BENANG MERAH RISALAH PARA NABI / RASUL

Belajar Numerik Al Quran

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..

Dengan uraian numerik Al Quran yang cukup singkat, dapat dijelaskan bahwa “Benang Merah” dari misi dan risalah para nabi yang diutus ke muka bumi ini, adalah untuk menyampakan dan menanamkan kepada ummat manusia mengenai ketinggian nilai-nilai Ketauhidan, memurnikan Ke Esaan akan Allah SWT.

Berikut penjabarannya.

Para nabi, di Al Qur’an diabadikan keberadaannya sebagai judul surat, yakni :

▶ Pada surat ke 21 Al Anbiyaa’ (Para Nabi).

▶ Surat ini berjumlah 112 ayat.

▶Bila nilai 112 ini kembali dikonversikan menjadi nomor surat, adalah Qs. 112 Al Ikhlash, dimana dari arti terjemahan yang terkandung dalam ke 4 ayatnya, sangat jelas mengandung pesan tentang memurnikan akan KeEsaan Allah SWT (Ketauhidan).

Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam uraian di bawah ini :

✴ Qs. 21 Al Anbiyaa’ (Para Nabi) 112 ayat

✴ Qs. 112 Al Ikhlash (Ikhlash / Memurnikan KeEsaan Allah / Ketauhidan)

Disinipun mengandung pesan yang sangat mendalam, bahwa untuk…

View original post 336 more words

‘PENGULANGAN’ AZAB KAUM NABI LUTH AS

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..

Telah kami sampaikan belakangan ini, beberapa artikel tentang tanda-tanda di akhir zaman.

Termasuk telah dijelaskan pula tentang peristiwa kejadian azab yang akan terjadi menjelang hari akhir (kiamat), yakni peristiwa Dukhan/asap dan munculnya Imam Mahdi.

Terkait dengan akhir zaman, tentunya sudah sama-sama diketahui juga, tentang akan diturunkannya kembali nabi Isa as, yang kelak akan ditugaskan untuk membunuh dajjal laknatullah.

Dan kemudian setelah itu, nabi Isa as, akan memimpin ummat Islam dengan adil, seadil-adilnya, diiringi pula dengan menyelesaikan tugasnya untuk meluruskan kembali kemurnian syari’at Islam, sesuai kemurnian awalnya sebagaimana yang telah Rasulullah Muhammad saw sampaikan.

Karena, pada kenyataannya sudah begitu banyak, kemurnian ajaran Islam, telah dinodai oleh propaganda busuk dan strategi keji dari dajjal laknatullah beserta para pengikutnya.

Dalam hubungannya dengan turunnya kembali nabi Isa as tersebut, terlebih dahulu diawali dengan persitiwa Dukhan yang akan menghukum dengan azab pedih bagi kaum yang tak beriman (lihat artikel sebelum ini tentang peristiwa Dukhan).

Dengan kajian numerik Al Qur’an, berikut ini akan disampaikan tentang azab pedih tersebut, yang pastinya juga akan menimpa sekelompok manusia pemuja maksiat sebagaimana yang pernah terjadi pada kaum nabi Luth as, yakni kaum homoseksual (LGBT).

Uraian kali ini, akan dimulai dengan keterkaitan sosok dari nabi Isa as, dimana keberadaan dan kelahirannya di Al Qur’an diabadikan di beberapa ayat, khususnya dalam penjabaran kali ini, akan difokuskan kaitannya dengan Qs. 19 Maryam, yang juga merupakan nama dari seorang wanita shaleha dan suci, ibundanya nabi Isa as itu sendiri.

Surat Maryam adalah surat ke 19. Dan dalam huruf hijaiyah huruf ke 19 adalah GHIN (غ). Atau dalam kesetaraan dengan huruf latinnya adalah huruf G, atau huruf ke 7.

Bila nilai 7 dan 19 ini dimasukkan ke dalam urutan kenabian dari 25 nabi, maka nabi ke 7 adalah nabi Luth as

Dan bila diurutkan dari nomor kenabian terakhir (25 / Rasulullah Muhammaf SAW), maka urutan nabi ke 19 (dari nabi terakhir) pun tepat jatuh pada nabi Luth as.
(Lihat tabel di bawah ini)

NOMOR URUT KENABIAN
————————————————————–
NO. NAMA NABI
—————————————————————-
01 Adam as → urutan ke 25 dari akhir*
02 Idris as
03 Nuh as
04 Hud as
05 Shaleh as
06 Ibrahim as
—————————————————————-
07 Luth as → urutan ke 19 dari akhir*
—————————————————————-
08 Isma’il as
09 Ishaq as
10 Ya’qub as
11 Yusuf as
12 Ayyub as
13 Dzulkifli as
14 Su’aib as
15 Yunus as
16 Musa as
17 Harun as
18 Ilyas as
19 Ilyasa as
20 Daud as
21 Sulaiman as
22 Zakaria as
23 Yahya as
24 ‘Isa as
25 Muhammad SAW →urutan ke 1 dari akhir*

Lalu, mari coba kita kalikan kedua nilai 7 dan 19 tersebut :

✒ 7 x 19 = 133
✒ Nilai 133 → 1 + 3 + 3 = 7

Nilai 133 tidak dapat dikonversikan sebagai nomor surat, karena nomor surat terakhir di Al Quran adalah 114.

Untuk itu nilai 133 terlebih dahulu dikurangi dengan nilai 114.

Sehingga :

✒ 133 – 114 = 19

Dari kedua metode hitung di atas, kembali diperoleh nilai 7 dan 19.

Dimana telah dijelaskan di atas, bahwa 7 adalah nomor kenabian dari nabi Luth as bila dihitung dari dari nabi pertama (Adam as)

Dan bila dihitung dari nomor kenabian terakhir (25) atau Rasulullah Muhammad SAW, maka nabi ke 19 dari akhir pun adalah nabi Luth as.

Ada apakah dari makna titik temu yang sama yaitu tepat pada nomor kenabian Luth as ?

Apakah azab pada zaman nabi Luth as akan terulang kembali, akibat kebejatan moral dan perilaku homoseksual yang sudah terang-terangan dilakukan saat ini ?

Qs. 11. Huud : 82

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar.

15. Al-Ḥijr : 73 – 74

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit (73), Maka Kami jungkir balikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.(74).

Pesan-pesan tersirat telah terlihat, begitu juga dengan kejadian atas kebejatan moral dan kemaksiatan telah terjadi secara terang-terangan, hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan kesungguhan dalam memperbaiki keterpurukan nilai-nilai moral yang bahkan sudah dilegalkan oleh oknum-oknum kaki tangannya dajjal laknatullah. Sebelum azab pedih dari Allah ditimpakan ke muka bumi ini.

Selanjutnya, nilai 19 bila dikonversikan menjadi nomor surat adalah Qs. Maryam, atau ibundanya nabi ‘Isa as.

Lalu lebih lanjut, nilai abjad dari lafadz Maryam (مريم) ini dijabarkan sbb :

▶ Huruf م : huruf ke 24
▶ Huruf ر : huruf ke 10
▶ Huruf ي : huruf ke 30
▶ Huruf م : huruf ke 24

Sehingga jumlah seluruhnya :

✒ 24 + 10 + 30 + 24 = 88

Surat ke 88 adalah Qs. Al Ghaasyiah (Hari Pembalasan).

Bukankah pertemuan nabi ‘Isa as dan dajjal laknatullah merupakan salah satu tanda dari akhir zaman (kiamat), dan didahului pula sebelumnya dengan peristiwa yang akan ditimpakan azab pedih, sebagai balasan atas kemaksiatan dan berbagai keingkaran sebelumnya..?

Selanjutnya…

✒ Qs. 88 Al Ghaasyiah berjumlah 26 ayat.

Kembali kepada perhitungan awal yang diperoleh nilai 7 dan 19.

Bukankah bila kedua nilai ini dijumlahkan (7 + 19) = 26 ?

Dimana nilai ini (26) adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 88, Al Ghaasyiah.

Memperhatikan nilai 7 (nomor kenabian dari nabi Luth as), ada 2 nilai lagi dari nomor kenabian yang terkait dengan nilai 7, yakni :

✒ Nabi ke 16, Musa as
✒ Karena nilai 16 → 1 + 6 = 7
✒ Dan nabi ke 25, Muhammad SAW
✒ Karena nilai 25 → 2 + 5 = 7

Dari nilai 25 (nomor kenabian dari Rasulullah Muhammad SAW), menjelaskan bahwa memang pada kenyataannya, kita sebagai ummat Islam saat ini, adalah merupakan bagian dari era ummat dari Rasulullah Muhammad SAW (yang akan mengalami seluruh kejadian di akhir zaman)

Sedangkan keterkaitan dengan nabi Musa as, akan lebih jelas terlihat melalui perhitungan sebelumnya di atas, yaitu dari perkalian dari nilai 7 x 19 = 133.

