Tentang Gunung Berapi berdasarkan Analisa Numerik Al Qur’an

Dalam Al Quran, Gunung diabadikan sebagai judul surat ke 52 (Ath Thur), yang berarti Gunung/Bukit.

Bila nilai 52 dikonversi menjadi jumlah ayat, ada 3 surat yang memiliki jumlah 52 ayat, yakni :

🌋Qs. 14 Ibrahim
🌋 Qs. 68 Al Qalam
🌋 Qs. 69 Haaqah

Analisa lebih lanjut :

🌋 Qs 14 Ibrahim

Dalam keterkaitannya dengan gunung, surat ini terkoneksi dengan simbol ‘api’, karena dalam sejarahnya nabi Ibrahim as mengalami ujian dengan pristiwa dibakar hidup-hidup oleh raja Namruz. Namun tidak berhasil membakar nabi Ibrahim as sama sekali.

Sehingga bila kembali dikaitkan dengan sebuah gunung, hal ini merupakan simbol dari jenis gunung berapi.

Mari kembali perhatikan nilai dari Qs. 14, 52 ayat.

Bila dijumlahkan ke 4 digitnya menjadi :

➡ 1 + 4 + 5 + 2 = 12
➡ Surat ke 12 adalah Yuusuf : 111 ayat

Apa keterkaitannya dengan surat ini ? Perhatikan :

Qs. 12 Yuusuf terpecah dalam 2 juz (Juz 12 dan 13).

➡ Pada juz 12 : Qs. 12 nya terdiri dari 52 ayat
➡ Nilai 52 ini kembali terkait dengan Qs. 52 At Thuur

Selanjutnya Qs. 12 juga ada di juz 13 :

➡ Pada juz 13 : 59 ayat
➡ Nilai 5 + 9 : 14
➡ Nilai 14 terkait kembali dengan Qs. 14 Ibrahim, 52 ayat
➡ Dalam kaitannya dengan Qs. 59 adalah Qs. 59, Al Hasyr (Pengusiran)

Bukankah setiap reaksi gunung berapi mengakibatkan penduduknya menjadi “terusir” atau lebih dikenal dengan istilah evakuasi, bahkan bila kondisinya sudah dalam tahap berbahaya berlanjut dengan pengungsian penduduk ke lokasi yang lebih aman (terusir dari tempat semula).

Kemudian bila nilai 111 dari jumlah dari Qs. 12 ini dikonversi menjadi nomor surat ke 111 adalah Qs. Al Lahab, atau berarti Gejolak Api.

Nah, semakin jelas bukan dengan keterkaitannya dengan Gunung Berapi ?

🌋 Qs. 68 Al Qalam

Surat ini diawali oleh huruf (ن) Nun, atau surat ini juga sering disebut sebagai surat Nun.

Dalam keterkaitannya dengan gunung, huruf Nun (ن), huruf ke 25 dalam abjad hijaiyah dimana nilai 25 ini adalah kebalikan dari nilai 52. Sehingga bila diperhatikan lebih dalam, seperti bentuk kawah gunung. Dan tentu hal inipun juga terkait dengan gunung berapi. Karena bila 2 digit nilai suratnya yaitu 6 dan 8, dijumlahkan menjadi : 6 + 8 = 14.

Nilai 14 ini terkait dengan Qs. 14 Ibrahim, sebelumnya.

🌋 Qs. 69 Al Haaqah

Keterkaitan surat ini dengan sebuah gunung berapi adalah potensinya untuk dapat menimbulkan ledakan dan gempa, karena arti dari surat ini adalah Hari Kiamat.

Dan bila nilai 6 diambahkan dengan 9, menjadi : 6 + 9 = 15 (Qs. 15 Al Hijr/batu).

Dimana bila terjadi ledakan yang dahsyat, gunung berapi pun akan memuntahkan batu-batu dari perutnya.

Terlebih bila dilihat jumlah ayat dari Qs. 15 ini adalah 99, dan Qs. 99 adalah Az Zalzalah (Goncangan), hal ini tentu sangat terkait dengan dampak dari ledakan gunung berapi yang menggoncangkan (Gempa).

Khusus tentang Qs. 69 ini, bila nilai 69 nya dikonversi menjadi jumlah ayat, adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 29 Al Ankabuut (Laba-laba).

Surat ini adalah merupakan simbol dari jaringan, karena dikenal seekor laba-laba, rumahnya dibuat dengan bentuk jaring-jaring.

Memperhatikan kembali nilai 69, adalah angka yang saling bercermin 6 dan 9, atau bentuk angkanya seperti saling mengikat. Membentuk kesimbangan.

Sehingga nilai 69 dan 29, dapat disimpulkan sebagai simbol dari jaringan lempengan bumi, yang saling terkait dan mengikat, dan hal ini tentu terkait pula dengan gunung berapi.

Karena apabila terjadi ledakan dari gunung berapi, maka serta merta dapat memberikan dampak bergerak/bergesernya lempengan bumi.

Sehingga, sangat memungkinkan ketika terjadi ledakan gunung berapi, maka akan memberikan ‘efek domino’ (karena keterkaitan jaringan lempengan buminya), yang tentunya dapat pula memberikan dampak kepada gunung berapi lainnya (bila terdapat lempengan bumi yang saling terkait dan berada di bawah atau berdekatan dengan gunung berapi lainnya), hal ini pula lah yang dapat menyebabkan gunung berapi lainnya ikut bereaksi juga.

Perhatikan ke 2 ayat di bawah ini :

💥 18. Al-Kahf : 47

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka”

💥 27. An-Naml : 88

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan”

Ke 2 ayat di atas, tentunya tidak bermakna “mentah” seperti yang dibayangkan, bahwa gunung dapat berjalan-jalan layaknya manusia atau hewan, tapi lebih bermakna bahwa gunung-gunung tersebut saling terkait pergerakannya antara satu gunung dengan gunung yang lainnya.

Sehingga gerakan tersebut disimbolkan bagaikan berjalan dan berpindah-pindah, dimana reaksinya lah yang berjalan dan dapat berpindah sesuai keterkaitan dan jaringannya.

Kita lanjutkan penjabarannya :

Jumlah nilai nomor ke 3 suratnya adalah :

➡ 14 + 68 + 69 = 151

Jumlah seluruh ayatnya :

➡ 52 + 52 + 52 = 156

Jumlah keduanya =

➡ 151 + 156 = 307
➡ 307 → 3 + 0 + 7 = 10

Surat ke 10 adalah Qs. Yuunus, yang kisahnya terkait dengan lautan.

Hal ini menjelaskan, bahwa keberadaan gunung-gunung tersebut, tidak hanya ada dipermukaan bumi saja, tapi ada juga yang berada di kedalaman lautan.

