seiring dengan azab pada peristiwa Dukhan terjadi.

Bahkan, sangat memungkinkan juga, azab-azab seperti yang pernah terjadi pada zaman nabi Musa as dan nabi Nuh as tersebut, akan terulang kembali, mengiringi azab sebagaimana yang juga pernah terjadi di zaman nabi Luth as.

Wallahu a’lam..

Sebagai uraian penutup, telah disampaikan sebelumnya tentang peristiwa akhir zaman (Dukhan). Dimana surat Ad Dukhan ini, pada urutan di mushaf Al Qur’an diabadikan sebagai surat ke 44.

Dan bila nilai 44 ini dikorelasikan dengan nomor surat yang diturunkan (sesuai kronologisnya turunnya), ternyata surat yang diturunkan sebagai surat ke 44 adalah :

✒ Qs. Maryam (Ibunda nabi Isa as).

Tentang keterkaitan nilai 19 ini dengan peristiwa di akhir zaman, telah dijelaskan di atas.

Selanjutnya, bila nilai 19 (nomor surat Maryam pada urutan mushaf), ini dijumlahkan kedua nilainya (1 dan 9) : 1 + 9 = 10 dan kemudian nilai 10 ini dikonversikan sebagai nomor ayat dari Qs. Dukhan, adalah :

44. Ad-Dukhan : 10

“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas”

Dengan keterkaitan (Qs. Maryam, turunnya Isa as dan Qs. Ad Dukhan) ini, menjelaskan bahwa, sudah barang tentu sekelompok orang yang melakukan dosa-dosa (sebagaimana yang pernah dilakukan juga oleh kaum pada masa nabi Luth as), akan terulang kembali azabnya, di akhir zaman. Bahkan jauh lebih dahsyat pedihnya. Sebagaimana yang telah dipaparkan dengan jelas dalam peristiwa Dukhan, baik melalui penjelasan berdasarkan Al Qur’an maupun hadist-hadist shahih.

—————————————————————-

Mengingat, berbagai tanda-tanda akhir zaman yang telah Rasulullah Muhammad saw sampaikan (melalui hadist-hadistnya) telah terlihat jelas di beberapa tahun belakangan ini.

Kembali penulis menyampaikan hal terkait azab pada zaman nabi Luth as (dan nabi-nabi lainnya) sangat mungkin kembali terulang, ditengah-tengah kebejatan moral yang jelas-jelas telah dilegalkan dan dianggap lumrah saat ini, bahkan sudah sampai mendunia.

Sebagai ummat Islam yang terus berupaya  istiqamah menjalankan aturan dan ketetapan Allah SWT, sudah sepatutnyalah kita perlu saling mengingatkan agar kita selalu dalam keadaan siap siaga serta waspada, dalam bentuk pertaubatan yang sesungguhnya. Demi terlindunginya orang-orang beriman yang tak bersalah, dari azab Allah SWT, akibat  segala perbuatan hina dari para penyembah syaitan yang terkutuk dan dajjal laknatullah.

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin..

Semoga bermanfaat, wassalam

Syaiful Husein
@jawara2020 – Numerik Al Quran

PERISTIWA AKHIR ZAMAN (DUKHAN / KABUT / ASAP)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dalam kajian kali ini, akan disampaikan tentang peristiwa Dukhan (Kabut/Asap), yang merupakan salah satu tanda menjelang akhir zaman (kiamat). Dan tentunya, sebagaimana biasa, analisa yang disajikan akan menggunakan metode numerik Al Qur’an.

Telah banyak kalangan tokoh-tokoh agama yang menyajikan kajian tentang hal ini, berlandaskan pada verbal terjemahan Al Quran dan referensi hadist-hadist shahih serta kitab ‘ulama. Untuk itulah, dalam kajian numerik Al Qur’an ini dihadirkan, dengan tujuan , Insyaa’ Allah, dapat melengkapi kajian-kajian yang ada sebelumnya.

Kajian ini, dimulai dengan mengamati posisi Qs. Ad Dukhan (Kabut) pada urutan kronologis diturunkannya, yakni sebagai surat yang diturunkan pada urutan ke 64.

Sedangkan pada posisi dalam mushaf Al Qur’an, surat ini diabadikan sebagai suratke 44. Atau dengan kata lain, “reposisi” surat ini mengalami pergeseran letak dengan selisih nilai nomor surat : 64 – 44 = 20.

Dengan hasil nilai selisih 20 ini, kemudian dikonversikan kepada surat yang berjumlah 20 ayat, yakni :

✒ Qs. Al Muzamil (yang berselimut)
✒ Qs. Al Balad (Negeri)

Dalam konteks peristiwa Dukhan (asap/kabut) yang merupakan salah satu tanda akhir zaman, kedua surat di atas (Qs. Al Muzamil dan Qs. Al Balad), yang memiliki arti “Yang berselimut” dan “Negeri”, dapat berkorelasi dengan makna gabungannya :

✒ Ad Dukhan : Kabut/asap
✒ Al Muzamil : Yang berselimut
✒ Al Balad : Negeri

Sehingga dengan gabungan ke 3 judul surat diatas, dapat dimaknai lebih lanjut yaitu sebagai peristiwa terjadinya “kabut/asap yang menyelimuti negeri-negeri”. Tentunya kabut yang begitu meluas kejadiannya, yang mendunia (seluruh negeri yang ada di muka bumi).

Qs. Al Muzamil berjumlah 20 ayat, begitu juga Qs. Al Balad pun berjumlah 20 ayat. Kedua nilai ini dijumlahkan menjadi : 20 + 20 = 40. Nilai 40 ini ternyata berkesesuaian dengan hadist yang menjelaskan, bahwa pristiwa terselimutinya dunia dengan kabut tersebut yaitu terjadi selama 40 hari.

Dan nilai 40 ini pun ternyata terkait juga dengan jumlah ayat dari ke 2 surat di bawah ini :

✒ Qs. Al Qiyamah (Kiamat), 40 ayat
✒ Qs. An Naba (Berita Besar), 40 ayat

Bukankah, peristiwa Dukhan ini merupakan “Berita besar” dan juga merupakan salah satu tanda yang terjadi menjelang hari “Kiamat” ?

Sebagai uraian lebih lanjut dari peritiwa besar di akhir zaman ini, kembali dijabarkan nomor surat dari Qs. 73 Al Muzamil dan Qs. 90 Al Balad, dengan penjabaran sbb :

✒ 73 + 90 = 163 dan
✒ 1 + 6 + 3 = 10

Lalu bila dirujuk juga kedua surat ini dengan sistem penomoran urutan kronologis turunnya surat, ternyata Qs. Al Muzammil diturunkan sebagai surat yang ke 3 sedangkan Qs. Al Balad diturunkan sebagai surat yang ke 35.