Karena dari awal penjelasan di atas jelas terlihat hubungannya dengan nabi ke 7 (Luth as), maka mari kita buka Qs. 7 Al A’raaf ayat 133 :

“Maka, Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa”.

Dari ayat tersebut pun, ternyata menjelaskan tentang azab dari Allah SWT, atas perilaku manusia yang sudah melampaui batas dalam menentang segala aturan dan ketetapan Allah SWT, pada era zaman nabi Musa as.

Lebih jauh lagi terkait dengan nilai 7, kali ini nilai 7 di deret hitungkan menjadi :

✒ 1 + 2 + 3+ 4 + 5 + 6 + 7 = 28
✒ Nilai 28 ini kembali dikaitkan dengan kenabian, dimana nilai ini (28) ternyata adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 71 Nuh.

Sebagaimana diketahui, dalam sejarahnya, azab yang terjadi pada zaman nabi Nuh as, sangatlah luar biasa, karena sampai berdampak secara global dan mendunia.

Kedua hal ini pun sangat memungkinkan kembali akan terulang, mengingat kebejatan moral yang terjadi saat ini bukan hanya terkait dengan homoseksual saja, namun masih sangat banyak kebejatan (prostitusi, zina, riba, korupsi, kecurangan, penyiksaan dan pembunuhan) serta berbagai kedzaliman lainnya yang terjadi di muka bumi ini.

Lebih jauh lagi, bila kita perhatikan nilai dari nomor surat dan jumlah ayat dari Qs. Nuh, yakni nomor suratnya 71 dan jumlah ayatnya 28, lalu kedua nilai ini dijumlahkan maka :

✒ 71 + 28 = 99
✒ Qs. 99 adalah Az Zalzalah (Goncangan) yang juga menggambarkan tentang peristiwa kiamat.

Terkait dengan nilai 99 ini, terkait juga dengan lafadz dari Mahdi (مهدى), yang kemunculannya  juga merupakan salah satu tanda di akhir zaman. Lihat tulisan sebelumnya tentang hadirnya Imam Mahdi.

Selain itu, nilai 99 ini pun terkait pula dengan nilai dari lafadz nama dari nabi Luth as, yakni :

✒ Lafadz nama nabi Luth as (لوط)
– ل : Huruf ke 23
– و : Huruf ke 26
– ط : Huruf ke 16

✒ Jumlahnya adalah 65
✒ Dalam urutan mushaf surat ke 65 adalah Qs. At Thalaq
✒ Dan surat Ath Thalaq ini pada urutan kronologis turunnya, ternyata diturunkan sebagai surat ke 99

Keterkaitan ini semakin memperjelas korelasi antara azab yang pernah terjadi pada kaum nabi Luth as, pun sangat mungkin akan terjadi kembali pada akhir zaman ini, seiring dengan azab pada peristiwa Dukhan terjadi.

Bahkan, sangat memungkinkan juga, azab-azab seperti yang pernah terjadi pada zaman nabi Musa as dan nabi Nuh as tersebut, akan terulang kembali, mengiringi azab sebagaimana yang juga pernah terjadi di zaman nabi Luth as.

Wallahu a’lam..

Sebagai uraian penutup, telah disampaikan sebelumnya tentang peristiwa akhir zaman (Dukhan). Dimana surat Ad Dukhan ini, pada urutan di mushaf Al Qur’an diabadikan sebagai surat ke 44.

Dan bila nilai 44 ini dikorelasikan dengan nomor surat yang diturunkan (sesuai kronologisnya turunnya), ternyata surat yang diturunkan sebagai surat ke 44 adalah :

✒ Qs. Maryam (Ibunda nabi Isa as).

Tentang keterkaitan nilai 19 ini dengan peristiwa di akhir zaman, telah dijelaskan di atas.

Selanjutnya, bila nilai 19 (nomor surat Maryam pada urutan mushaf), ini dijumlahkan kedua nilainya (1 dan 9) : 1 + 9 = 10 dan kemudian nilai 10 ini dikonversikan sebagai nomor ayat dari Qs. Dukhan, adalah :

44. Ad-Dukhan : 10

“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas”

Dengan keterkaitan (Qs. Maryam, turunnya Isa as dan Qs. Ad Dukhan) ini, menjelaskan bahwa, sudah barang tentu sekelompok orang yang melakukan dosa-dosa (sebagaimana yang pernah dilakukan juga oleh kaum pada masa nabi Luth as), akan terulang kembali azabnya, di akhir zaman. Bahkan jauh lebih dahsyat pedihnya. Sebagaimana yang telah dipaparkan dengan jelas dalam peristiwa Dukhan, baik melalui penjelasan berdasarkan Al Qur’an maupun hadist-hadist shahih.

—————————————————————-

Mengingat, berbagai tanda-tanda akhir zaman yang telah Rasulullah Muhammad saw sampaikan (melalui hadist-hadistnya) telah terlihat jelas di beberapa tahun belakangan ini.

Kembali penulis menyampaikan hal terkait azab pada zaman nabi Luth as (dan nabi-nabi lainnya) sangat mungkin kembali terulang, ditengah-tengah kebejatan moral yang jelas-jelas telah dilegalkan dan dianggap lumrah saat ini, bahkan sudah sampai mendunia.

Sebagai ummat Islam yang terus berupaya  istiqamah menjalankan aturan dan ketetapan Allah SWT, sudah sepatutnyalah kita perlu saling mengingatkan agar kita selalu dalam keadaan siap siaga serta waspada, dalam bentuk pertaubatan yang sesungguhnya. Demi terlindunginya orang-orang beriman yang tak bersalah, dari azab Allah SWT, akibat  segala perbuatan hina dari para penyembah syaitan yang terkutuk dan dajjal laknatullah.

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin..

Semoga bermanfaat, wassalam

Syaiful Husein
@jawara2020 – Numerik Al Quran

PERISTIWA AKHIR ZAMAN (DUKHAN / KABUT / ASAP)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dalam kajian kali ini, akan disampaikan tentang peristiwa Dukhan (Kabut/Asap), yang merupakan salah satu tanda menjelang akhir zaman (kiamat). Dan tentunya, sebagaimana biasa, analisa yang disajikan akan menggunakan metode numerik Al Qur’an.

Telah banyak kalangan tokoh-tokoh agama yang menyajikan kajian tentang hal ini, berlandaskan pada verbal terjemahan Al Quran dan referensi hadist-hadist shahih serta kitab ‘ulama. Untuk itulah, dalam kajian numerik Al Qur’an ini dihadirkan, dengan tujuan , Insyaa’ Allah, dapat melengkapi kajian-kajian yang ada sebelumnya.

Kajian ini, dimulai dengan mengamati posisi Qs. Ad Dukhan (Kabut) pada urutan kronologis diturunkannya, yakni sebagai surat yang diturunkan pada urutan ke 64.

Sedangkan pada posisi dalam mushaf Al Qur’an, surat ini diabadikan sebagai suratke 44. Atau dengan kata lain, “reposisi” surat ini mengalami pergeseran letak dengan selisih nilai nomor surat : 64 – 44 = 20.

Dengan hasil nilai selisih 20 ini, kemudian dikonversikan kepada surat yang berjumlah 20 ayat, yakni :

✒ Qs. Al Muzamil (yang berselimut)
✒ Qs. Al Balad (Negeri)

Dalam konteks peristiwa Dukhan (asap/kabut) yang merupakan salah satu tanda akhir zaman, kedua surat di atas (Qs. Al Muzamil dan Qs. Al Balad), yang memiliki arti “Yang berselimut” dan “Negeri”, dapat berkorelasi dengan makna gabungannya :

✒ Ad Dukhan : Kabut/asap
✒ Al Muzamil : Yang berselimut
✒ Al Balad : Negeri

Sehingga dengan gabungan ke 3 judul surat diatas, dapat dimaknai lebih lanjut yaitu sebagai peristiwa terjadinya “kabut/asap yang menyelimuti negeri-negeri”. Tentunya kabut yang begitu meluas kejadiannya, yang mendunia (seluruh negeri yang ada di muka bumi).

Qs. Al Muzamil berjumlah 20 ayat, begitu juga Qs. Al Balad pun berjumlah 20 ayat. Kedua nilai ini dijumlahkan menjadi : 20 + 20 = 40. Nilai 40 ini ternyata berkesesuaian dengan hadist yang menjelaskan, bahwa pristiwa terselimutinya dunia dengan kabut tersebut yaitu terjadi selama 40 hari.