Selain itu, hal ini jg menjelaskan bahwa setiap ledakan dari gunung berapi tersebut, berpotensi untuk menimbulkan gelombang pasang bahkan Tsunami.

Masih dengan nilai, 14, 68 dan 69. Bila dijabarkan lebih lanjut, adalah :

✨ Penjabaran I :

▶ 1 + 4 = 5
▶ 6 + 8 = 14 → 1 + 4 = 5
▶ 6 + 9 = 15 → 1 + 5 = 6

Lalu :
▶ 5 + 5 + 6 = 16

✨ Penjabaran II :

Jumlah ayat dari ke 3 surat tsb (52 ayat) menjadi :

▶ 5 + 2 = 7
▶ 7 x 3 surat = 21

Jumlah nilai Penjabaran I dan II :

▶ 16 + 21 = 37
▶ Qs. 37, Ash Shaffat (Barisan)

Hal ini membuktikan bahwa kumpulan gunung-gunung tersebut adalah bagaikan barisan yang saling menyatu dalam sebuah keteraturan.

Bahkan dalam salah satu penamaan pegunungan di Indonesia dikenal dengan nama Bukit Barisan.

Tentu bukan sebuah kebetulan bukan..?

Sesuai dengan nilai 16 dan 21 di atas, perhatikan keterangan tentang gunung yang mengokohkan bumi (tentunya mempunyai keteraturan yang rapi bagaikan barisan), pada Qs. 16 dan Qs. 21.

💥16. An-Naḥl : 15

“Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk”

Dan..

💥 21. Al-Anbiyaa’ : 31

“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kukuh agar dia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”

Selain itu bila nilai 52 dijumlahkan ke 2 digitnya maka menjadi 5 + 2 = 7, dan bila dilihat surat ke 7 adalah Qs. Al A’raaf, Tempat yang Tertinggi.

Tentunya sudah sangat jelas kaitannya dengan sebuah gunung yang merupakan dataran tertinggi dipermukaan bumi.

Demikian artikel singkat ini disampaikan. Tak lain hanyalah sekedar analisa sederhana, dari saya sang fakir, yang masih dalam tahap belajar dan belajar.

Semoga bermanfaat..🙏🙏

Syaiful Husein
@jawara2019

Advertisements

Al Muthafifiin (Orang-orang yang Curang)

Qs. 83 Al Muthafifin (Orang-orang yang curang) berada di juz 30.

Dan surat ini adalah surat ke 6 di juz tersebut, bila dihitung dari awal juz 30 (mulai dari Qs. 78 sampai dengan Qs. 114).

Dan bila kembali diambil surat ke 6 juga dari Qs. 114 An Naas (akhir juz ke 30), maka akan tepat jatuh pada Qs. 109 Al Kaafirun (Orang-orang kafir), yang juga berjumlah 6 ayat.

Dalam pembagian juz di Al Quran, berarti masih ada 29 juz lagi, yakni juz 1 sampai dengan juz 29, yang dimulai dari Qs. 1 Al Faatihah sampai dengan Qs. 77 Al Mursalat.

Dengan metode yang sama, seperti pengambilan Qs. 83 Al Muthafifiin dan Qs. 109 Al Kaafirun, maka kembali dilihat surat ke 6 dari awal yaitu Qs. 6 Al An’aam (Binatang Ternak).

Selanjutnya, bila diambil kembali surat ke 6 dari Qs. 77 Al Mursalat (akhir dari juz 29), maka tepat jatuhnya pada Qs. 72 Al Jin.

Sehingga dengan metode sistem nilai 6 tersebut, diperoleh 4 surat, yakni :

▶ Qs. 83 Al Muthafifiin (Orang yang curang)
▶ Qs. 109 Al Kaafiruun (Orang kafir)
▶ Qs. 6 Al An’aam (Binatang ternak)
▶ Qd. 72 Al Jin (Jin)

Sistem nilai 6, dengan 4 variasi pengambilan ini kemudian dikalikan ke 2 variabelnya, sehingga diperoleh nilai :

▶ 6 x 4 = 24

Surat ke 24 Adalah Qs. An Nuur (Cahaya).

Disini terbukti, bahwa kriteria orang-orang yang curang, orang kafir yang membeci Islam, tak lebih derajatnya bagaikan binatang bahkan tidak sedikit pula yang bersekutu dengan kaum jin, hanya demi untuk memadamkan cahaya agama yang Allah ridhai, Islam.

✨ 61. Aṣh-Ṣhaff : 8

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya”.

Dan ternyata, Qs. 24 An Nuur ini pun berjumlah 64 ayat, tepat seperti sistem nilai yang diperoleh (diperhitungan sebelumnya) dengan metode surat-surat pada urutan ke 6, dengan 4 variasi pengambilan.

Bagaimana dengan Qs. 63 Al Munafiquun (Orang-orang munafik) ?

Surat ini terletak pada juz ke 28, sama halnya dengan Qs. 64 At Taghaabun (Hari ditampakkan kesalahan) yang juga berada pada juz 28.

Pada juz 28 terdapat 9 surat, yakni Qs. 58 sampai dengan Qs. 66.

Dan ternyata Qs. 63 Al Munafiquun, tepat berada pada surat ke 6 di juz 28 (Dihitung mulai dari Qs. 58).

Kembali diperoleh dari pengambilan dengan sistem nilai 6 lagi bukan..?

Dan bila dihitung dari Qs. 66 At Tahriim (akhir juz 28), ternyata Qs. 63 Al Munafiquun, tepat berada pada posisi surat ke 4.

Dan kali ini diperoleh dari nilai 4. Sebagaimana variasi sistem nilai 6 dan 4 di atas..!!

Dari sini dapat ditambahkan pula, bahwa ada 1 satu kelompok lagi yang teramat sangat berbahaya, yang juga sangat berkeinginan untuk memadamkan cahaya islam, yaitu dari kelompok orang-orang munafik..!!

Luar biasa..! Subhanallah..

Struktur Al Qur’an dapat dengan sistematisnya menjelaskan, dan dengan metode yang cukup sederhana pula.

Sehingga semakin kita sadari, betapa bahayanya visi dan misi, strategi busuk dan propaganda dari musuh-musuh Islam.

Namun demikian, segala KeMahaan Allah tak terbatas, terbukti dengan keberadaan kaum yang memusuhi islam tersebutpun tergambar jelas dalam firman-Nya, berikut dengan struktur dan sistematika numeriknya yang sempurna.

Artinya, sebaik-baiknya rencana dan strategi serta propaganda kotor mereka, tetap saja Kuasa Allah akan melindungi agama yang Diridhai-Nya, Islam.

Allahu Akbar..!!