✒Berdasarkan nilai 3 dan 35 ini, kembali dijumlahkan menjadi : 3 + 35 = 38
✒ Dan nilai 38, ini pun kembali dijumlahkan : 3 + 8 = 11

Dalam konteks peristiwa Dukhan, maka selanjutnya ke 2 nilai di atas (10 dan 11) dikonversikan sebagai nomor ayat dari Qs. Ad Dukhan (Kabut), yaitu :

Qs. Ad-Dukhan : 10 – 11 :

“Maka tunggulah padahari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas (10), yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih (11)”.

Masyaa’ Allah.. demikian sempurna sistematika numeriknya. Menunjukkan keterkaitan yang sangat jelas, antara sistem numeriknya begitu juga dengan penjelasan verbal terjemahannya.

Masih terkait dengan nilai 20 dan 20 di atas, seperti yang banyak telah disampaikan oleh para tokoh agama belakangan ini (dengan merujuk pada hadist-hadist shahih, terkait peristiwa di akhir zaman), apakah peristiwa ini akan terjadi di tahun 2020 ini..??

Wallahu a’alam bishawab.

Kita hanya mampu berwaspada dalam keistiqamahan iman dan taqwa, agar kapan pun peristiwa itu akan terjadi, kita adalah termasuk kedalam golongan yang diselamatkan Allah (golongan orang yang beriman). Karena, nilai 40 tersebut juga terkait dengan Qs. 40 Al Mu’min (orang yang beriman).
Selanjutnya..

Nilai 64 (sebagai nomor urutan secara kronologis turunnya surat dari Qs. Ad Dukhan), bila dilihat sebagai urutan pada posisi urutan di mushaf Al Qur’an nya adalah Qs. 64 At Taghaabun (hari di ditampakkan kesalahan).

Yaa.. memang benarlah adanya, bahwa kelak pada peristiwa Dukhan tersebut, benar-benar akan diperlihatkan siapa-siapa yang diselamatkan dan yang tidak. Sesuai dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Akan terlihat jelas pada saat itu, orang-orang yang tidak beriman akan tersiksa bahkan musnah, dan sebaliknya, orang-orang yang beriman akan diselamatkan Allah.

Hal ini, secara numeriknya kembali diperlihatkan sistematikanya dengan penjumlahan dari nilai 64 dan 44 (keberadaan Qs. Ad Dukhan secara urutan kronologis turunnya dan sebagai urutan pada mushafnya), yakni :

✒ 44 + 64 = 108
✒Dan ternyata, urutan surat yang kronologisnya diturunkan sebagai surat ke 108, ternyata adalah Qs. At Taghaabun (Hari ditampakan kesalahan).

Subhanallah.. semoga kita termasuk golongan yang diselamatkan.

Kembali pada uraian di awal..

Dengan 2 posisi surat ini pada urutan kronologis turunnya dan sebagai urutan di mushafnya, yakni sebagai Qs. 44 dan Qs. 64, dapat kembali dijabarkan sbb :

A. QS. 64 AD DUKHAN (SEBAGAI SURAT YANG DITURUNKAN SEBAGAI SURAT KE 64)

Bila dikorelasikan dengan seluruh surat di Al Qur’an (1 s.d 114), posisi Qs. 64 ini, adalah sbb :
✒ Sebagai surat ke 64, berarti masih ada 63 surat sebelum surat ini (surat ke 1 sampai dengan surat ke 63) dan selanjutnya
✒ Masih ada 50 surat lagi setelahnya (surat ke 65 sampai dengan surat ke 114).

B. QS. 44 AD DUKHAN (SEBAGAI URUTAN DI MUSHAF YANG KE 44)

Bila dikorelasikan dengan seluruh surat di Al Qur’an (1 s.d 114), posisi Qs. 44 ini, adalah sbb :
✒ Sebagai surat ke 44, berarti masih ada 43 surat sebelum surat ini (surat ke 1 sampai dengan surat ke 43)
✒ Dan selanjutnya, masih ada 70 surat lagi setelahnya (surat ke 45 sampai dengan surat ke 114).

Perhatikan sistematika keterkaitan antara URAIAN A dan URAIAN B, di bawah ini :

✒ Pada URAIAN A, nilai 63 memiliki korelasi yang sangat erat dengan nilai 43 (pada URAIAN B).
✒ Karena ternyata, bila nilai 63 ini dikonversi sebagai nomor surat (berdasarkan kronologis turunnya) dan nilai 43 pun dikonversi sebagai nomor surat urutan di mushafnya, ternyata hasilnya adalah sama, yakni sebagai nomor surat dari Qs. Az Zukhruf.
✒ Sedangkan pada URAIAN B, nilai 70 yang memiliki korelasi yang sangat erat dengan nilai 44, karena Qs. 70 Al Ma’aarij ternyata berjumlah 44 ayat.

Selanjutnya..

Karena keterkaitan yang sama pada nilai 63 dan 43 di atas sebagai nomor surat yang sama, yakni Qs. Az Zukhruf, maka penjabarannya dapat dilanjutkan, sbb :
✒ Nilai 63 pada URAIAN A, dikonversikan sebagai NOMOR SURAT.
✒ Sedangkan nilai 43 (URAIAN B), dikonversikan sebagai JUMLAH AYAT.
✒ Dan ternyata nilai 43 ini merupakan jumlah ayat dari Qs. 13 Ar Ra’du (43 ayat) dan
✒ Dan nilai 50 (URAIAN A) dan nilai 70 (URAIAN B), tetap dikonversikan sebagai nomor surat.

Sehingga..