Dan nilai 40 ini pun ternyata terkait juga dengan jumlah ayat dari ke 2 surat di bawah ini :

✒ Qs. Al Qiyamah (Kiamat), 40 ayat
✒ Qs. An Naba (Berita Besar), 40 ayat

Bukankah, peristiwa Dukhan ini merupakan “Berita besar” dan juga merupakan salah satu tanda yang terjadi menjelang hari “Kiamat” ?

Sebagai uraian lebih lanjut dari peritiwa besar di akhir zaman ini, kembali dijabarkan nomor surat dari Qs. 73 Al Muzamil dan Qs. 90 Al Balad, dengan penjabaran sbb :

✒ 73 + 90 = 163 dan
✒ 1 + 6 + 3 = 10

Lalu bila dirujuk juga kedua surat ini dengan sistem penomoran urutan kronologis turunnya surat, ternyata Qs. Al Muzammil diturunkan sebagai surat yang ke 3 sedangkan Qs. Al Balad diturunkan sebagai surat yang ke 35.

✒Berdasarkan nilai 3 dan 35 ini, kembali dijumlahkan menjadi : 3 + 35 = 38
✒ Dan nilai 38, ini pun kembali dijumlahkan : 3 + 8 = 11

Dalam konteks peristiwa Dukhan, maka selanjutnya ke 2 nilai di atas (10 dan 11) dikonversikan sebagai nomor ayat dari Qs. Ad Dukhan (Kabut), yaitu :

Qs. Ad-Dukhan : 10 – 11 :

“Maka tunggulah padahari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas (10), yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih (11)”.

Masyaa’ Allah.. demikian sempurna sistematika numeriknya. Menunjukkan keterkaitan yang sangat jelas, antara sistem numeriknya begitu juga dengan penjelasan verbal terjemahannya.

Masih terkait dengan nilai 20 dan 20 di atas, seperti yang banyak telah disampaikan oleh para tokoh agama belakangan ini (dengan merujuk pada hadist-hadist shahih, terkait peristiwa di akhir zaman), apakah peristiwa ini akan terjadi di tahun 2020 ini..??

Wallahu a’alam bishawab.

Kita hanya mampu berwaspada dalam keistiqamahan iman dan taqwa, agar kapan pun peristiwa itu akan terjadi, kita adalah termasuk kedalam golongan yang diselamatkan Allah (golongan orang yang beriman). Karena, nilai 40 tersebut juga terkait dengan Qs. 40 Al Mu’min (orang yang beriman).
Selanjutnya..

Nilai 64 (sebagai nomor urutan secara kronologis turunnya surat dari Qs. Ad Dukhan), bila dilihat sebagai urutan pada posisi urutan di mushaf Al Qur’an nya adalah Qs. 64 At Taghaabun (hari di ditampakkan kesalahan).

Yaa.. memang benarlah adanya, bahwa kelak pada peristiwa Dukhan tersebut, benar-benar akan diperlihatkan siapa-siapa yang diselamatkan dan yang tidak. Sesuai dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Akan terlihat jelas pada saat itu, orang-orang yang tidak beriman akan tersiksa bahkan musnah, dan sebaliknya, orang-orang yang beriman akan diselamatkan Allah.

Hal ini, secara numeriknya kembali diperlihatkan sistematikanya dengan penjumlahan dari nilai 64 dan 44 (keberadaan Qs. Ad Dukhan secara urutan kronologis turunnya dan sebagai urutan pada mushafnya), yakni :

✒ 44 + 64 = 108
✒Dan ternyata, urutan surat yang kronologisnya diturunkan sebagai surat ke 108, ternyata adalah Qs. At Taghaabun (Hari ditampakan kesalahan).

Subhanallah.. semoga kita termasuk golongan yang diselamatkan.

Kembali pada uraian di awal..

Dengan 2 posisi surat ini pada urutan kronologis turunnya dan sebagai urutan di mushafnya, yakni sebagai Qs. 44 dan Qs. 64, dapat kembali dijabarkan sbb :

A. QS. 64 AD DUKHAN (SEBAGAI SURAT YANG DITURUNKAN SEBAGAI SURAT KE 64)

Bila dikorelasikan dengan seluruh surat di Al Qur’an (1 s.d 114), posisi Qs. 64 ini, adalah sbb :
✒ Sebagai surat ke 64, berarti masih ada 63 surat sebelum surat ini (surat ke 1 sampai dengan surat ke 63) dan selanjutnya
✒ Masih ada 50 surat lagi setelahnya (surat ke 65 sampai dengan surat ke 114).

B. QS. 44 AD DUKHAN (SEBAGAI URUTAN DI MUSHAF YANG KE 44)

Bila dikorelasikan dengan seluruh surat di Al Qur’an (1 s.d 114), posisi Qs. 44 ini, adalah sbb :
✒ Sebagai surat ke 44, berarti masih ada 43 surat sebelum surat ini (surat ke 1 sampai dengan surat ke 43)
✒ Dan selanjutnya, masih ada 70 surat lagi setelahnya (surat ke 45 sampai dengan surat ke 114).

Perhatikan sistematika keterkaitan antara URAIAN A dan URAIAN B, di bawah ini :

✒ Pada URAIAN A, nilai 63 memiliki korelasi yang sangat erat dengan nilai 43 (pada URAIAN B).
✒ Karena ternyata, bila nilai 63 ini dikonversi sebagai nomor surat (berdasarkan kronologis turunnya) dan nilai 43 pun dikonversi sebagai nomor surat urutan di mushafnya, ternyata hasilnya adalah sama, yakni sebagai nomor surat dari Qs. Az Zukhruf.
✒ Sedangkan pada URAIAN B, nilai 70 yang memiliki korelasi yang sangat erat dengan nilai 44, karena Qs. 70 Al Ma’aarij ternyata berjumlah 44 ayat.

Selanjutnya..

Karena keterkaitan yang sama pada nilai 63 dan 43 di atas sebagai nomor surat yang sama, yakni Qs. Az Zukhruf, maka penjabarannya dapat dilanjutkan, sbb :
✒ Nilai 63 pada URAIAN A, dikonversikan sebagai NOMOR SURAT.
✒ Sedangkan nilai 43 (URAIAN B), dikonversikan sebagai JUMLAH AYAT.
✒ Dan ternyata nilai 43 ini merupakan jumlah ayat dari Qs. 13 Ar Ra’du (43 ayat) dan
✒ Dan nilai 50 (URAIAN A) dan nilai 70 (URAIAN B), tetap dikonversikan sebagai nomor surat.

Sehingga..

Dari URAIAN A, diperoleh 2 surat, yaitu :
✒ Qs. 63 AzZukhruf
✒ Qs. 50 Al Israa’

Dan dari URAIAN B nya, diperoleh 2 surat juga, yaitu :
✒ Qs. 13 ArRa’du
✒ Qs. 70 Al Ma’aarij

Perhatikan hasil dari penjumlahan 2 JUMLAH AYAT pada URAIAN A :

✒ Qs. 63 Az Zukhruf : 89 ayat
✒ Qs. 50 Al Israa’ : 111 ayat
✒ Penjumlahan ayatnya adalah : 89 + 111 = 200
✒ Sehubungan di Al Qur’an nomor surat tertingginya adalah 114, maka nilai 200 di atas, dikurangi nilai 114 terlebih dahulu, untuk mendapatkan nomor suratnya.
✒ Sehingga nomor suratnya adalah : 200 – 114 = 86
✒ Karena URAIAN A, terkait dengan sistem urutan kronologis turunnya surat, maka nilai 86 inipun dikonversikan sesuai nomor urutan kronologis turunnya.
✒ Dan ternyata surat yang diturunkan sebagai surat ke 86, adalah Qs. 86 Al Muthafifin

Perhatikan juga hasil dari penjumlahan 2 NOMOR SURAT pada URAIAN B :

✒ Qs. 70 dan Qs. 13, menjadi : 70 + 13 = 83
✒ Suratke 83, dalam urutan di mushaf Al Qur’an adalah Qs. 83 Al Muthafifin

Luar biasa, dengan 2 penjabaran yang berbeda di atas, ternyata hasil dari URAIAN A dan B, sama-sama menghasilkan Qs. Al Muthafifiin (Orang-orang yang curang).

Dalam konteks peristiwa Dukhan dari perolehan Qs. Al Muthafifiin ini, menjelaskan tentang golongan yang akan memperoleh balasan yang buruk, mereka benar-benar akan tersiksa dengan peristiwa Dukhan ini.

Tentunya kecurangan yang dimaksud di sini, bermakna sangat luas dalam berbagai aktifitas kehidupan. Karena dengan karakter yang curang ini tentu akan ikut menyertai pula sifat-sifat buruk yang lain, seperti kemunafikan dan kemusyrikan. Karena dalam setiap melakukan tindak kecurangan, tentu akan diiringi pula dengan karakter berbohong, tidak amanah dan berkhianat (3 ciri utama orang munafik).