 

Syaiful Husein – 081317249922

@jawara2019

Keterkaitan Qs. 24 An Nuur (Cahaya) dan As Sajdah

Sajdah tempat kita bersimpuh dan bersujud (Shalat), mempunyai kaitan yang sangat erat dalam meraih “Cahaya”.

Mari di analisa sejenak :

★ Nilai 24 adalah nomor surat An Nuur (Cahaya)

★ Bila ditambahkan nilai 24 → 2 + 4 = 6

★ Nilai 6, kembali dijumlahkan dengan nilai 24 → 24 + 6 = 30

★ Bila nilai 24 di kalikan, maka : 2 x 4 = 8

★ Nilai 8 pun kembali dijumlahkan dengan nilai 24 → 24 + 8 = 32

Dari penjabaran di atas, diperoleh 2 nilai : 30 dan 32.

Apakah keterkaitan ke 2 nilai ini (30 dan 32) ?

★ Ke 2 nilai tersebut sangat terkait dengan surat As Sajdah.

★ As Sajdah adalah surat ke 32 dan jumlah ayat nya 30.

Jelas bukan keterkaitannya ?

Mari dilanjutkan..

Nilai numerik dari judul surat As Sajdah (السجدة) adalah :

✩ Huruf ال  : Huruf ke 31
✩ Huruf س : Huruf ke 12
✩ Huruf ج   : Huruf ke   5
✩ Huruf د    : Huruf ke   8
✩ Huruf ة    : Huruf ke 32

Sehingga jumlah keseluruhannya menjadi :

★ 31 + 12 + 5 + 8 + 32 = 88

Dengan diperolehnya nilai 88 ini, kembali dijumlahkan masing-masing variabelnya, berikut nilai dari nomor surat dan jumlah surat As Sajdah (32 dan 30).

Sehingga menjadi :

★ 3 + 2 + 3 + 0 + 8 + 8 = 24

Ternyata, nilai yang diperoleh kembali ke nilai 24. Yang merupakan nomor surat An Nuur.

★ Surat ke 24 An Nuur ini berjumlah 64 ayat

★ Bila dijumlahkan nomor surat dan jumlah ayatnya : 24 + 64 : 88

Bukankah nilai 88 ini pun merupakan nilai dari lafadz surat As Sajdah (السجدة) ?

Semakin jelas bukan keterkaitannya..?

Artinya, dengan Sajdah yang selalu kita pergunakan sebagai tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, atau dengan kata lain menegakkan shalat, ternyata memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam meraih Cahaya dari-Nya.

Cahaya Hidayah, Cahaya Kebenaran, Cahaya Kasih Sayang-Nya, Cahaya Keridhaan-Nya.

Selain itu, bukankah An Nuur (Cahaya) merupakan nama dan sebutan lain dari Al Quran ?

Mari kita raih nilai-nilai yang terkandung dalam As Sajdah (Sujud), dalam arti yang lebih mendalam demi memperoleh Cahaya-Nya.

FB_IMG_1559066525059

FB_IMG_1559066520737

Semoga kajian ini bermanfaat

Syaiful Husein – 0813 1724 9922

@jawara2019

Parameter Penggunaan 32 Abjad Dasar, dalam Kajian Numerik Al Qur’an

 

Dasar rujukan parameter 32 Abjad Al Quran

Dalam kajian Paradigma Numerik Al Quran, salah satu hal yang terpenting sebagai paremeter perhitungannya adalah Abjad Al Quran, yang akan digunakan sebagai rujukan berbagai macam variasi perhitungan. Untuk mendapatkan jumlah abjad yang digunakan, tentu perlu adanya sebuah referensi rujukannya

Salah satu diantaranya adalah : sabda Rasululullah saw :

“Jibril membacakan Al Quran kepadaku dengan satu huruf kemudian aku mengulanginya. (Setelah itu) senantiasa aku meminta tambah dan iapun (Jibril) menambahkan sampai dengan tujuh huruf. (HR. Ibnu Abbas).

Mari dicermati sabda rasul tersebut, pada kenyataannya abjad yang dikenal sejak awal kerasulan, jelas-jelas lebih dari 7 (tujuh) huruf. Contohnya Alif-Lam-Mim, saja sudah (3 huruf), Yaa-Siin (2 huruf), Tha-Haa (2 huruf), Kaf-Ha-Ya-‘Ain Shad (5 huruf), dan huruf-huruf lain yang terkandung dalam 1 ayat. Ternyata jumlahnya sudah pasti lebih dari susunan dasar 7 huruf. Lantas ada apakah dibalik pesan 7 huruf yang beliau sabdakan ?.

Rasulullah saw bersabda tentunya tidak akan pernah lepas dari konteks ilmu Al Quran. Mustahil beliau bersabda atas kemauan atau asumsi pribadinya. Untuk itu, mari coba dipahami konteks bilangan tujuh tersebut dengan merujuk kepada sumbernya, yaitu Al Quran.

Dari paparan di bawah ini, insya Allah dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas, yaitu :

💢 Di Al Quran terdapat 7 manzil

💢 Mari coba kita koneksikan nilai 7 ini dengan 2 surat yang berjumlah 7 ayat, yakni :

     ✨ Qs. 1- Al Faatihah dan

    ✨Qs. 107-Al Maa’un.

Ternyata tanda ruku’ (‘ain) dari ke 2 surat ini adalah :

💢 Qs. 1 terletak pada ‘ain pertama di juz 1 dan

💢Qs. 107 tepat berada pada ‘ain ke 32 di juz 30.

💢 Terlihat jelas di sini konektifitas antara sistem nilai 7 dan 32.

💢 Selanjutnya, bila ditambahkan Qs. 107, dengan jumlah ayatnya = 107 + 7 = 114.

💢 Surat ke 114 adalah An Naas.

💢 Lalu nomor ‘ain pada Qs. 107 (‘ain ke 32) ditambahkan juga dengan jumlah ayatnya = 32 + 7 = 39.

💢 Ternyata pada Qs. 114-An Naas tepat berada pada  ‘ain ke 39 di juz 30.

Perhatikan lanjutan surat-surat setelah Qs. 107 menuju Qs. 114, terdapat 7 surat yaitu :

▶ 108-Al Kautsar, 3 ayat
▶ 109-Al Kafirun, 6 ayat
▶ 110-An Nashr, 3 ayat
▶ 111-Al Lahab, 5 ayat
▶ 112-Al Ikhlaash, 4 ayat
▶ 113-Al Falaq, 5 ayat dan
▶ 114-An Naas, 6 ayat.

▶ Dari ke 7 surat tersebut, bila dijumlahkan ayatnya : 3 + 6 + 3 + 5 + 4 + 5 + 6 = 32 Ayat.