Dari URAIAN A, diperoleh 2 surat, yaitu :
✒ Qs. 63 AzZukhruf
✒ Qs. 50 Al Israa’

Dan dari URAIAN B nya, diperoleh 2 surat juga, yaitu :
✒ Qs. 13 ArRa’du
✒ Qs. 70 Al Ma’aarij

Perhatikan hasil dari penjumlahan 2 JUMLAH AYAT pada URAIAN A :

✒ Qs. 63 Az Zukhruf : 89 ayat
✒ Qs. 50 Al Israa’ : 111 ayat
✒ Penjumlahan ayatnya adalah : 89 + 111 = 200
✒ Sehubungan di Al Qur’an nomor surat tertingginya adalah 114, maka nilai 200 di atas, dikurangi nilai 114 terlebih dahulu, untuk mendapatkan nomor suratnya.
✒ Sehingga nomor suratnya adalah : 200 – 114 = 86
✒ Karena URAIAN A, terkait dengan sistem urutan kronologis turunnya surat, maka nilai 86 inipun dikonversikan sesuai nomor urutan kronologis turunnya.
✒ Dan ternyata surat yang diturunkan sebagai surat ke 86, adalah Qs. 86 Al Muthafifin

Perhatikan juga hasil dari penjumlahan 2 NOMOR SURAT pada URAIAN B :

✒ Qs. 70 dan Qs. 13, menjadi : 70 + 13 = 83
✒ Suratke 83, dalam urutan di mushaf Al Qur’an adalah Qs. 83 Al Muthafifin

Luar biasa, dengan 2 penjabaran yang berbeda di atas, ternyata hasil dari URAIAN A dan B, sama-sama menghasilkan Qs. Al Muthafifiin (Orang-orang yang curang).

Dalam konteks peristiwa Dukhan dari perolehan Qs. Al Muthafifiin ini, menjelaskan tentang golongan yang akan memperoleh balasan yang buruk, mereka benar-benar akan tersiksa dengan peristiwa Dukhan ini.

Tentunya kecurangan yang dimaksud di sini, bermakna sangat luas dalam berbagai aktifitas kehidupan. Karena dengan karakter yang curang ini tentu akan ikut menyertai pula sifat-sifat buruk yang lain, seperti kemunafikan dan kemusyrikan. Karena dalam setiap melakukan tindak kecurangan, tentu akan diiringi pula dengan karakter berbohong, tidak amanah dan berkhianat (3 ciri utama orang munafik).

Dan lebih jauh dari itu, untuk mencapai tujuan buruk dari kecurangan yang dilakukan, akan di ikuti pula dengan menyertakan bantuan-bantuan syetan terkutuk, dalam bentuk praktek perdukunan, bersekutu dengan jin. Tentunya tindakan-tindakan ini sudah masuk dalam dosa kemusyrikan.

Setelah dibahas tentang golongan yang akan sangat tersiksa pada peristiwa Dukhan tersebut, bagaimana dengan golongan yang akan diselamatkan ?

Mari kita kembali pada uraian dari Qs. Ad Dukhan.

Dalam 2 uraian sebelumnya (URAIAN A dan B), dibahas tentang 2 posisi dari Qs. Ad Dukhan, yang berjumlah 59 ayat.

Karena uraian di atas terkait dengan 2 posisi dari Qs. Ad Dukhan, maka selanjutnya jumlah ayatnya pun (59 ayat), diperhitungkan 2 kali. Atau nilai 59 ayat ini dikalikan 2, sehingga menjadi : 59 x 2 = 118

Terkait dengan apakah nilai 118 ini ?!

Ternyata nilai 118 ini terkait dengan jumlah ayat dari Qs. Al Mu’minuun (Orang-orang yang beriman).

Yaa.. demikianlah adanya, kelak pada peristiwa Dukhan tersebut, golongan orang-orang yang beriman, insyaa Allah, akan terlindungi dan diselamatkan.

Sebagai penjabaran pelengkap dan juga uraian penutup dalam kajian kali ini, kembali kepada nilai, 64.

Bila dikonversikan sebagai jumlah ayat, adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 24 An Nuur (Cahaya). Kemudian, bila nilai 24 ini diambil juga surat ke 24, dari surat terakhir di urutan mushaf Al Qur’an, yakni jatuh pada Qs. 91 Asy Syams (Matahari).

Kedua surat ini Qs. An Nuur (Cahaya) dan Qs. AsySyams (Matahari) pun terkait dengan peristiwa Dukhan tersebut, dimana selama 40 hari akibat Dukhan yang begitu tebal dan meluas ke seluruh negeri di dunia ini, sehingga cahaya matahari sampai tertutup, dan terjadi kegelapan total di seluruh dunia.

Untuk lebih menjelaskan tentang peristiwa Dukhan yang akan menutupi cahaya matahari ini, perhatikan juga tabel di bawah ini, yang terbagi dalam 3 kolom, di mana setiap kolomnya terbagi dalam 38 surat (nomor-nomor suratnya DIURUTKAN sesuai dengan urutan kronologis turunnya surat).

InShot_20200120_204422970
Catatan :
▶ Landasan 114 surat di bagi kedalam 3 kolom ini (sehingga masing-masing kolom berjumlah 38 surat) adalah sesuai dengan “rumusan” dari Qs. 38 Shaad, yang secara urutan kronologis turunnya dan juga posisinya dalam urutan mushaf Al Qur’an, TETAP BERADA pada posisi urutan ke 38.
▶ Selain itu, nilai 38 ini pun diambil sebagai rujukkan karena terkait dengan “rumusan” jumlah ayat dari Qs. Muhammad (38 ayat), sebagai sang penerima wahyu Allah (114 surat di Al Qur’an).

Perhatikan Qs. 64 Dukhan yang berada pada KOLOM TENGAH (kolom ke 2). Surat ini (lihat baris ke 26) diapit oleh 2 surat, yakni :

✒ Kolom 1 : Qs. 26 AsySyams (Matahari)
✒ Kolom 2 : Qs. 64 Ad Dukhan (Kabut)
✒ Kolom 3 : Qs. 102 An Nuur (Cahaya)

Ke 3 surat ini (TULISAN BERWARNA MERAH) semakin menjelaskan tentang peristiwa Dukhan tersebut, dimana akibat kabut/asap yang demikian tebal, maka seluruh permukaan bumi terselimuti/tertutup dan dipenuhi oleh kabut. Sehingga cahaya matahari pun tak dapat menembusnya, terjadi kegelapan total..!

An Nuur dengan peristiwa Dukhan. Lantas bagaimana keterkaitan kedua surat ini bila ditinjau melalui tabel surat sesuai urutan mushafnya ?

Untuk itu, mari kembali kita amati korelasi dari Qs. Asy Syams dan Qs. An Nuur, dengan merujuk pada tabel berdasarkan nomor-nomor surat sesuai dengan urutan pada mushaf Al Qur’an (LIHAT TULISAN BERWARNA MERAH).

Sama halnya dengan tabel sebelumnya, pembagian daftar 114 ini pun dibagi dalam 3 kolom, dimana masing-masin kolomnya terdiri dalam 38 surat. (LIHAT TABEL yang ke 2 di bawah).