Dan lebih jauh dari itu, untuk mencapai tujuan buruk dari kecurangan yang dilakukan, akan di ikuti pula dengan menyertakan bantuan-bantuan syetan terkutuk, dalam bentuk praktek perdukunan, bersekutu dengan jin. Tentunya tindakan-tindakan ini sudah masuk dalam dosa kemusyrikan.

Setelah dibahas tentang golongan yang akan sangat tersiksa pada peristiwa Dukhan tersebut, bagaimana dengan golongan yang akan diselamatkan ?

Mari kita kembali pada uraian dari Qs. Ad Dukhan.

Dalam 2 uraian sebelumnya (URAIAN A dan B), dibahas tentang 2 posisi dari Qs. Ad Dukhan, yang berjumlah 59 ayat.

Karena uraian di atas terkait dengan 2 posisi dari Qs. Ad Dukhan, maka selanjutnya jumlah ayatnya pun (59 ayat), diperhitungkan 2 kali. Atau nilai 59 ayat ini dikalikan 2, sehingga menjadi : 59 x 2 = 118

Terkait dengan apakah nilai 118 ini ?!

Ternyata nilai 118 ini terkait dengan jumlah ayat dari Qs. Al Mu’minuun (Orang-orang yang beriman).

Yaa.. demikianlah adanya, kelak pada peristiwa Dukhan tersebut, golongan orang-orang yang beriman, insyaa Allah, akan terlindungi dan diselamatkan.

Sebagai penjabaran pelengkap dan juga uraian penutup dalam kajian kali ini, kembali kepada nilai, 64.

Bila dikonversikan sebagai jumlah ayat, adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 24 An Nuur (Cahaya). Kemudian, bila nilai 24 ini diambil juga surat ke 24, dari surat terakhir di urutan mushaf Al Qur’an, yakni jatuh pada Qs. 91 Asy Syams (Matahari).

Kedua surat ini Qs. An Nuur (Cahaya) dan Qs. AsySyams (Matahari) pun terkait dengan peristiwa Dukhan tersebut, dimana selama 40 hari akibat Dukhan yang begitu tebal dan meluas ke seluruh negeri di dunia ini, sehingga cahaya matahari sampai tertutup, dan terjadi kegelapan total di seluruh dunia.

Untuk lebih menjelaskan tentang peristiwa Dukhan yang akan menutupi cahaya matahari ini, perhatikan juga tabel di bawah ini, yang terbagi dalam 3 kolom, di mana setiap kolomnya terbagi dalam 38 surat (nomor-nomor suratnya DIURUTKAN sesuai dengan urutan kronologis turunnya surat).

InShot_20200120_204422970
Catatan :
▶ Landasan 114 surat di bagi kedalam 3 kolom ini (sehingga masing-masing kolom berjumlah 38 surat) adalah sesuai dengan “rumusan” dari Qs. 38 Shaad, yang secara urutan kronologis turunnya dan juga posisinya dalam urutan mushaf Al Qur’an, TETAP BERADA pada posisi urutan ke 38.
▶ Selain itu, nilai 38 ini pun diambil sebagai rujukkan karena terkait dengan “rumusan” jumlah ayat dari Qs. Muhammad (38 ayat), sebagai sang penerima wahyu Allah (114 surat di Al Qur’an).

Perhatikan Qs. 64 Dukhan yang berada pada KOLOM TENGAH (kolom ke 2). Surat ini (lihat baris ke 26) diapit oleh 2 surat, yakni :

✒ Kolom 1 : Qs. 26 AsySyams (Matahari)
✒ Kolom 2 : Qs. 64 Ad Dukhan (Kabut)
✒ Kolom 3 : Qs. 102 An Nuur (Cahaya)

Ke 3 surat ini (TULISAN BERWARNA MERAH) semakin menjelaskan tentang peristiwa Dukhan tersebut, dimana akibat kabut/asap yang demikian tebal, maka seluruh permukaan bumi terselimuti/tertutup dan dipenuhi oleh kabut. Sehingga cahaya matahari pun tak dapat menembusnya, terjadi kegelapan total..!

An Nuur dengan peristiwa Dukhan. Lantas bagaimana keterkaitan kedua surat ini bila ditinjau melalui tabel surat sesuai urutan mushafnya ?

Untuk itu, mari kembali kita amati korelasi dari Qs. Asy Syams dan Qs. An Nuur, dengan merujuk pada tabel berdasarkan nomor-nomor surat sesuai dengan urutan pada mushaf Al Qur’an (LIHAT TULISAN BERWARNA MERAH).

Sama halnya dengan tabel sebelumnya, pembagian daftar 114 ini pun dibagi dalam 3 kolom, dimana masing-masin kolomnya terdiri dalam 38 surat. (LIHAT TABEL yang ke 2 di bawah).

DAFTAR SURAT DI MUSHAF

A. KETERKAITAN DENGAN QS. 91 ASY SYAMS (MATAHARI)

Posisi Qs. 91 Asy Syams, ternyata tepat berada pada baris ke 15, sama dengan jumlah ayat dari surat ini yakni 15 ayat. Dan pada urutan ke 15 di kolom pertama tepat jatuh pada Qs. Al Hijr yang bila disetarakan lafadznya (Hijr) memiliki kesetaraan dengan lafadz Hajr yang berarti batu.

Sedangkan pada kolom ke 2 nya, tepat jatuh pada Qs. 53 An Najm (Bintang), yang merupakan “benda langit”. Lalu apabila judul surat dari ke 3 surat ini pemaknaannya ini digabungkan :

▶️ Qs. 15 Al Hijr, bersetaraan dengan hajr (batu)

▶️ Qs. 53 Najm (Bintang) : benda langit.

▶️Qs 91 Asy Syams (Matahari) : benda langit yang memiliki suhu panas sangat tinggi

Dapat menjadi makna yang berkaitan yaitu : Bebatuan – Pecahan dari bintang (bintang berekor/meteor) – yang memiliki kadar hawa panas tinggi.

Terkait dengan konteks peristiwa Dukhan, hal inilah yang menjadi sebab terjadinya keadaan Dukhan saat itu. Dimana “hujan batu meteor” yang datang dari arah langit dan bersuhu panas  sangat tinggi dan kemudian terjadi pula “gesekan” ketika melintasi atsmosfir menuju bumi, mengakibatkan peristwa dahsyat berupa Dukhan (kabut) yang luar biasa tebal dan akan menyelimuti serta menutupi dunia.

B. KETERKAITAN DENGAN QS. 24 AN NUUR (CAHAYA)

Posisi Qs. 24 An Nuur ini, berada pada baris ke 24, berada pada kolom pertama. Sedangkan pada kolom keduanya adalah Qs. 62 Al Jum’ah dan kolom ke tiga nya adalah Qs. 100 Al ‘Aadiyat.

Perhatikan kolom keduanya, dimana tepat jatuh pada surat ke 62 (Al Jum’ah / Hari Jum’at). Nilai dari nomor surat ini (62), ternyata juga merupakan jumlah ayat dari Qs. 53 An Najm (pada penjabaran A di atas). Dan sama-sama berada pada kolom yang ke 2.

Dengan keterkaitan ini, menunjukkan sebuah “indikasi/tanda” keterkaitan “hujan batu/meteor” dari langit ini dengan “hari Jum’at”. Apakah ini merupakan sebuah pesan, bahwa peristiwa itu akan terjadi pada hari Jum’at ? Wallahu a’lam.

Lantas bagaimana keterkaitan peristiwa Dukhan ini dengan Qs. 100 Al ‘Aa diyat (Kuda Perang) ?

Perhatikan verbal terjemahan dari surat ke 100 ini pada 4 ayat awalnya :

“Demi kuda yang berlari kencang (1), dan kuda yang memercikan api (2), dan kuda yang menyerang tiba-tiba pada waktu subuh/pagi (3), sehingga menerbangkan debu (4)

Bila makna ini dikorelasikan dengan peristiwa “hujan batu meteor”, akan menggambarkan sebuah keadaan yang memiliki kesamaan makna, dimana hujan batu meteor tersebut bagaikan “kuda-kuda” yang “berlari kencang” menghampiri bumi, memercikkan api (tentunya api akan menghasilkan panas), sehingga memberikan dampak debu yang berterbangan (debu di sini adalah perumpaan makna dampak kabut yang terjadi).

Pemaknaan di atas akan semakin jelas dengan sistematika numerik dari lafadz yang terkandung pada lafadz judul surat ini, yakni ‘Aadiyat (عديت) yang bila dijabarkan nilai abjad numeriknya adalah :

▶️ ع : Abjad ke 18
▶️ د : Abjad ke 8
▶️ ي : Abjad ke 30
▶️ ت : Abjad ke 3

Sehingga jumlah seluruhnya adalah : 18 + 8 + 30 + 3 = 59.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, bahwa nilai ini sangat terkait dengan Qs. Ad Dukhan, karena nilai ini (59) adalah merupakan  jumlah ayat dari Qs. Ad Dukhan.