Kembali terlihat sebuah konekifitas antara sistem nilai 7 dan 32.

Nilai tujuh bila dikaitkan dengan ritual shalat, berhubungan dengan 7 tumpuan titik sujud :

✨ Kepala (1), telapak tangan kanan dan kiri (2), lutut kanan dan kiri (2) dan telapak kaki kanan dan kiri (2).

💢 Dimanakah ke 7 titik tersebut bertumpu ? tentunya di atas sajdah. Di Al Quran ada surat yang bejudul As Sajdah, yaitu surat ke 32.

💢 Al Quran, terdiri dari 30 juz dan 114 surat, bila dikembalikan kepada sistematika nomor surat Al Quran, mulai dari dari Qs.1 (7 ayat) maka surat pertama yang memiliki jumlah 30 ayat (sama dengan jumlah juz Al Quran) adalah surat ke 32 : As Sajdah.

Dari beberapa referensi di atas, cukuplah kiranya menjadi penjelasan bahwa landasan dari parameter abjad Al Quran yang dijadikan rujukan perhitungan metode numerik Al Quran adalah sebanyak 32 abjad, seperti terlihat pada tabel terlampir.

FB_IMG_1470737219207

Berdasarkan beberapa parameter di atas, mari kita buktikan keterkaitan abjad-abjadnya dalam konteks konektifitas sistem nilai 7 dan 32. yaitu :

💢 Titik tumpuan sujud adalah 7 titik, sedangkan lafadz sujud adalah :

سجد

💢 Nilai dari lafadz sujud adalah : Sin = 12, Jim = 5, Dal = 8, dan jumlah seluruhnya adalah 12 + 5 + 8 = 25.

💢Bila ditambahkan dengan nilai 7 tumpuan titik sujud : 25 + 7 = 32.

💢Selanjutnya, mari coba diuraikan lafadz nilai tujuh dalam bahasa Arab, yaitu Sab’a :

سبع

💢 Nilai dari lafadz Sab’a adalah : Sin = 12, Ba = 2, ‘Ain = 18, dan jumlah seluruhnya adalah : 12 + 2 + 18 = 32.

💢 Dari munzil 1 sampai munzil 7, ada 2 surat yang berjumlah 7 ayat, yaitu Qs. 1 dan Qs. 107. Bila dijumlahkan nomor surat dan jumlah ayat dari ke 2 surat ini adalah : 1 + 7 + 107 +7 = 122.

💢 Ada sebuah surat di Al Quran yang bila nomor surat dan jumlah ayatnya dijumlahkan menghasilkan nilai 122, yaitu : Qs. 80-‘Abasa, 42 ayat, atau 80 + 42 = 122.

Apakah keterkaitannya dengan sistem nilai 7 dan 32 ?

💢 Judul surat ‘Abasa atau عبس, ternyata mempunyai kesamaan struktur huruf dengan nilai 7 dalam bahasa Arab (Sab’a) / سبع.

💢 Atau dengan kata lain, bila disusun dari arah belakang, judul surat ‘Abasa (‘Ain – Ba – Sin) akan menjadi Sin – Ba – ‘Ain atau  Sab’a (سبع) atau tujuh (7) dalam bahasa Arab.

Sudah dijabarkan di atas, nilai dari ke 3 huruf ini adalah 12 + 2 + 18 = 32.

Sudah jelas bukan tentang konektifitasnya dengan sistem nilai 7 dan 32 ?

Mari dieksplor lebih lanjut tentang nilai 32.

💢 Bila dijumlahkan 2 variabelnya (3 dan 2) = 5.

💢 Sedangkan bila dikalikan : 3 x 2 = 6. Nilai 5 dan 6 di sini jelas berhubungan pula dengan konsep Rukun Iman (6) dan Rukun Islam (5).

💢 Sebagai pembuktian terakhir, mari kita kembali kepada lafad dari kata sujud (سجد)

💢 Lafadz ini terbentuk dari huruf Sin = huruf ke 12, huruf Jim = huruf ke 5 dan huruf Dal = huruf ke 8

💢 Sehingga formasi nilai numerik ke 3 abjad tersebut adalah : 12-5-8

💢 Bila kita urai nilai 12-5-8, menjadi masing-masing digitnya, akan terbentuk formasi : 1.2.5.8

💢 Formasi 1.2.5.8 ini, bila di konversi kembali menjadi huruf hijaiyah (dan dituliskan menurut arah penulisan Arab, dari arah kanan ke kiri) adalah : ا, ب, ج, د

💢 Atau sama dengan dengan lafadz ابجد atau ABJAD.

Memang demikianlah adalahnya, dengan segala macam kombinasi variatif metode numerik Al Quran yang menggunakan 32 abjad ini, adalah dalam rangka menguak tabir ilmu dan mukjizat Al Quran, dimana seluruh pendekatan tersebut akan bermuara pada satu tujuan, yaitu sujud, patuh dan tunduk kepada seluruh konsep keimanan dan keislaman dalam upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt.

Semoga kajian ini bermanfaat.

Syaiful Husein
0813 1724 9922

@jawara2019

TENTANG HARTA NABI SULAIMAN A.S

Dalam kisah kenabiannya, nabi Sulaiman as. sangat dikenal sebagai seorang raja yang teramat sangat kaya raya, diiringi pula dengan berbagai mukjizat yang sangat luar biasa, seperti :

▶ Mampu menaklukan bangsa jin.

▶ Mengerti bahasa binatang.

▶ Mampu menguasai angin

Dibalik itu semua, hikmah ilmu apakah yang dapat dipetik dari keutamaan dan keistimewaan yang ada pada seorang nabi Sulaiman as…?

Khususnya, pada kali ini, secara numerik Al Qur’an akan dibahas tentang pencapaian harta nabi Sulaiman as yang sampai saat ini, masih menjadi misteri, bahkan terus dicari-cari untuk dikuasai.

Bahkan sampai dengan saat ini, bangsa Israel “laknatullah” masih saja terus berambisi untuk menguasainya, sehingga wilayah bangsa Palestina (yang mereka yakini sebagai tempat tersembunyinya harta Nabi Sulaiman as), terus dijajah dan dikuasai, sambil tak hentinya menindas serta menganiaya rakyat Palestina, yang dengan gigih berkorban nyawa, demi mempertahankan wilayah suci ummat Islam (Masjidil Aqsha), yang sangat ingin ditaklukan oleh bangsa Israel yang terkutuk.

Selanjutnya, penjabaran numerik tentang harta nabi Sulaiman as, akan diawali dengan memperhatikan lafadz dari nama nabi itu sendiri.

Berikut penjabarannya.