DAFTAR SURAT DI MUSHAF

A. KETERKAITAN DENGAN QS. 91 ASY SYAMS (MATAHARI)

Posisi Qs. 91 Asy Syams, ternyata tepat berada pada baris ke 15, sama dengan jumlah ayat dari surat ini yakni 15 ayat. Dan pada urutan ke 15 di kolom pertama tepat jatuh pada Qs. Al Hijr yang bila disetarakan lafadznya (Hijr) memiliki kesetaraan dengan lafadz Hajr yang berarti batu.

Sedangkan pada kolom ke 2 nya, tepat jatuh pada Qs. 53 An Najm (Bintang), yang merupakan “benda langit”. Lalu apabila judul surat dari ke 3 surat ini pemaknaannya ini digabungkan :

▶️ Qs. 15 Al Hijr, bersetaraan dengan hajr (batu)

▶️ Qs. 53 Najm (Bintang) : benda langit.

▶️Qs 91 Asy Syams (Matahari) : benda langit yang memiliki suhu panas sangat tinggi

Dapat menjadi makna yang berkaitan yaitu : Bebatuan – Pecahan dari bintang (bintang berekor/meteor) – yang memiliki kadar hawa panas tinggi.

Terkait dengan konteks peristiwa Dukhan, hal inilah yang menjadi sebab terjadinya keadaan Dukhan saat itu. Dimana “hujan batu meteor” yang datang dari arah langit dan bersuhu panas  sangat tinggi dan kemudian terjadi pula “gesekan” ketika melintasi atsmosfir menuju bumi, mengakibatkan peristwa dahsyat berupa Dukhan (kabut) yang luar biasa tebal dan akan menyelimuti serta menutupi dunia.

B. KETERKAITAN DENGAN QS. 24 AN NUUR (CAHAYA)

Posisi Qs. 24 An Nuur ini, berada pada baris ke 24, berada pada kolom pertama. Sedangkan pada kolom keduanya adalah Qs. 62 Al Jum’ah dan kolom ke tiga nya adalah Qs. 100 Al ‘Aadiyat.

Perhatikan kolom keduanya, dimana tepat jatuh pada surat ke 62 (Al Jum’ah / Hari Jum’at). Nilai dari nomor surat ini (62), ternyata juga merupakan jumlah ayat dari Qs. 53 An Najm (pada penjabaran A di atas). Dan sama-sama berada pada kolom yang ke 2.

Dengan keterkaitan ini, menunjukkan sebuah “indikasi/tanda” keterkaitan “hujan batu/meteor” dari langit ini dengan “hari Jum’at”. Apakah ini merupakan sebuah pesan, bahwa peristiwa itu akan terjadi pada hari Jum’at ? Wallahu a’lam.

Lantas bagaimana keterkaitan peristiwa Dukhan ini dengan Qs. 100 Al ‘Aa diyat (Kuda Perang) ?

Perhatikan verbal terjemahan dari surat ke 100 ini pada 4 ayat awalnya :

“Demi kuda yang berlari kencang (1), dan kuda yang memercikan api (2), dan kuda yang menyerang tiba-tiba pada waktu subuh/pagi (3), sehingga menerbangkan debu (4)

Bila makna ini dikorelasikan dengan peristiwa “hujan batu meteor”, akan menggambarkan sebuah keadaan yang memiliki kesamaan makna, dimana hujan batu meteor tersebut bagaikan “kuda-kuda” yang “berlari kencang” menghampiri bumi, memercikkan api (tentunya api akan menghasilkan panas), sehingga memberikan dampak debu yang berterbangan (debu di sini adalah perumpaan makna dampak kabut yang terjadi).

Pemaknaan di atas akan semakin jelas dengan sistematika numerik dari lafadz yang terkandung pada lafadz judul surat ini, yakni ‘Aadiyat (عديت) yang bila dijabarkan nilai abjad numeriknya adalah :

▶️ ع : Abjad ke 18
▶️ د : Abjad ke 8
▶️ ي : Abjad ke 30
▶️ ت : Abjad ke 3

Sehingga jumlah seluruhnya adalah : 18 + 8 + 30 + 3 = 59.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, bahwa nilai ini sangat terkait dengan Qs. Ad Dukhan, karena nilai ini (59) adalah merupakan  jumlah ayat dari Qs. Ad Dukhan.

Artinya, dapat disimpulkan, bahwa Qs. Al ‘Aadiyat ini pun memiliki keterkaitan yang erat dalam penjelasan dari peristiwa Dukhan itu sendiri. Terlebih bila secara lengkapnya lafadz judul ini diambil kelengkapannya dengan disertai huruf awalnya (ال) yang bernilai 31, sehingga total keseluruhan dari lafadz ini menjadi :

▶️ 31 + 18 + 8 + 30 + 3 = 90
▶️ Nilai ini terkait dengan penjabaran di awal tentang Qs. 90 Al Balad (20 ayat)

Kembali pada Qs. 62 (Al Jum’ah) pada kolom kedua. Surat ini berjumlah 11 ayat, sehingga bila dijumlahkan nomor surat dan jumlah ayatnya akan menghasilkan nilai :

▶️ 62 + 11 = 73
▶️ Nilai ini pun ternyata sangat terkait dengan penjabaran di awal tentang Qs. 73 Al Muzammil (Yang berselimut), dengan jumlah 20 ayat.

Subhanallah, Alhamdulillaah, Allahu Akbar dan segala pujian hanya untuk Allah semata, yang telah menata dan menetapkan setiap kejadian di akam semesta ini, sedemikian sempurna kerapian sistematikanya, termasuk “tercatat” pula kesempurnaan itu dalam setiap makna tersurat dan tersirat yang terkandung dalam Kitab Suci-Nya, Al Qur’an Al Kariim, Kitab Petunjuk tentang segala kejadian dan peristiwa yang telah DitetapkanNya.

________________________________________________

Referensi-referensi lain tentang peristiwa Dukhan :

Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Hudzaifah bin Usaid radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda : bencana penenggelaman manusia ke tanah di negeri barat, negeri timur dan di jazirah Arab, terjadi ad Dukhan, munculnya dajjal, munculnya dabbah, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, munculnya api yang keluar cekungan Aden yang mengusir manusia” (HR. Muslim no.2901).

Dari Abu Malik Al Asy’ari radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya Rabb kalian memperingatkan kalian dari tiga hal : asap/Dukhan yang jika mengenai orang Muslim maka mereka merasakan seperti pilek, sedangkan jika mengenai orang kafir maka mereka akan sesak nafas dan keluar cairan dari kuping mereka, kemudian yang kedua munculnya dabbah dan yang ketiga munculnya dajjal” (HR. Thabrani, dihasankan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 7/235).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
“Akan datang Dukhan (asap) kepada manusia di hari kiamat, yang memasuki pernapasan mereka, sehingga mereka akan merasakan seperti pilek” (HR. Muslim no.2798).