Artinya, dapat disimpulkan, bahwa Qs. Al ‘Aadiyat ini pun memiliki keterkaitan yang erat dalam penjelasan dari peristiwa Dukhan itu sendiri. Terlebih bila secara lengkapnya lafadz judul ini diambil kelengkapannya dengan disertai huruf awalnya (ال) yang bernilai 31, sehingga total keseluruhan dari lafadz ini menjadi :

▶️ 31 + 18 + 8 + 30 + 3 = 90
▶️ Nilai ini terkait dengan penjabaran di awal tentang Qs. 90 Al Balad (20 ayat)

Kembali pada Qs. 62 (Al Jum’ah) pada kolom kedua. Surat ini berjumlah 11 ayat, sehingga bila dijumlahkan nomor surat dan jumlah ayatnya akan menghasilkan nilai :

▶️ 62 + 11 = 73
▶️ Nilai ini pun ternyata sangat terkait dengan penjabaran di awal tentang Qs. 73 Al Muzammil (Yang berselimut), dengan jumlah 20 ayat.

Subhanallah, Alhamdulillaah, Allahu Akbar dan segala pujian hanya untuk Allah semata, yang telah menata dan menetapkan setiap kejadian di akam semesta ini, sedemikian sempurna kerapian sistematikanya, termasuk “tercatat” pula kesempurnaan itu dalam setiap makna tersurat dan tersirat yang terkandung dalam Kitab Suci-Nya, Al Qur’an Al Kariim, Kitab Petunjuk tentang segala kejadian dan peristiwa yang telah DitetapkanNya.

________________________________________________

Referensi-referensi lain tentang peristiwa Dukhan :

Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Hudzaifah bin Usaid radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda : bencana penenggelaman manusia ke tanah di negeri barat, negeri timur dan di jazirah Arab, terjadi ad Dukhan, munculnya dajjal, munculnya dabbah, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, munculnya api yang keluar cekungan Aden yang mengusir manusia” (HR. Muslim no.2901).

Dari Abu Malik Al Asy’ari radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya Rabb kalian memperingatkan kalian dari tiga hal : asap/Dukhan yang jika mengenai orang Muslim maka mereka merasakan seperti pilek, sedangkan jika mengenai orang kafir maka mereka akan sesak nafas dan keluar cairan dari kuping mereka, kemudian yang kedua munculnya dabbah dan yang ketiga munculnya dajjal” (HR. Thabrani, dihasankan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 7/235).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
“Akan datang Dukhan (asap) kepada manusia di hari kiamat, yang memasuki pernapasan mereka, sehingga mereka akan merasakan seperti pilek” (HR. Muslim no.2798).

Dalam riwayat Hudzaifah bin Usaid radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda :
“Dukhan itu memenuhi timur dan barat. Tinggal selama 40 hari. Untuk orang mukmin, mereka terkena paparan sehingga seperti orang pilek. Sementara orang kafir, seperti orang mabuk. (Tafsir at-Thabari, 25/68).

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :
“Pada ummat ini akan terjadi (di akhir zaman) penenggelaman bumi, hujan batu dan pengubahan rupa”, ada seorang dari kaum muslimin yang bertanya, “Kapankah peristiwa ini akan terjadi ?”, Rasulullah menjawab, “Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamr telah dianggap halal” (HR. Tirmizi No. 2212, Ibnu Majah No. 4060).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abdullah bin Abu Malikah, ia berkata :
“Pada suatu pagi saya pergi kepada Ibnu Abbas. Maka ia berkata, “Malam tadi aku tidak dapat tidur sampai pagi”. Aku bertanya, “Apa sebabnya”, beliau menjawab : “Karena orang-orang berkata bahwa bintang berekor sudah terbit, maka saya cemas akan kedatangan Dukhan yang sudah mengetuk pintu, sehingga saya tidak dapat tidur sampai pagi”.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mencantumkan perkataan Ali bin Abi Thalib yang berbunyi :
“Dukhan belum terjadi, orang mukmin akan menjadiseperti orang pilek. Lalu asap itu menghembus orang kafir sampai binasa.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/249).

Selain itu, Ibnu Umar pun mengatakan :
“Akan keluar Dukhan, lalu orang mukmin terkena imbasnya hingga seperti orang pilek. Lalu asap ini masuk ke telinga orang kafir dan munafik sehingga kepala mereka seperti kepala hewan panggang.” (Tafsir at-Thabari, 22/17).

Setelah Ibnu Katsir menyebutkan riwayat yang mendukung tentang keberadaan Dukhan di masa mendatang, lalu beliau mengatakan :
Demikian pendapat masalah Dukhan, dari kalangan sahabat, dan tabiin, disertai hadis marfu’, yang shahih, hasan, maupun yang lainnya, yang kami sebutkan, merupakan dalil yang jelas bahwa Dukhan termasuk tanda kiamat yang masih ditunggu (belumdatang), disamping itu sesuai dengan makna teks al-Quran. (Tafsir Ibn Katsir, 7/249)

Akhirul kalam, demikian tulisan singkat ini penulis sampaikan. Semoga menjadi motivasi, agar kita ummat Islam selalu mewaspadai setiap peristiwa besar yang akan terjadi di akhir zaman, dalam keistiqamahan iman dan taqwanya.

AamiinYaaRabbal ‘Aalamiin..
Wassalam

SyaifulHusein – 0813 1724 9922
@Jawara2020-Numerik Al Quran

Tentang Maulud Nabi Muhammad SAW dan Sistem Penanggalan Islam (Sistem Hijiriyah)

Terlepas dari 2 pendapat tentang pelaksanaan Hari Maulud Nabi Muhammad SAW, dimana ada yang melaksanakan dan ada juga yang melarangnya.

Inti dari penulisan ini adalah ingin menyampaikan, tentang sejauh manakah kita sudah mengenal dan mengetahui tanggal kelahiran kita menurut perhitungan penanggalan Hijriyah ? Dan lebih jauh lagi adalah, sebesar apakah kepedulian kita terhadap perhitungan penanggalan Islam tersebut (sistem Hijriyah) ?

Dalam kajian yang saya lakukan, sebagian besar jama’ah yang hadir tidak dapat menjawab dan mengetahui tanggal kelahirannya, bila dihitung dengan sistem penanggalan Hijriyah.

Bahkan, tidak hanya sampai di situ, ternyata setelah ditanyakan lebih lanjut tentang nama-nama bulan Islam (dari bulan pertama sampai bulan terakhir) pun, hampir semua tidak mengetahuinya.

📝Sedemikian tidak pentingnya kah, penanggalan sistem Hijriyah bagi ummat Islam ?

📝 Sedemikian pentingnya kah memperingati tanggal kelahiran kita versi penanggalan masehi ? Sehingga tanggal sistem Hijriyahnya tidak perlu diketahui, diabaikan begitu saja ?

Hari-hari utama yang begitu penting dalam keIslaman, dimana sebagiannya terkait pula dengan kaidah-kaidah ibadah, seluruhnya berdasarkan sistem penanggalan Hijriyah, seperti :

  • Nuzul Al Qur’an : 17 Ramadhan
  • Israa’ Mi’raj : 27 Rajab
  • Shaum : Ramadhan
  • ‘Idul Fithri : Syawal
  • Rukun Hajji/ Idhul Adha : Dzulhijjah
  • 1 Muharam : Tahun Baru Islam

Lantas, mengapa sistem penanggalan Islam (sistem Hijriyah) lebih TIDAK DIKENAL, bagi ummat islam itu sendiri..?

Sudah selayaknyalah, sebagai ummat Islam, kiranya harus peduli juga terhadap sistem penanggalannya.

Bukankah dalam firmanNya (Qs. 103 Al ‘Ashr), Allah bersumpah tentang waktu ?

Artinya konsep waktu sedemikian vital dan sangat penting untuk diperhatikan !

Tentunya pesan yang dapat diambil dari sumpah Allah tersebut, selain kaidah-kaidah untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dengan amalan-amalan dan ibadah yang diwajibkan/disunnahkan, terkandung juga sebuah pesan penting, untuk memperhatikan tentang konsep perhitungan waktu itu sendiri, yakni sistem perhitungan masehi dan tentunya juga sistem penanggalan dalam Islam (Hijriyah) !!

Demikian disampaikan, semoga tulisan ini bermanfaat, demi menggugah kesadaran kita tentang kepedulian terhadap perhitungan waktu dalam Islam, sebagai ummat islam, tentunya SANGAT.. SANGAT.. SANGAT.. LAYAK UNTUK MENGETAHUINYA..