✨ Lafadz nama Nabi Sulaiman a.s. (سليمن)

Nilai-nilai numerik yang terkandung dalam abjad lafadz tersebut adalah :

س = 12
ل = 23
ي = 30
م = 24
ن = 25

Sehingga jumlahnya menjadi =

▶ 12 + 23 + 30 + 24 + 25 = 114

▶ Nilai 114 adalah sama dengan jumlah surat di Al Quran.

Kemudian, nilai dari ke 5 angka (hasil penjabaran dari lafadz Sulaiman as) tersebut di konversikan menjadi nomor surat di Al Quran :

▶ Qs. 12 : Yuusuf, 111 ayat

▶ Qs.23 : Al Mu’minuun, 118 ayat

▶ 30 : Ar Ruum, 60 ayat

▶ Qs. 24 : An Nuur, 64 ayat

▶ Qs. 25 : Al Furqaan, 77 ayat

✨ Jumlah keseluruhan ayatnya adalah : 430 ayat

Mari kita lanjutkan lebih jauh, tentang makna dari nilai 430 ini :

▶ Surat 43 : Az Zukhruf (perhiasan)

▶ Perhiasan adalah sebuah simbolik dari harta

▶ 43 x 10 = 430

▶ Perkalian 10 menunjukkan pencapaian yang berlipat / melimpah.

✨ Bukankah, hal ini terkait dengan pesan dari fenomena tentang harta Nabi Sulaiman a.s. yang berlimpah dan sampai sekarang masih menjadi misteri ??

Namun, bila kita perhatikan nilai pencapaian sebelumnya, yakni nilai 114 (sama dengan jumlah surat di Al Qur’an), bahwa penekanan di sini adalah :

✨ Bahwa sesungguhnya, sebaik-baiknya pencapaian “harta” yang pernah ada dan paling berlimpah keberkahannya sepanjang masa, adalah Ilmu Al Quran (114 surat, yang nilainya setara dengan penjabaran dari lafadz nama nabi Sulaiman as).

Karena, hanya dengan kepahaman akan ilmu Al Qur’an lah, yang akan menyelamatkan kita baik di dunia maupun akhirat.

Bukan harta dalam arti bentuk materi.

Uraian dari Qs. 43, masih dapat dilanjutkan, sehingga membentuk “5 surat yang berkait”, bila diperhatikan nomor surat dan jumlah ayatnya, seperti diterangkan sbb :

✨ Qs. 43 Az Zukhruf, 89 ayat

✨ Qs. 89 Al Fajr, 30 ayat

✨ Qs. 30 Ar Ruum, 60 ayat

✨ Qs. 60 Al Mumtahanah, 13 ayat

✨ Qs. 13 Ar Ra’du, 43 ayat

Qs. 43 Az Zukhruf, 89 ayat

Pada putaran ke 5 nya, jumlah ayat dari Qs. 13 Ar Ra’du, kembali kepada nilai 43 (Qs. Az Zukhruf, 89 ayat).

Artinya, pada putaran ke 5 tersebut, akan kembali ketitik awal, yakni Qs. 43.

Demikian seterusnya, bila diuraikan lebih lanjut seperti metode di atas, maka akan terbentuk siklus 5 surat yang tak kan pernah akan selesai, terus berputar.

Mengandung pesan apakah di balik ke 5 siklus surat berkait tersebut..?

Hal yang paling jelas terlihat kaitannya adalah, dengan ritual shalat 5 fardhu sehari semalam.

Karena, nilai jumlah ayat dari Qs. 43 Az Zukhruf, 89 ayat, jelas menunjukkan hubungannya dengan 5 shalat fardhu (17 raka’at), karena :

✨ Nilai 89 → 8 + 9 = 17

✨ 17 = Jumlah raka’at shalat fardhu.

✨ Dimana, 8 raka’aatnya dilaksanakan pada siang/petang hari (4 raka’aat Dzhuhur + 4 raka’at ‘Ashar)

✨ Dan 9 ra’kaat lainnya adalah shalat yang dilakukan mulai saat menjelang malam, hingga waktu fajr/subuh, yakni : 3 raka’at Maghrib, 4 raka’at ‘Isya dan 2 raka’at Shubuh).

Dimana, ke 5 shalat fardhu ini, wajib dilaksanakan, terus menerus, atau sebuah siklus yang tak berkesudahan, wajib ditegakkan selama kita masih hidup.

Dengan pejabaran di atas, kembali tampak sebuah penegasan bahwa harta “perhiasan” yang tak ternilai tersebut ternyata termasuk pula adalah ritual 5 shalat fardhu..! Harta, yang akan menyelamatkan, baik di dunia maupun akhirat.

Selain itu, Qs. 43 Az Zukhruf bila dilihat jumlah ayatnya adalah 89.

Lalu bila nilai 89 ini kembali dikonversikan menjadi nomor surat ke 89, adalah Qs. 89 Al Fajr (Waktu Fajar).

Terkait dengan waktu fajar, tentunya sama-sama sudah dikenal hadist di bawah ini :

“Dua rakaat shalat sunnah Fajar, lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.” (HR. Muslim725)

Yaa, kembali ditegaskan disini, selain nilai keilmuan dari Al Qur’an sebagai “perhiasan” dan 5 waktu shalat fardu yang tak ternilai itu, ternyata terkait pula dengan keutamaan dari shalat sunnah Fajr.

Yang nilainya lebih baik dari dunia dan seiisinya.

Karena apabila manusia hanya berfokus pada pencapaian perhiasan dalam bentuk materi saja, justru hal tersebut tidak akan dapat menyelamatkannya sampai ke alam akhirat, sebagaimana dapat dijelaskan sbb :

✨ Judul surat yang memiliki arti perhiasan adalah Qs.43, Az Zukhruf (الزخرف).

Nilai numeriknya :

– ال = 31
– ز = 11
– خ =   7
– ر = 10
– ف = 20

Jumlah seluruhnya :

✨ 31 + 11 + 7 + 10 + 20 = 79

Selanjutnya, surat ke 79 adalah Qs. An Naazi’at (Malaikat yang mencabut).

Artinya, segala perhiasan dunia, apapun bentuknya, bagaimanapun indahnya, seberapapun tinggi nilainya, seperti apapun kita menyayanginya, kelak suatu saat akan dicabut/diambil kembali oleh Allah SWT, Sang Maha Pemilik yang sesungguhnya..!

Lantas, apa yang perlu disombongkan atas segala “perhiasan dunia” yang sejatinya adalah bukan milik kita..??

Dan untuk apa lagi dipermasalahkan tentang keberadaan harta nabi Sulaiman as, yang sejatinya, ternyata “inti hikmah ilmunya” telah ummat Islam miliki, yakni :

✨ Kitab Sucinya, Al Qur’an

✨ 5 Shalat Fardhunya

✨ Dan berbagai macam keutamaan-keutamaan lain, di dalam shalat-shalat sunnah yang dianjurkan Rasulullah Muhammad SAW.