Dalam riwayat Hudzaifah bin Usaid radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda :
“Dukhan itu memenuhi timur dan barat. Tinggal selama 40 hari. Untuk orang mukmin, mereka terkena paparan sehingga seperti orang pilek. Sementara orang kafir, seperti orang mabuk. (Tafsir at-Thabari, 25/68).

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
“Pada ummat ini akan terjadi (di akhir zaman) penenggelaman bumi, hujan batu dan pengubahan rupa”, ada seorang dari kaum muslimin yang bertanya, “Kapankah peristiwa ini akan terjadi ?”, Rasulullah menjawab, “Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamr telah dianggap halal” (HR. Tirmizi No. 2212, Ibnu Majah No. 4060).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abdullah bin Abu Malikah, ia berkata :
“Pada suatu pagi saya pergi kepada Ibnu Abbas. Maka ia berkata, “Malam tadi aku tidak dapat tidur sampai pagi”. Aku bertanya, “Apa sebabnya”, beliau menjawab : “Karena orang-orang berkata bahwa bintang berekor sudah terbit, maka saya cemas akan kedatangan Dukhan yang sudah mengetuk pintu, sehingga saya tidak dapat tidur sampai pagi”.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mencantumkan perkataan Ali bin Abi Thalib yang berbunyi :
“Dukhan belum terjadi, orang mukmin akan menjadiseperti orang pilek. Lalu asap itu menghembus orang kafir sampai binasa.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/249).

Selain itu, Ibnu Umar pun mengatakan :
“Akan keluar Dukhan, lalu orang mukmin terkena imbasnya hingga seperti orang pilek. Lalu asap ini masuk ke telinga orang kafir dan munafik sehingga kepala mereka seperti kepala hewan panggang.” (Tafsir at-Thabari, 22/17).

Setelah Ibnu Katsir menyebutkan riwayat yang mendukung tentang keberadaan Dukhan di masa mendatang, lalu beliau mengatakan :
Demikian pendapat masalah Dukhan, dari kalangan sahabat, dan tabiin, disertai hadis marfu’, yang shahih, hasan, maupun yang lainnya, yang kami sebutkan, merupakan dalil yang jelas bahwa Dukhan termasuk tanda kiamat yang masih ditunggu (belumdatang), disamping itu sesuai dengan makna teks al-Quran. (Tafsir Ibn Katsir, 7/249)

Akhirul kalam, demikian tulisan singkat ini penulis sampaikan. Semoga menjadi motivasi, agar kita ummat Islam selalu mewaspadai setiap peristiwa besar yang akan terjadi di akhir zaman, dalam keistiqamahan iman dan taqwanya.

AamiinYaaRabbal ‘Aalamiin..
Wassalam

SyaifulHusein – 0813 1724 9922
@Jawara2020-Numerik Al Quran

Tentang Maulud Nabi Muhammad SAW dan Sistem Penanggalan Islam (Sistem Hijiriyah)

Terlepas dari 2 pendapat tentang pelaksanaan Hari Maulud Nabi Muhammad SAW, dimana ada yang melaksanakan dan ada juga yang melarangnya.

Inti dari penulisan ini adalah ingin menyampaikan, tentang sejauh manakah kita sudah mengenal dan mengetahui tanggal kelahiran kita menurut perhitungan penanggalan Hijriyah ? Dan lebih jauh lagi adalah, sebesar apakah kepedulian kita terhadap perhitungan penanggalan Islam tersebut (sistem Hijriyah) ?

Dalam kajian yang saya lakukan, sebagian besar jama’ah yang hadir tidak dapat menjawab dan mengetahui tanggal kelahirannya, bila dihitung dengan sistem penanggalan Hijriyah.

Bahkan, tidak hanya sampai di situ, ternyata setelah ditanyakan lebih lanjut tentang nama-nama bulan Islam (dari bulan pertama sampai bulan terakhir) pun, hampir semua tidak mengetahuinya.

📝Sedemikian tidak pentingnya kah, penanggalan sistem Hijriyah bagi ummat Islam ?

📝 Sedemikian pentingnya kah memperingati tanggal kelahiran kita versi penanggalan masehi ? Sehingga tanggal sistem Hijriyahnya tidak perlu diketahui, diabaikan begitu saja ?

Hari-hari utama yang begitu penting dalam keIslaman, dimana sebagiannya terkait pula dengan kaidah-kaidah ibadah, seluruhnya berdasarkan sistem penanggalan Hijriyah, seperti :

  • Nuzul Al Qur’an : 17 Ramadhan
  • Israa’ Mi’raj : 27 Rajab
  • Shaum : Ramadhan
  • ‘Idul Fithri : Syawal
  • Rukun Hajji/ Idhul Adha : Dzulhijjah
  • 1 Muharam : Tahun Baru Islam

Lantas, mengapa sistem penanggalan Islam (sistem Hijriyah) lebih TIDAK DIKENAL, bagi ummat islam itu sendiri..?

Sudah selayaknyalah, sebagai ummat Islam, kiranya harus peduli juga terhadap sistem penanggalannya.

Bukankah dalam firmanNya (Qs. 103 Al ‘Ashr), Allah bersumpah tentang waktu ?

Artinya konsep waktu sedemikian vital dan sangat penting untuk diperhatikan !

Tentunya pesan yang dapat diambil dari sumpah Allah tersebut, selain kaidah-kaidah untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dengan amalan-amalan dan ibadah yang diwajibkan/disunnahkan, terkandung juga sebuah pesan penting, untuk memperhatikan tentang konsep perhitungan waktu itu sendiri, yakni sistem perhitungan masehi dan tentunya juga sistem penanggalan dalam Islam (Hijriyah) !!

Demikian disampaikan, semoga tulisan ini bermanfaat, demi menggugah kesadaran kita tentang kepedulian terhadap perhitungan waktu dalam Islam, sebagai ummat islam, tentunya SANGAT.. SANGAT.. SANGAT.. LAYAK UNTUK MENGETAHUINYA..

Wassalam

Syaiful Ipunk Husein

@jawara2020-Numerik_AlQuran

Lailatul Qadr

💫 Tentang Al Lail dan Al Qadr 💫

Bila selama ini sering dibahas, numerik Al Quran melalui nomor-nomor surat sesuai urutan di mushaf, mari kali ini kita bahas dari nomor-nomor surat sesuai urutan kronologis turunnya.