Wassalam

Syaiful Ipunk Husein

@jawara2020-Numerik_AlQuran

Lailatul Qadr

💫 Tentang Al Lail dan Al Qadr 💫

Bila selama ini sering dibahas, numerik Al Quran melalui nomor-nomor surat sesuai urutan di mushaf, mari kali ini kita bahas dari nomor-nomor surat sesuai urutan kronologis turunnya.

Tabel 114 surat menurut kronologis turunnya :

FB_IMG_1579175384766

Tentunya masih terkait dengan Lailatul Qadr. Dengan merujuk pada surat Al Lail dan Al Qadr.

✴ Surat Al Lail, diturunkan sebagai surat ke 9.
✴ Surat Al Qadr, diturunkan sebagai surat ke 25.

Mari kita lihat koneksinya dengan nomor urutnya di versi mushaf.

✴ Surat ke 9 At Taubah, bulan ke 9 Ramadhan, bulan taubat
✴ Surat ke 25 Al Furqan (Al Quran), nabi ke 25 Muhammad SAW.

“Al Quran diturunkan pada bulan Ramadhan, di malam Lailatul Qadr, kepada Rasulullah Muhammad SAW”

Sangat jelas keterkaitannya bukan..?

Kita lanjutkan..(dengan nomor urut krnologis turunnya) :

✴ Jumlah ayat surat Al Lail : 21 ayat
✴ Jumlah ayat surat Al Qadr : 5 ayat

Sehingga no surat dan jumlah ayatnya ditambahkan :

✴ Nilai di surat Al Lail : 9 + 21 = 30
✴ Nilai di surat Al Qadr : 25 + 5 = 30

Ternyata sama-sama menghasilkan nilai 30..! Atau sama dengan jumlah juz di Al Quran.

Masih dapat dilanjutkan (dari penjabaran sebelumnya) :

Uraian A :
✴ 9 + 2 + 1 = 12
✴ 2 + 5 + 5 = 12
Jumlah = 12 + 12 = 24

Uraian B :
✴ 9 + 2 + 1 = 12 → 1 + 2 = 3
✴ 2 + 5 + 5 = 12 → 1 + 2 = 3

✅ Jumlah = 3 + 3 = 6

Uraian A + B = 24 + 6 = 30

Hasil akhirnya pun bernilai 30 (jumlah juz di Al Quran)

Dan bukan kah, di bulan ini moment bertadarus Al Quran 30 juz, dicanangkan..?

Lantas apakah keterkaitan 30 juz dengan Lailatul Qadr..?

(Pada gambar yang dilampirkan, akan diperlihatkan ttg keterkaitannya).

FB_IMG_1579175373356FB_IMG_1579175378431

Yaa.. pencapaian Lailatul Qadr ternyata sangat terkait dengan upaya pengenalan akan diri kita sendiri. Kenal diri, tau akan batasan diri, dalam rangka menggapai kesadaran diri sebagai hamba Allah, yang selalu berupaya menggapai nilai-nilai taubat (pembersihan diri) dalam arti yang sesungguhnya, sehingga kelak akan memperoleh predikat sebagai hambaNya yang beriman, taat dan bertaqwa.

Jalur pengenalan diri adalah merupakan jalur dalam pencapaian pengenalan akan Rabb kita, Allah SWT. Kenalilah diri mu maka kelak kamu akan mengenali Rabb mu.

 

Adakah nilai yang lebih baik dari pada pencapaian pengenalan akan diri Nya..?

Yaa.. itulah pencapaian Lailatul Qadr.. pencapaian tertinggi menuju pendekatan diri ke wilayah dimensi RidhaanNya, keMahaanNya. Sedekat mungkin. Butuh proses.. butuh ikhtiar.. butuh waktu..!

Sehingga, dapat disadari bahwa inti dari pencapaian Lailatul Qadr adalah ketika Al Quran (kepahaman akan ilmunya) diperkenankan Allah SWT untuk turun ke dalam qalbu kita, sehingga kemudian dapat diimplementasikan dalam kehidupan dan mampu memberikan manfaat kepada orang banyak. Hubungan dengan sesama makhluk dan hubungan kepada Allah, selalu diupayakan dalam pembenahan tanpa henti.

Dan parameter pencapaian tersebut akan terlihat dari indikasi dari perubahan akhlaq kita yang semakin bertambah baik dan meningkat kualitas ibadahnya.

Seandainya, setiap malam di bulan Ramadhan diupayakan terus untuk mendapatkan Lailatul Qadr, tentu dari sisi dimensi waktu akan dapat diraih.

Namun, apabila setelah pencapaian itu ternyata tidak memberikan dampak positif kepada perbaikan akhlaq dan bertambahnya kualitas ilmu dan ibadah kita..?? lantas.. kemanakah perginya pencapaian keberkahan Lailatul Qadar yang “sesolah-olah” sudah kita raih tersebut..?

Perlu direnungkan kembali, himbauan, teguran dan peringatan Allah dalam Firman-FirmanNya, agar kita selalu menggunakan akal dan dituntut untuk selalu berfikir atas setiap pesan yang Dia sampaikan. Baik melalui Al Quran maupun melalui Sunnah RasulNya.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang dapat meraih keberkahan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan tahun ini, dalam arti yang sesungguhnya…

 

Syaiful Husein – 0813 1724 9922

@jawara2020 – Numerik Al Qur’an

Tentang Kesamaan Nama Antara Imam Mahdi dan Rasulullah Muhammad saw.

Dalam sebuah referensi hadist shahih, dikatakan :

Dari Al-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, yakni :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ العَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي

Dari Abdullah bin Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak kiamat dunia ini sampai seorang laki-laki dari ahli baitku menguasai bangsa Arab. *Namanya sesuai dengan namaku* . (HR. Al-Tirmidzi)_

Berdasarkan hadist di atas, jelas bahwa Imam Mahdi pun bernama Muhammad Bin Abdullah, sebagaimana nama dari baginda Rasulullah Muhammad saw.

Sebagaimana referensi dari hadist di atas, selanjutnya kita akan coba menganalisanya dengan menggunakan metode numerik Al Quran, dimulai dengan penjabaran dari lafadz Mahdi sbb (مهدى) :

InShot_20200115_094210623

✒ م : huruf ke 24
✒ ه : huruf ke 27
✒ د : huruf ke 8
✒ ى : huruf ke 40

Jumlah nilai abjadnya adalah :

▶ 24 + 27 + 8 + 40 = 99

Catatan :
▶ Dalam parameter numerik Al Qur’an, huruf Ya dengan titik (ي) dibedakan dengan huruf Ya tanpa titik (ى)
▶ Dimana huruf Ya bertitik (ي) nilainya 30, sedangkan Ya tanpa titik (ى) nilainya adalah 40.

Kemudian, untuk keterkaitan persamaan nama ini, akan lebih jauh kita analisa, dengan menyertakan lafadz dari Muhammad (محمد), dengan uraian sbb :

Nilai lafadz Muhammad (محمد) :

InShot_20200116_174514359

 

✒ م : huruf ke 24
✒ ح : huruf ke 6
✒ م : huruf ke 24
✒ د : huruf ke 8

Jumlahnya adalah : 62

Kemudian masing-masing hasil penjumlahan dari latadz Mahdi dan Muhammad, kembali dijumlahkan :

✒ Penjumlahan keduanya : 99 + 62 = 161
✒ Jumlah surat di Al Qur’an adalah 114, artinya tidak ada surat ke 161
✒ Untuk itu nilai 161 dikurangi terlebih dahulu dengan nilai 114 untuk diperoleh nomor suratnya
✒ Sehingga diperoleh nilai : 161 – 114 = 47
✒ Surat ke 47 adalah Qs. Muhammad.

Masyaa Allah.. ternyata hasil penjumlahan dari nilai lafadz Mahdi dan Muhammad, menghasilkan nomor surat Qs. Muhammad di Al Qur’an !!

Benar-benar terbukti hadist Rasulullah di atas yang mengisyaratkan tentang kesamaan nama antara nama Imam Mahdi dan dirinya (Muhammad).

Penjabaran di atas akan semakin diperkuat lagi, dengan uraian selanjutnya.

Perhatikan kembali penggabungan nilai dari lafadz Muhammad dan Mahdi, bila digabungkan dalam satu uraian, di bawah ini :

Lafadz Muhammad dan Mahdi :

 م + م = 24 + 24 = 48 ◀️
ح + ه = 6 + 27 = 33 ◀️
م + د = 24 + 8 = 32 ◀️
د + ى = 8 + 40 = 48 ◀️

Jumlah gabungan keseluruhan abjadnya : 161

Bila nilai gabungan abjad di atas dikonversikan sebagai nomor surat, maka dapat dilihat sbb :

▶ Qs. 48 Al Fath.     : 29 ayat
▶ Qs. 33 Al Ahzab  : 73 ayat
▶ Qs. 32 As Sajdah : 30 ayat
▶ Qs. 48 Al Fath.     : 29 ayat

Jumlah keseluruhan ayatnya : 161

Dengan uraian di atas sama-sama diperoleh nilai 161 !!

Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa bila nilai 161 dikurangi nilai 114 adalah :

▶ 161 – 114 = 47

Artinya, baik ditinjau dari penjumlahan gabungan abjadnya maupun konversi nomor suratnya (dijumlahkan ayat-ayatnya), keduanya menghasilkan nilai yang sama, yakni 47.

Atau dengan kata lain, ada 2 nilai 47 (Qs. Muhammad), yang dapat pula dikorelasikan sbb :

▶ Qs. 47 Muhammad pertama adalah sebagai Rasulullah saw
▶ Qs. 47 Muhammad kedua, adalah dalam korelasinya nama Muhammad sebagai nama dari Imam Mahdi.

Lantas bila dijumlahkan ke 2 nilai 47 tersebut adalah :

▶ 47 + 47 = 94

Terkait dengan apakah nilai 94 di sini..?

Ternyata nilai 94 ini terkait juga dengan jumlah nilai dari lafadz nama dari nabi Ibrahim as, seperti penjabaran sbb :

InShot_20200116_182307181

 

 ا : Huruf ke 1 ◀️
ب : Huruf ke 2 ◀️
ر : Huruf ke 10 ◀️
ه : Huruf ke 27 ◀️
ي : Huruf ke 30 ◀️
م : Huruf ke 24 ◀️

Jumlahnya adalah : 94

Semakin jelas sekarang, bukan kah nabi Ibrahim as adalah kakek leluhurnya dari Rasulullah Muhammad saw ?

Hal ini juga membuktikan bahwa misi dari Imam Mahdi di akhir zaman kelak, adalah dalam rangka memurnikan ketauhidan kepada Allah SWT, sebagaimana yang diteladani jauh sebelumnya oleh Rasulullah Muhammad saw dan nabi Ibrahim as (Bapak Tauhid).

Masyaa Allah, kembali terlihat sistematika sempurna dari nilai-nilai numerik Al Qur’an, kitab terbenar kitab termurni, sistematika yang hanya mungkin diciptakan oleh Allah, mustahil ada makhluk-Nya yang akan mampu menciptakan sistematikan demikian sempurnanya.

Begitu juga dengan misi dari nabi Isa as dan Imam Mahdi, adalah untuk mengembalikan kemurnian risalah dari Rasulullah Muhammad saw, yang telah banyak di rusak dan dikotori oleh musuh-musuh Islam, kaki tangannya dajjal laknatullah.

Keterkaitan ini juga akan diulas melalui lafadz dari nama nabi Isa as dan Imam Mahdi, yaitu :

✒ Nilai lafadz nama nabi Isa as : 100

images (24)

ع  : huruf ke 18
ي  : huruf ke 30
س : huruf ke 12
ى  : huruf ke 40

Jumlahnya : 100

✒ Nilai lafadz Mahdi : 99
✒ Jumlah dari keduanya : 100 + 99 = 199
✒ Untuk mendapatkan nomor suratnya, nilai 199 ini dikurangi 114
✒ 199 – 114 = 85

Ternyata nilai 85 ini pun terkait juga dengan Qs. 47 Muhammad, 38 ayat. Karena jumlah dari nomor surat + jumlah ayatnya : 47 + 38 = 85.

Bila lebih jauh nilai 85 ini adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 40 Al Mu’min. Bukankah kelak Imam Mahdi muncul dan dibai’at pada usia 40 tahun ? Sama halnya dengan usia Muhammad, ketika diangkat menjadi Rasulullah.

Allahu Akbar.. demikian sempurna sistematika numeriknya..!!

Dalam mengemban misinya (nabi Isa as dan Imam Mahdi) di akhir zaman kelak, untuk memurnikan risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad saw, tentunya tak akan lepas pula dari misi untuk memurnikan ketauhidan yang jauh sebelum itu telah disampaikan pula oleh sang Bapak Tauhid, kakek leluhurnya Rasulullah Muhammad saw, yaitu Ibrahim as.

Sebagaimana tulisan sebelumnya, hal tentang misi ketauhidan ini juga tersirat dalam kandungan nilai-nilai numerik yang ada pada Qs. 61 Ash Shaff.

Demikian penjelasannya :
▶ Penegasan kepada bani Israil tentang akan hadirnya, nabi terakhir, setelah nabi ke 24 (Isa as), di isyaratkan pada ayat ke 6 nya :

Qs. 61. Aṣh-Ṣhaff : 6

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

▶ Ayat ini tertera pada ayat ke 6. Hal ini bila dikoneksikan dengan nomor kenabian yang ke 6, adalah nabi Ibrahim as.
▶ Jumlah keseluruhan ayat pada Qs. Ashaf ini adalah 14 ayat.
▶ Bila nilai ini dikonversikan sebagai nomor surat akan terkait juga dengan nabi Ibrahim as juga, karena surat ke 14 adalah Qs. Ibrahim.

Dari nilai 6 dan 14 di atas, sama-sama terkait dengan nabi Ibrahim as (yang dikenal pula gelarnya sebagai Bapak Tauhid).

Selanjutnya, bila diperhitungkan lebih jauh lagi, dapat dilihat dalam uraian dibawah ini :

▶ Selisih dari nilai 14 dan 6 adalah : 14 – 6 = 8
▶Nilai 8 ini kembali dikoneksikan dengan nomor kenabian
▶ Dan yang diangkat oleh Allah sebagai nabi ke 8, adalah nabi Isma’il as, putranya nabi Ibrahim as.

Dalam jalur silsilahnya Rasulullah Muhammad as adalah melalui jalur garis keturunannya nabi Isma’il as. Sedangkan nabi Isa as, melalui jalur garis keturunan nabi ke 9, Ishaq as yang juga merupakan putra dari nabi Ibrahim as.

Bahkan sampai kapan waktunya Rasulullah Muhammad saw akan dihadirkan ke muka bumi ini, tersirat juga dalam nilai numerik di surat ini. Sesuai penjelasan di bawah ini :

▶ Nilai 14 dari Qs. Ash Shaff ini kembali dilanjutkan uraiannya.
▶ Nilai 14 ini dihitung nilai deret hitungnya, yakni : 1+2+3+4+5+6+7+8+9+10+11+12+13+14
▶ Dan hasilnya adalah 105
▶Konversi dari nilai 105 ini bila menjadi nomor surat adalah Qs. 105 Al Fiil (Gajah)
▶ Dimana surat ini terkait dengan pristiwa saat pasukan gajah dari raja Abrahah menyerang Mekkah untukmenghancurkan Ka’bah.
▶Dimana pristiwa tersebut bertepatan pula dengan tahun kelahiran Rasulullah Muhammad saw, yang dikenal umum sebagai tahun gajah.

Luar biasa keterkaitan sistematika numeriknya, ternyata sangat selaras dan saling menguatkan dengan kaidah verbal terjemahannya.

Dimana dari terjemahan verbal kalimatnya mengisyaratkan tentang penegasan Rasulullah Muhammad akan hadir setelah nabi Isa as, sedangkan sistematika numeriknya semakin memperkuat keterangannya tentang jalur garis keturunannya, bahkan sampai waktu kelahiran Rasulullah Muhammad saw.

Memang begitulah adanya Al Qur’an, kelengkapan verbal dan numeriknya saling bersinergi, berdampingan saling menguatkan dalam sebuah harmonisasi sistematika yang begitu sempurna.

Telah disampaikan pada tulisan sebelumnya, bahwa terdapat dua pesan penting dari Qs. Ash Shaff ayat ke 6 ini, yaitu :

▶ Dalam masa kenabian Isa as, ayat ini adalah sebagai penegasan kepada bani Isra’il saat itu, tentang akan hadirnya nabi terakhir setelah Isa as, yaitu Rasulullah Muhammad saw.
▶ Dan terkandung pula pesan untuk di akhir zaman kelak, yakni pesan tentang akan kehadiran Imam Mahdi (yang memiliki kesetaraan nama dengan Rasulullah Muhammad saw), bersama nabi Isa as dalam misi mengembalikan Islam kepada kemurnian-Nya (sesuai dengan risalah yang telah disampai oleh Rasulullah Muhammad saw), dengan memerangi, menaklukan dan membunuh dajjal laknatullah yang telah merusak dan mengotori, kemurnian dan kesucian Islam.
▶ Hal ini, dapat dijelaskan dari kaidah numerik yang terkandung dalam Qs. Ash Shaff, yaitu sebagai surat ke 61 dan berjumlah 14 ayat.
▶ Karena bila dijumlahkan kedua nilai tersebut menjadi : 61 + 14 = 75
▶ Sedangkan surat ke 75 adalah Qs. Al Qiyamah (Kiamat).
▶ Bukankah diturunkannya kembali nabi Isa as dan munculnya Imam Mahdi, adalah merupakan peristiwa di akhir zaman, menjelang kiamat ?