Semoga bermanfaat

Syaiful Husein
0813 1724 9922

@jawara2019

Pesan Penting pada Surat Terakhir di Al Qur’an, Qs. 114 An Naas

Sebuah pesan penting pada surat terakhir di Al Quran, Qs. 114. An-Naas : 6 ayat

Atau dalam lafadz Al Qurannya tertulis dari arah kanan ke kiri :

Screenshot_2019-05-21-16-57-23_1

Sehingga membentuk formasi angka 6114, sehingga kombinasi nilainya menjadi :

1). 61 dan 14 → Qs. 61 Ash-Shaf 14
2). 6 dan 114 → Qs. 6 Al An’aam 114

1). Qs. 61. Aṣh-Ṣhaff : 14

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

✨Amanah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menolong Agama Allah, berbuat yang terbaik untuk Islam.

✨61 + 14 = 75, Qs. 75 adalah Al Qiyamah (kiamat). Sebagaimana disebutkan pada ayat diatas tentang nabi Isa as, bukankah beliau yang akan dihadirkan di akhir zaman menjelang kiamat ?

2). Qs. 6. Al-An’aam : 114

Pantaskah aku mencari hakim selain Allah padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu secara rinci ? Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui benar bahwa (Al-Qur’an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

✨Allah SWT, telah menurunkan dan menetapkan, Al Quran adalah kebenaran dari-Nya, sebagai petunjuk utama, pedoman terbaik kepada manusia dalam mengemban amanahnya sebagai khalifah.

✨ Berbuatlah yang terbaik untuk Islam dengan landasan Al Quran, tanpa sedikitpun keraguan dan serahkan hasil terbaiknya kepada Allah SWT, Sang Maha Hakim.

Islam mustahil bangkit, tanpa kesadaran dari ummatnya untuk kembali kepada Al Quran.

 

Semoga manfaat..

Syaiful Husein – 0813 1724 9922

@jawara2019

Posisi Paradigma Numerik dan Struktur Al Qur’an dalam Dunia Pengetahuan

Kembali kami hadirkan pengulangan materi yang telah disampaikan di buku kami sebelumnya “Psikologi Qur’ani, Bukan Sekedar Teori”. Yaitu tentang bagan pengetahuan.

Pengulangan-pengulangan materi kajian ini sebenarnya dimaksudkan sebagai upaya penekanan pemahaman atas paradigma yang relatif masih sangat belia ini. Selain itu, memang pada kenyatannya, masing-masing kajian dari materi numerik ini selalu saling terkait satu sama lainnya.

Tabel bagan pengetahuan di bawah ini sebenarnya adalah untuk memperlihatkan kedudukan atau posisi paradigma numerik ditengah-tengah berkembangnya berbagai macam pengetahuan di muka bumi ini.

✨BAGAN PENGETAHUAN (lihat pada gambar tabel)

FB_IMG_1557568419355.jpg

Keterangan :

✨Sunatullah : Segala yang Allah ciptakan tak pernah lepas dari kerangka Sunatullah yang ditetapkanNya. Tingkat tertinggi pencapaian ilmu manusia hanya mampu mencapai tingkatan tentang sunatullah. Di atas segalanya, Allah itu sendiri, adalah dzat diluar sistem sunatullah. Tingkat absoluditas dan kemahaan Allah tak akan pernah ada yang mampu menyentuhnya.

✨ Ayat Kauniah : adalah ayat-ayat Allah yang tidak tertulis di Al Qur’an atau dengan kata lain selain dari firman Allah yang tertulis di Al Qur’an, seluruh yang ada di alam semesta ini, dikategorikan sebagai ayat kauniyah.

✨ Ayat Kauliah : adalah firman Allah yang dituliskan sebagai ayat-ayat Allah di Al Qur’an.

✨ Penjelasan Bagan Pengetahuan

Ilmu pengetahuan tentang ayat kauniah yang selama ini dikenal dalam bangunan sains umum, bila dipisahkan berdasarkan perangkat dasar yang digunakan sebagai alat elaborasinya, yaitu sebagai alat yang merepresentasikan obyek dalam notasi simbolik untuk analisis dan sebagai alat komunikasi, maka akan didapat dua kelompok klasifikasi.

Dalam kelompok pertama, yaitu kelompok verbal, terdapat ilmu-ilmu humaniora dan sosial seperti :

✨ Disiplin ilmu budaya
– Hukum
– Sejarah
– Bahasa, dll

Sedangkan kelompok kedua yang menggunakan numerik, menghasilkan disiplin ilmu seperti :

✨ Ilmu matematika, fisika, kimia, dll

Dengan menggunakan kategori yang sama, maka pembagian ilmu-ilmu yang mengelaborasi ayat kauliah, dengan sendirinya akan menghasilkan dua kelompok klasifikasi yang sama juga.

Kelompok verbal menghadirkan beberapa disiplin ilmu seperti :

👉 Ilmu hukum
👉 Bahasa
👉 Sejarah
👉 Sosial, dll.

Sedang kelompok numerik “seharusnya” juga menghasilkan berbagai bentuk ilmu. Hanya saja untuk kelompok numerik ini, sangat belum dikenal mengingat usianya yang masih sangat baru.

Tetapi dari hasil berbagai terapannya dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai kasus dapat disimpulkan ia menempati kedudukan yang sama dengan kelompok ilmu-ilmu lainnya.

Sebenarnya disinilah terletak blank atau kekosongan kajian Al Qur’an yang terjadi selama ini. Mengingat catatan historis dimana banyak ilmuwan muslim yang melahirkan produk-produk sains pada abad pertengahan seperti Ibnu sina, Al Jabar dll, jelas sebenarnya khasanah paradigma numerik ini sudah ada sejak lama, namun memperhatikan kembali tentang terputusnya link data sejarah pada abad pertengahan, diyakini kajian tentang numerik Al Qur’an telah dimusnahkan atau bahkan dicuri oleh musuh-musuh Islam.

Tiap kelompok tipikal ayat pada bagan pengetahuan menghasilkan produknya masing-masing. Kelompok verbal menghasilkan, diantaranya, wacana sejarah, peraturan-peraturan dan lembaga-lembaga.

Sedangkan kelompok numerik tentunya harus mampu melahirkan teknologi baru yang Qur’ani.