Tabel 114 surat menurut kronologis turunnya :

FB_IMG_1579175384766

Tentunya masih terkait dengan Lailatul Qadr. Dengan merujuk pada surat Al Lail dan Al Qadr.

✴ Surat Al Lail, diturunkan sebagai surat ke 9.
✴ Surat Al Qadr, diturunkan sebagai surat ke 25.

Mari kita lihat koneksinya dengan nomor urutnya di versi mushaf.

✴ Surat ke 9 At Taubah, bulan ke 9 Ramadhan, bulan taubat
✴ Surat ke 25 Al Furqan (Al Quran), nabi ke 25 Muhammad SAW.

“Al Quran diturunkan pada bulan Ramadhan, di malam Lailatul Qadr, kepada Rasulullah Muhammad SAW”

Sangat jelas keterkaitannya bukan..?

Kita lanjutkan..(dengan nomor urut krnologis turunnya) :

✴ Jumlah ayat surat Al Lail : 21 ayat
✴ Jumlah ayat surat Al Qadr : 5 ayat

Sehingga no surat dan jumlah ayatnya ditambahkan :

✴ Nilai di surat Al Lail : 9 + 21 = 30
✴ Nilai di surat Al Qadr : 25 + 5 = 30

Ternyata sama-sama menghasilkan nilai 30..! Atau sama dengan jumlah juz di Al Quran.

Masih dapat dilanjutkan (dari penjabaran sebelumnya) :

Uraian A :
✴ 9 + 2 + 1 = 12
✴ 2 + 5 + 5 = 12
Jumlah = 12 + 12 = 24

Uraian B :
✴ 9 + 2 + 1 = 12 → 1 + 2 = 3
✴ 2 + 5 + 5 = 12 → 1 + 2 = 3

✅ Jumlah = 3 + 3 = 6

Uraian A + B = 24 + 6 = 30

Hasil akhirnya pun bernilai 30 (jumlah juz di Al Quran)

Dan bukan kah, di bulan ini moment bertadarus Al Quran 30 juz, dicanangkan..?

Lantas apakah keterkaitan 30 juz dengan Lailatul Qadr..?

(Pada gambar yang dilampirkan, akan diperlihatkan ttg keterkaitannya).

FB_IMG_1579175373356FB_IMG_1579175378431

Yaa.. pencapaian Lailatul Qadr ternyata sangat terkait dengan upaya pengenalan akan diri kita sendiri. Kenal diri, tau akan batasan diri, dalam rangka menggapai kesadaran diri sebagai hamba Allah, yang selalu berupaya menggapai nilai-nilai taubat (pembersihan diri) dalam arti yang sesungguhnya, sehingga kelak akan memperoleh predikat sebagai hambaNya yang beriman, taat dan bertaqwa.

Jalur pengenalan diri adalah merupakan jalur dalam pencapaian pengenalan akan Rabb kita, Allah SWT. Kenalilah diri mu maka kelak kamu akan mengenali Rabb mu.

 

Adakah nilai yang lebih baik dari pada pencapaian pengenalan akan diri Nya..?

Yaa.. itulah pencapaian Lailatul Qadr.. pencapaian tertinggi menuju pendekatan diri ke wilayah dimensi RidhaanNya, keMahaanNya. Sedekat mungkin. Butuh proses.. butuh ikhtiar.. butuh waktu..!

Sehingga, dapat disadari bahwa inti dari pencapaian Lailatul Qadr adalah ketika Al Quran (kepahaman akan ilmunya) diperkenankan Allah SWT untuk turun ke dalam qalbu kita, sehingga kemudian dapat diimplementasikan dalam kehidupan dan mampu memberikan manfaat kepada orang banyak. Hubungan dengan sesama makhluk dan hubungan kepada Allah, selalu diupayakan dalam pembenahan tanpa henti.

Dan parameter pencapaian tersebut akan terlihat dari indikasi dari perubahan akhlaq kita yang semakin bertambah baik dan meningkat kualitas ibadahnya.

Seandainya, setiap malam di bulan Ramadhan diupayakan terus untuk mendapatkan Lailatul Qadr, tentu dari sisi dimensi waktu akan dapat diraih.

Namun, apabila setelah pencapaian itu ternyata tidak memberikan dampak positif kepada perbaikan akhlaq dan bertambahnya kualitas ilmu dan ibadah kita..?? lantas.. kemanakah perginya pencapaian keberkahan Lailatul Qadar yang “sesolah-olah” sudah kita raih tersebut..?

Perlu direnungkan kembali, himbauan, teguran dan peringatan Allah dalam Firman-FirmanNya, agar kita selalu menggunakan akal dan dituntut untuk selalu berfikir atas setiap pesan yang Dia sampaikan. Baik melalui Al Quran maupun melalui Sunnah RasulNya.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang dapat meraih keberkahan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan tahun ini, dalam arti yang sesungguhnya…

 

Syaiful Husein – 0813 1724 9922

@jawara2020 – Numerik Al Qur’an

Tentang Kesamaan Nama Antara Imam Mahdi dan Rasulullah Muhammad saw.

Dalam sebuah referensi hadist shahih, dikatakan :

Dari Al-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, yakni :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ العَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي

Dari Abdullah bin Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak kiamat dunia ini sampai seorang laki-laki dari ahli baitku menguasai bangsa Arab. *Namanya sesuai dengan namaku* . (HR. Al-Tirmidzi)_

Berdasarkan hadist di atas, jelas bahwa Imam Mahdi pun bernama Muhammad Bin Abdullah, sebagaimana nama dari baginda Rasulullah Muhammad saw.

Sebagaimana referensi dari hadist di atas, selanjutnya kita akan coba menganalisanya dengan menggunakan metode numerik Al Quran, dimulai dengan penjabaran dari lafadz Mahdi sbb (مهدى) :

InShot_20200115_094210623

✒ م : huruf ke 24
✒ ه : huruf ke 27
✒ د : huruf ke 8
✒ ى : huruf ke 40

Jumlah nilai abjadnya adalah :

▶ 24 + 27 + 8 + 40 = 99

Catatan :
▶ Dalam parameter numerik Al Qur’an, huruf Ya dengan titik (ي) dibedakan dengan huruf Ya tanpa titik (ى)
▶ Dimana huruf Ya bertitik (ي) nilainya 30, sedangkan Ya tanpa titik (ى) nilainya adalah 40.

Kemudian, untuk keterkaitan persamaan nama ini, akan lebih jauh kita analisa, dengan menyertakan lafadz dari Muhammad (محمد), dengan uraian sbb :

Nilai lafadz Muhammad (محمد) :

InShot_20200116_174514359

 

✒ م : huruf ke 24
✒ ح : huruf ke 6
✒ م : huruf ke 24
✒ د : huruf ke 8

Jumlahnya adalah : 62

Kemudian masing-masing hasil penjumlahan dari latadz Mahdi dan Muhammad, kembali dijumlahkan :

✒ Penjumlahan keduanya : 99 + 62 = 161
✒ Jumlah surat di Al Qur’an adalah 114, artinya tidak ada surat ke 161
✒ Untuk itu nilai 161 dikurangi terlebih dahulu dengan nilai 114 untuk diperoleh nomor suratnya
✒ Sehingga diperoleh nilai : 161 – 114 = 47
✒ Surat ke 47 adalah Qs. Muhammad.

Masyaa Allah.. ternyata hasil penjumlahan dari nilai lafadz Mahdi dan Muhammad, menghasilkan nomor surat Qs. Muhammad di Al Qur’an !!

Benar-benar terbukti hadist Rasulullah di atas yang mengisyaratkan tentang kesamaan nama antara nama Imam Mahdi dan dirinya (Muhammad).

Penjabaran di atas akan semakin diperkuat lagi, dengan uraian selanjutnya.

Perhatikan kembali penggabungan nilai dari lafadz Muhammad dan Mahdi, bila digabungkan dalam satu uraian, di bawah ini :

Lafadz Muhammad dan Mahdi :

 م + م = 24 + 24 = 48 ◀️
ح + ه = 6 + 27 = 33 ◀️
م + د = 24 + 8 = 32 ◀️
د + ى = 8 + 40 = 48 ◀️

Jumlah gabungan keseluruhan abjadnya : 161

Bila nilai gabungan abjad di atas dikonversikan sebagai nomor surat, maka dapat dilihat sbb :

▶ Qs. 48 Al Fath.     : 29 ayat
▶ Qs. 33 Al Ahzab  : 73 ayat
▶ Qs. 32 As Sajdah : 30 ayat
▶ Qs. 48 Al Fath.     : 29 ayat

Jumlah keseluruhan ayatnya : 161

Dengan uraian di atas sama-sama diperoleh nilai 161 !!

Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa bila nilai 161 dikurangi nilai 114 adalah :

▶ 161 – 114 = 47

Artinya, baik ditinjau dari penjumlahan gabungan abjadnya maupun konversi nomor suratnya (dijumlahkan ayat-ayatnya), keduanya menghasilkan nilai yang sama, yakni 47.

Atau dengan kata lain, ada 2 nilai 47 (Qs. Muhammad), yang dapat pula dikorelasikan sbb :

▶ Qs. 47 Muhammad pertama adalah sebagai Rasulullah saw
▶ Qs. 47 Muhammad kedua, adalah dalam korelasinya nama Muhammad sebagai nama dari Imam Mahdi.

Lantas bila dijumlahkan ke 2 nilai 47 tersebut adalah :

▶ 47 + 47 = 94

Terkait dengan apakah nilai 94 di sini..?

Ternyata nilai 94 ini terkait juga dengan jumlah nilai dari lafadz nama dari nabi Ibrahim as, seperti penjabaran sbb :

InShot_20200116_182307181

 

 ا : Huruf ke 1 ◀️
ب : Huruf ke 2 ◀️
ر : Huruf ke 10 ◀️
ه : Huruf ke 27 ◀️
ي : Huruf ke 30 ◀️
م : Huruf ke 24 ◀️

Jumlahnya adalah : 94

Semakin jelas sekarang, bukan kah nabi Ibrahim as adalah kakek leluhurnya dari Rasulullah Muhammad saw ?

Hal ini juga membuktikan bahwa misi dari Imam Mahdi di akhir zaman kelak, adalah dalam rangka memurnikan ketauhidan kepada Allah SWT, sebagaimana yang diteladani jauh sebelumnya oleh Rasulullah Muhammad saw dan nabi Ibrahim as (Bapak Tauhid).

Masyaa Allah, kembali terlihat sistematika sempurna dari nilai-nilai numerik Al Qur’an, kitab terbenar kitab termurni, sistematika yang hanya mungkin diciptakan oleh Allah, mustahil ada makhluk-Nya yang akan mampu menciptakan sistematikan demikian sempurnanya.

Begitu juga dengan misi dari nabi Isa as dan Imam Mahdi, adalah untuk mengembalikan kemurnian risalah dari Rasulullah Muhammad saw, yang telah banyak di rusak dan dikotori oleh musuh-musuh Islam, kaki tangannya dajjal laknatullah.

Keterkaitan ini juga akan diulas melalui lafadz dari nama nabi Isa as dan Imam Mahdi, yaitu :

✒ Nilai lafadz nama nabi Isa as : 100

images (24)

ع  : huruf ke 18
ي  : huruf ke 30
س : huruf ke 12
ى  : huruf ke 40

Jumlahnya : 100

✒ Nilai lafadz Mahdi : 99
✒ Jumlah dari keduanya : 100 + 99 = 199
✒ Untuk mendapatkan nomor suratnya, nilai 199 ini dikurangi 114
✒ 199 – 114 = 85

Ternyata nilai 85 ini pun terkait juga dengan Qs. 47 Muhammad, 38 ayat. Karena jumlah dari nomor surat + jumlah ayatnya : 47 + 38 = 85.

Bila lebih jauh nilai 85 ini adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 40 Al Mu’min. Bukankah kelak Imam Mahdi muncul dan dibai’at pada usia 40 tahun ? Sama halnya dengan usia Muhammad, ketika diangkat menjadi Rasulullah.

Allahu Akbar.. demikian sempurna sistematika numeriknya..!!

Dalam mengemban misinya (nabi Isa as dan Imam Mahdi) di akhir zaman kelak, untuk memurnikan risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad saw, tentunya tak akan lepas pula dari misi untuk memurnikan ketauhidan yang jauh sebelum itu telah disampaikan pula oleh sang Bapak Tauhid, kakek leluhurnya Rasulullah Muhammad saw, yaitu Ibrahim as.

Sebagaimana tulisan sebelumnya, hal tentang misi ketauhidan ini juga tersirat dalam kandungan nilai-nilai numerik yang ada pada Qs. 61 Ash Shaff.