Skema klasifikasi ini tentu terlihat sangat sederhana dan reduktif mengingat dinamika sosiologi pengetahuan tidak lagi menunjukkan pengkristalan kutub-kutub disiplin ilmu, tetapi sebaliknya, justru mengarah pada integrasi melalui program penelitian dan penerapan yang bersifat interdisiplin. Namun melalui bagan skema ini terlihat bahwa:

Ada bagian dari kelompok klasifikasi ilmu yang belum hadir selama ini, yaitu numerik kauliah. Padahal ia adalah sebuah konsekuensi yang logis dari kategori pembagian ilmu berdasarkan perangkatnya, sebagaimana juga terjadi pada bagian yang lain, yaitu bagian ilmu-ilmu kauniah.

Menunjukkan sumber yang sama, yaitu sunnatullah, yang berintikan Al Qur’an.
Persamaan karakter dari dua kelompok ilmu sama sekali bukanlah untuk mencari pengakuan keilmiahan ajaran Islam. Tetapi itu adalah sebagai sebuah konsekuensi yang wajar, dan setiap pendekatan akan dinyatakan ilmiah dengan sendirinya bila mempunyai metodologi, dan bisa dibuktikan secara berulang. Dan tentunya dapat pula dirasakan bukti dan kemanfaatannya.

Semoga artikel ini bermanfaat..

Chairul Aman dan Syaiful Husein – 0813 1724 9922

@jawara2019

Tentang Al Munafiquun (Orang-orang Munafik)

 

Sedikit mengulas tentang Al Munafiquun (orang-orang munafik)

Di Al Quran, surat Al Munafiquun tertera pada surat ke 63, dan berjumlah 11 ayat. Mungkin untuk mendapatkan penjelasan tentang surat ini, masing-masing dari kita dapat membuka surat tersebut dan membaca serta memahami makna dari surat tersebut.

Namun, dalam kajian numerik Al Quran kali ini, ingin disampaikan sisi lain dari penelaahan surat ke 63 ini. Berikut penjelasannya :

✨ Surat Al Munafiquun tertera pada surat ke 63

✨ Tentunya setiap surat akan dimulai dengan ayat ke 1 (satu) nya, dalam hal Qs. 63 : 1, yaitu :

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah Mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah Menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta”.

– Dengan kombinasi nomor surat dan nomor ayat pertamanya, diperoleh dua nilai yaitu 63 dan 1

✨ Sehingga bila digabungkan, menjadi nilai 631.

Bila kita mengurutkan dan melihat ayat ke 631 dari awal Al Quran (di mulai dari Qs. 1 Al Faatihah), maka akan jatuh pada ayat di Qs. 4 An Nisaa 138, dengan perhitungan :

▶ Qs. 1 Al Faatihah : 7 ayat
▶ Qs. 2 Al Baqarah : 286 ayat
▶ Qs. 3 Ali ‘Imraan : 200 ayat
▶ Jumlah : 493 ayat

Dari perhitungan di atas, untuk mencapai nilai 631, masing kurang 138 ayat lagi, maka ayat ke 631 tersebut diperoleh dengan perhitungan sbb :

▶ Qs. 1 Al Faatihah : 7 ayat
▶ Qs. 2 Al Baqarah : 286 ayat
▶ Qs. 3 Ali ‘Imraan : 200 ayat
▶ Qs. 4 An Nisaa’ : 138 >> (Ayat ke 631) dari awal Al Quran <<

✨ Jumlah : 631 ayat

Catatan : Jumlah seluruh ayat dari Qs. 4 An Nisaa’ adalah : 176 ayat

Selanjutnya, dengan dilandasi asumsi surat Al Munafiquun berjumlah 11 ayat, maka ayat yang akan diambil (setelah peroleh ayat ke 138 dari Qs. 4 An Nisaa’) adalah sampai dengan nomor ayat yang penjumlahan variabel nomor ayatnya = 11, yaitu Qs. 4 An Nisaa’ ayat ke 146. Karena, nilai 1 + 4 + 6 = 11

✨Landasan perhitungan ini juga terkait dengan penjumlahan dari variabel nomor surat Al Munafiquun (63), yaitu 6 + 3 = 9.

✨ Sehingga nomor ayat yang di ambil berjumlah 9 ayat. Dan ayat ke 9 dari Qs. 4 An Nisaa 138 ternyata, tepat jatuh di ayat ke 146 juga.

✨ Sehingga ayat yang akan di ambil adalah : Qs. An Nisaa’ ayat 138 s.d. 146

✨ Ke 9 ayat tersebut adalah :

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” (138)

(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.” (139)

Dan sungguh, Allah telah Menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al Quran) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan Mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.” (140)

(yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata, “Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?” Dan jika orang kafir mendapat bagian, mereka berkata, “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang Mukmin?” Maka Allah akan Memberi keputusan di antara kamu pada hari Kiamat. Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman.” (141)

Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang Menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (142)

Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir) tidak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang kafir). Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (143)

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk Menghukummu)?” (144)

Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (145)

Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri , dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan Memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.” (146)

Ke 9 ayat, di atas sangat menjelaskan tentang keadaan bangsa Indonesia saat ini :

✨Sebagian umat Islam, memilih pimpinan dari kalangan orang kafir. Bahkan rela meninggalkan (berseberangan pemikirannya) dengan saudaranya seiman. Karena berharap mendapatkan keuntungan dari kaum kafir tersebut. (ayat 139 dan 144)

✨Terjadi pelecehan dan penistaan terhadap ayat-ayat Al Quran. (ayat 140)

✨Sebagian umat Islam, berpindah-pindah (tidak konsisten) dalam memberi dukungannya, karena mereka hanya berorientasi pada keuntungan yang akan didapatkan. Ketika terkesan kaum kafir “di atas angin”, mereka mendukung. Namun ketika kaum kafir terpojokkan, mereka menyatakan diri, merekalah yang membantu (orang-orang beriman), sehingga kaum kafir dikalahkan. Benar-benar, karakteristik munafik !! (141 dan 143)

Namun, jangan pernah khawatir. Bagi yang tetap istiqamah dalam ketauhidan dan tetap berjuang di jalan Allah SWT, demi kebenaran Islam, maka :

✨Segala tipu daya kaum kafir dan munafik, tetap PASTI akan KALAH oleh ketetapan Allah SWT (142)

✨Bagi orang-orang munafik akan ditimpa azab yang pedih (138) dan seburuk-buruknya tempat mereka adalah di neraka paling dasar. (145)

✨Kecuali…. mereka yang bertaubat.. sebelum azab itu tiba.. (146)

Semoga, kita tidak termasuk kedalam golongan kaum munafik tersebut.

_________________________________________

Catatan :
Tentunya masih banyak ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan kemunafikan.

Namun dalam hal ini, penulis (dengan segala keterbatasannya) hanya ingin berupaya untuk menyajikan dalam perspektif yang sedikit berbeda, dan ternyata tetap mempunyai keterkaitan yang sangat menjelaskan tentang kondisi negara kita saat ini.