Demikian penjelasannya :
▶ Penegasan kepada bani Israil tentang akan hadirnya, nabi terakhir, setelah nabi ke 24 (Isa as), di isyaratkan pada ayat ke 6 nya :

Qs. 61. Aṣh-Ṣhaff : 6

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

▶ Ayat ini tertera pada ayat ke 6. Hal ini bila dikoneksikan dengan nomor kenabian yang ke 6, adalah nabi Ibrahim as.
▶ Jumlah keseluruhan ayat pada Qs. Ashaf ini adalah 14 ayat.
▶ Bila nilai ini dikonversikan sebagai nomor surat akan terkait juga dengan nabi Ibrahim as juga, karena surat ke 14 adalah Qs. Ibrahim.

Dari nilai 6 dan 14 di atas, sama-sama terkait dengan nabi Ibrahim as (yang dikenal pula gelarnya sebagai Bapak Tauhid).

Selanjutnya, bila diperhitungkan lebih jauh lagi, dapat dilihat dalam uraian dibawah ini :

▶ Selisih dari nilai 14 dan 6 adalah : 14 – 6 = 8
▶Nilai 8 ini kembali dikoneksikan dengan nomor kenabian
▶ Dan yang diangkat oleh Allah sebagai nabi ke 8, adalah nabi Isma’il as, putranya nabi Ibrahim as.

Dalam jalur silsilahnya Rasulullah Muhammad as adalah melalui jalur garis keturunannya nabi Isma’il as. Sedangkan nabi Isa as, melalui jalur garis keturunan nabi ke 9, Ishaq as yang juga merupakan putra dari nabi Ibrahim as.

Bahkan sampai kapan waktunya Rasulullah Muhammad saw akan dihadirkan ke muka bumi ini, tersirat juga dalam nilai numerik di surat ini. Sesuai penjelasan di bawah ini :

▶ Nilai 14 dari Qs. Ash Shaff ini kembali dilanjutkan uraiannya.
▶ Nilai 14 ini dihitung nilai deret hitungnya, yakni : 1+2+3+4+5+6+7+8+9+10+11+12+13+14
▶ Dan hasilnya adalah 105
▶Konversi dari nilai 105 ini bila menjadi nomor surat adalah Qs. 105 Al Fiil (Gajah)
▶ Dimana surat ini terkait dengan pristiwa saat pasukan gajah dari raja Abrahah menyerang Mekkah untukmenghancurkan Ka’bah.
▶Dimana pristiwa tersebut bertepatan pula dengan tahun kelahiran Rasulullah Muhammad saw, yang dikenal umum sebagai tahun gajah.

Luar biasa keterkaitan sistematika numeriknya, ternyata sangat selaras dan saling menguatkan dengan kaidah verbal terjemahannya.

Dimana dari terjemahan verbal kalimatnya mengisyaratkan tentang penegasan Rasulullah Muhammad akan hadir setelah nabi Isa as, sedangkan sistematika numeriknya semakin memperkuat keterangannya tentang jalur garis keturunannya, bahkan sampai waktu kelahiran Rasulullah Muhammad saw.

Memang begitulah adanya Al Qur’an, kelengkapan verbal dan numeriknya saling bersinergi, berdampingan saling menguatkan dalam sebuah harmonisasi sistematika yang begitu sempurna.

Telah disampaikan pada tulisan sebelumnya, bahwa terdapat dua pesan penting dari Qs. Ash Shaff ayat ke 6 ini, yaitu :

▶ Dalam masa kenabian Isa as, ayat ini adalah sebagai penegasan kepada bani Isra’il saat itu, tentang akan hadirnya nabi terakhir setelah Isa as, yaitu Rasulullah Muhammad saw.
▶ Dan terkandung pula pesan untuk di akhir zaman kelak, yakni pesan tentang akan kehadiran Imam Mahdi (yang memiliki kesetaraan nama dengan Rasulullah Muhammad saw), bersama nabi Isa as dalam misi mengembalikan Islam kepada kemurnian-Nya (sesuai dengan risalah yang telah disampai oleh Rasulullah Muhammad saw), dengan memerangi, menaklukan dan membunuh dajjal laknatullah yang telah merusak dan mengotori, kemurnian dan kesucian Islam.
▶ Hal ini, dapat dijelaskan dari kaidah numerik yang terkandung dalam Qs. Ash Shaff, yaitu sebagai surat ke 61 dan berjumlah 14 ayat.
▶ Karena bila dijumlahkan kedua nilai tersebut menjadi : 61 + 14 = 75
▶ Sedangkan surat ke 75 adalah Qs. Al Qiyamah (Kiamat).
▶ Bukankah diturunkannya kembali nabi Isa as dan munculnya Imam Mahdi, adalah merupakan peristiwa di akhir zaman, menjelang kiamat ?

Sebagai penjabaran penutup, kembali kita perhatikan Qs. 61 Ash Shaff ini, dengan penjelasan sbb :

▶ Ayat terakhirnya adalah (Qs. 61. Aṣh-Ṣhaff : 14)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.“

✒ Amanah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menolong Agama Allah, berbuat yang terbaik untuk Islam.

✒ 61 + 14 = 75, Qs. 75 adalah Al Qiyamah (kiamat). Sebagaimana disebutkan pada ayat diatas tentang nabi Isa as, bukankah beliau yang akan dihadirkan di akhir zaman menjelang kiamat ?

✒ Dimanakah posisi kita saat ini, di era akhir zaman, yang sudah begitu banyak pertanda kiamat segera tiba ? Di barisan yang akan ikut berjuang dengan Imam Mahdi dan nabi Isa as, atau malah justru berada di barisan musuh Islam yang dipimpin oleh dajjal laknatullah ??!

▶ selanjutnya, nilai dari Qs. 61 ayat ke 14 di atas, bila digabungkan variabelnya menjadi : 6114

▶ Nilai 6114 ini, dapat dikorelasikan juga dengan surat ke 6 ayat 114 (Qs. 6. Al-An’aam : 114).

“Pantaskah aku mencari hakim selain Allah padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu secara rinci ? Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui benar bahwa (Al-Qur’an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

✒ Allah SWT, telah menurunkan dan menetapkan, Al Quran adalah kebenaran dari-Nya, sebagai petunjuk utama, pedoman terbaik kepada manusia dalam mengemban amanahnya sebagai khalifah.

✒ Berbuatlah yang terbaik untuk Islam dengan landasan Al Quran, tanpa sedikitpun keraguan dan serahkan hasil terbaiknya kepada Allah SWT, Sang Maha Hakim.

Islam mustahil bangkit, tanpa kesadaran dari ummatnya untuk kembali kepada Al Quran.

Semoga manfaat.

Syaiful Husein – 0813 1724 9922
@jawara2020 – Numerik Al Qur’an