Sekaligus, sebagai wujud kepedulian untuk turut serta berjuang dengan “pena” (walaupun dengan sedikit kepahamannya), mendampingi para pejuang kebenaran Islam lainnya (di garis depan) yang sedang terus berupaya melakukan penyadaran tentang betapa Islam sudah teramat sangat dilecehkan dan dinistakan, oleh kaum kafir dan orang-orang munafik.

Semoga artikel ini bermanfaat.

 

Syaiful Husein – 0813 1724 9922 (WA)

@jawara2019

Keseimbangan Numerik Berdasarkan Rumus di 2 Halaman Awal Al Qur’an

Mungkin para pembaca masih ingat tentang 2 halaman awal Al Quran yang dimulai oleh halaman 2 dan 3. Dengan konstruksi sebagai berikut :

~ Halaman 2 : Qs. 1 Al Faatihah 7 ayat
~ 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 = 28

~ Halaman 3 : Qs. 2 Al Baqarah 4 ayat
~ 1 + 2 + 3 + 4 = 10

~ Nilai 28 dan 10 dijumlahkan
~ 28 + 10 = 38

Apakah sistem keterkaitan nilai 38 dengan halaman 2 dan 3 ?

Ternyata dari 114 nomor surat di Al Quran, dapat terbagi dengan sistem nilai 2, 3 dan 38

✨Berikut sistematikanya :

🌠 Ada 38 nomor surat yang dapat dibagi dengan nilai 2, namun tidak dapat dibagi nilai 3. Seluruh nomor suratnya GENAP.

🌠 Ada 38 nomor surat yang dapat dibagi nilai 3 saja. Nomor suratnya 19 GENAP dan 19 GANJIL

🌠 Ada 38 nomor surat yang tidak dapat dibagi nilai 2 dan tidak pula dapat dibagi nilai 3. Seluruh nomor suratnya GANJIL.

Sangat unik, perhatikan penjumlahan 38 surat di masing-masing kelompok.

🌠 Yang dapat dibagi nilai 2 tapi tidak dapat dibagi 3, hasil jumlah nomor suratnya : 2166

🌠 Yang hanya bisa dibagi nilai 3, hasil jumlah nomor suratnya : 2223

🌠 Yang tidak dapat dibagi nilai 2 dan 3, jumlah nomor suratnya : 2166

Hasil penjabaran di atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

FB_IMG_1558354426857

Sungguh matematika, Illahiah yang mustahil manusia dapat menciptakannya.

Subhanallah…

Semoga manfaat..

Syaiful Husein – 0813 1724 9922 (WA)

@jawara2019

Tentang Surat Al Ikhlash

✨Dari Abu Darda’ dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, :

Apakah seorang di antara kalian mampu untuk membaca sepertiga Al Qur’an dalam semalam?” Mereka mengatakan, ”Bagaimana kami bisa membaca sepertiga Al Qur’an (dalam semalam) ?” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al Qur’an.” (HR. Muslim no. 1922)

Hadist di atas dan beberapa hadist lain yang menjelaskan bahwa surat Al Ikhlas adalah setara dengan 1/3 Al Quran, demikian populernya di kalangan ummat Islam.

Dengan analisa numerik Al Quran, mari kita analisa sejenak.

★ Mari coba kita hitung jumlah abjad yang ada di surat ke 112 tersebut.

★ Ternyata, pada surat tersebut terdiri dari 38 abjad.

★ Perhitungan abjadnya tidak termasuk lafadz Allah, yang memang merupakan tujuan dari keikhlasan. Dan juga merupakan tujuan ketauhidan yang merupakan inti dari surat ini (memurnikan keesaan/ketauhidan kepada Allah SWT)

★ Dengan diperolehnya jumlah 38 tersebut, bila dikalikan 3 → 38 x 3 = 114. Artinya memang benar bahwa nilai 38 adalah 1/3 dari Al Quran (114 surat).

★ Bukankah 114, adalah merupakan jumlah keseluruhan surat di Al Quran

★ Untuk menghitung jumlah abjad yang terkandung dalam surat ini, digunakan parameter abjad yang terlampir pada tabel/gambar :

FB_IMG_1470737219207.jpg

★ Yang perlu di ingat, abjad ال (Alif Lam) adalah satu kesatuan, atau di hitung satu abjad. Karena sebagaimana kita kita kenal, dalam ilmu tajwid yang memisahkan kaidah abjad ال Syamsiah dan ال Qomariah.

★ Selanjutnya, dari 38 abjad tersebut, ternyata ada beberapa abjad yang sama, sehingga bila diperhatikan lebih jauh, 38 ajad tersebut terdiri dari 14 abjad saja. Yaitu :

ا
ح
د
ص
ف
ق
ك
ل
م
ن
و
ه
ي
ال

★ Jumlah 14 tersebut bila nilainya dikonversikan menjadi nomor surat adalah :

– Qs. 14 Ibrahiim (nabi Ibrahiim a.s)

★ Sebagaimana kita ketahui, nabi Ibrahim a.s. dikenal sebagai Bapak Tauhid. Seorang figur yang menjadi suri tauladan tentang ketauhidan, dimana hal ini sangat selaras dengan makna dari surat Al Ikhlas itu sendiri (memurnikan ketauhidan kepada Allah).

Namun, dalam hal penilaian kualitas kita mencapai tingkat yang dikriteriakan khatam satu Al Quran dengan membaca 3 kali surat ini, tentunya sangat tergantung dari kualitas iman dan ilmu kita. Yang tentunya hanya Allah SWT lah yang berhak menilainya.

Karena pengertian “setara” tidak serta merta dapat digantikan secara langsung. Tentunya ada beberapa kriteria lainnya yang harus terpenuhi, sehingga memperoleh nilai setara dengan membaca 1 Al Quran. Khususnya kriteria tentang kepahaman kita akan Al Quran secara menyeluruh, keikhlasan kita, ketauhidan kita, ketaqwaan kita, keimanan kita, kualitas ilmu kita dan hal-hal lainnya, yang merupakan wilayah kewenangan Allah SWT, untuk menilainya.

Akan tetapi, paling tidak kajian numerik Al Quran di sini hanya sekedar ingin membuktikan bahwa segala hal yang dibimbing oleh Rasulullah Muhammad SAW, tentunya memiliki dasar kepahaman beliau yang luar biasa akan Al Quran.

Dimana setiap beliau bersabda, sudah tentu dengan landasan ilmu yang bersumber dari Al Quran, sebagai sumber dari segala sumber ilmu.

Semoga bermanfaat

 

Syaiful Husein – 0813 1724 9922

@jawara2019