Sebagai penjabaran penutup, kembali kita perhatikan Qs. 61 Ash Shaff ini, dengan penjelasan sbb :

▶ Ayat terakhirnya adalah (Qs. 61. Aṣh-Ṣhaff : 14)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.“

✒ Amanah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menolong Agama Allah, berbuat yang terbaik untuk Islam.

✒ 61 + 14 = 75, Qs. 75 adalah Al Qiyamah (kiamat). Sebagaimana disebutkan pada ayat diatas tentang nabi Isa as, bukankah beliau yang akan dihadirkan di akhir zaman menjelang kiamat ?

✒ Dimanakah posisi kita saat ini, di era akhir zaman, yang sudah begitu banyak pertanda kiamat segera tiba ? Di barisan yang akan ikut berjuang dengan Imam Mahdi dan nabi Isa as, atau malah justru berada di barisan musuh Islam yang dipimpin oleh dajjal laknatullah ??!

▶ selanjutnya, nilai dari Qs. 61 ayat ke 14 di atas, bila digabungkan variabelnya menjadi : 6114

▶ Nilai 6114 ini, dapat dikorelasikan juga dengan surat ke 6 ayat 114 (Qs. 6. Al-An’aam : 114).

“Pantaskah aku mencari hakim selain Allah padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu secara rinci ? Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui benar bahwa (Al-Qur’an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

✒ Allah SWT, telah menurunkan dan menetapkan, Al Quran adalah kebenaran dari-Nya, sebagai petunjuk utama, pedoman terbaik kepada manusia dalam mengemban amanahnya sebagai khalifah.

✒ Berbuatlah yang terbaik untuk Islam dengan landasan Al Quran, tanpa sedikitpun keraguan dan serahkan hasil terbaiknya kepada Allah SWT, Sang Maha Hakim.

Islam mustahil bangkit, tanpa kesadaran dari ummatnya untuk kembali kepada Al Quran.

Semoga manfaat.

Syaiful Husein – 0813 1724 9922
@jawara2020 – Numerik Al Qur’an

Imam Mahdi akan muncul di tahun 2020 ??

Dalam penjabaran kali ini, akan kita analisa tentang kemunculan Imam Mahdi, di akhir zaman.

Penjabaran dimulai dengan penguraian dari lafadz Mahdi (مهدى), yang terdiri dari huruf :

images-4.jpg

م : huruf ke 24
ه : huruf ke 27
د : huruf ke 8
ى : huruf ke 40

Jumlah nilai abjadnya adalah :

▶ 24 + 27 + 8 + 40 = 99

Catatan :
▶ Dalam parameter numerik Al Qur’an, huruf Ya dengan titik (ي) dibedakan dengan huruf Ya tanpa titik (ى)
▶ Dimana huruf Ya bertitik (ي) nilainya 30, sedangkan Ya tanpa titik (ى) nilainya adalah 40.

Dalam konversi nilai abjadnya, penjabaran kali ini akan menggunakan Al Quran sistem 114 surat kronologis (nomor surat berdasarkan urutan turunnya surat), dengan nomor abjad yang telah diperoleh yakni :

▶ Qs. 24 ‘Abasa : 42 ayat
▶ Qs. 27 Al Buruj : 22 ayat
▶ Qs. 8 Al A’laa : 19 ayat
▶ Qs. 40 Al Jin : 28 ayat

Jumlah ayatnya adalah :

▶ 42 + 22 + 19 + 28 = 111

Jumlah No. Surat + Jumlah Ayatnya :

▶ 99 + 111 = 210
▶ 210 adalah jumlah deret hitung dari nilai 20.
▶ Di Al Quran ada 114 surat artinya tidak ada surat ke 210. Untuk itu nilai 210 ini harus dikurangi 114 untuk mendapatkan nomor suratnya
▶ 210 – 114 = 96
▶ Dalam urutan mushaf Al Qur’an surat ke 96 adalah Qs. Al ‘Alaq.
▶ Sebagaimana diketahui bersama, bahwa surat ini adalah surat yang pertama (ke 1) diwahyukan. Dengan jumlah seluruh ayatnya adalah 19 ayat
▶ Bila nomor kronologis turunnya (nomor surat ke 1) dijumlahkan dengan jumlah ayatnya, maka akan diperoleh nilai : 1 + 19 = 20
▶ Sehingga dalam uraian ini, diperoleh 2 kali nilai 20, atau 20 dan 20 atau bila digabungkan menjadi 2020.

Apakah nilai 2020 ini terkait dengan tahun 2020..? Karena bila dikonversi sebagai jumlah ayatpu, ada 2 surat yang berjumlah 20 ayat, yakni Qs. Al Muzzamil dan Qs. Al Balad. Sehingga diperoleh 2 kali nilai 20 atau 2020.

Selanjutnya..

Nilai 99, dalam urutan kronologisnya adalah Qs. Ath Thalaq, 12 ayat

Jumlah No. Surat + Jumlah Ayatnya :

▶ 99 + 12 = 111
▶ Nilai 111 ini juga sama dengan nilai dari jumlah ayat dari penguraian latadz (مهدى) di atas.

Dan surat ke 111 dalam urutan surat kronologis adalah Qs. Al Fath (Kemenangan).

Bukankah kehadiran Imam Mahdi akan menjadikan Islam bangkit kembali (meraih kemenangan) ? Diseluruh penjuru dunia..!!

Perhatikan ayat terakhir dari Qs. Al Fath (ayat ke 29), di bawah ini :

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.

Ayat ini adalah satu-satunya ayat di Al Quran yang diawali dengan lafadz Muhammad (محمد).

Catatan tambahan :
Nama Nabi “Muhammad” disebutkan sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan nama “Ahmad” (nama lain dari Nabi Muhammad) disebutkan satu kali (Qs. 61 ; 6).

Ayat-ayat tersebut adalah :

▶ Surat ke 3 Ali Imran 144
Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.

▶ Surat ke 33 Al-Ahzab 40 :
Bukanlah Muhammad itu bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

▶ Surat ke 47 Muhammad 2 :
Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.

▶ Surat ke 48. Al-Fath 29 :
Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.

▶ Surat ke 61 As-Shaff 6 :
Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad) “. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Sebagaimana diketahui, bahwa Imam Mahdi pun memiliki nama yang sama dengan Rasulullah, yakni Muhammad Bin Abdullah.

Artinya lafadz nama Muhammad pada ayat ke 29 dari surat Al Fath di atas, dapat juga dikorelasikan dengan Imam Mahdi yang memiliki kesamaan nama dengan Rasulullah, dan akan membawa kemenangan bagi Islam di akhir zaman.

Referensi hadist :

Al-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, yakni :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ العَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي

Dari Abdullah bin Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak kiamat dunia ini sampai seorang laki-laki dari ahli baitku menguasai bangsa Arab. Namanya sesuai dengan namaku . (HR. Al-Tirmidzi)

Berdasarkan hadist di atas, jelas bahwa Imam Mahdi pun bernama Muhammad Bin Abdullah, sebagaimana nama dari baginda Rasulullah Muhammad saw.

Untuk keterkaitan persamaan nama ini, akan lebih jauh kita analisa, dengan uraian sbb :

✒ Nilai lafadz Mahdi (مهدى) adalah : 99
✒ Nilai latadz Muhammad  :

images (1)

م : huruf ke 24
ح : huruf ke 6
م : huruf ke 24
د : huruf ke 8

Jumlahnya : 62

✒ Penjumlahan keduanya : 99 + 62 = 161
✒ Jumlah surat di Al Quran adalah 114, artinya tidak ada surat ke 161
✒ Untuk itu nilai 161 dikurangi terlebih dahulu dengan nilai 114 untuk diperoleh nomor suratnya
✒ Sehingga diperoleh nilai : 161 – 114 = 47
✒ Surat ke 47 adalah Qs. Muhammad

Masyaa Allah.. ternyata hasil penjumlahan dari nilai lafadz Mahdi dan Muhammad, menghasilkan nomor surat Qs. Muhammad..!

Benar-benar terbukti hadist Rasulullah di atas yang mengisyaratkan tentang kesamaan nama antara nama Imam Mahdi dan dirinya (Muhammad).

Perhatikan kembali penggabungan nilai dari lafadz Muhammad dan Mahdi, bila digabungkan dalam satu uraian, di bawah ini :

Lafadz Muhammad dan Mahdi :

 م + م : 24 + 24 = 48  ◀️

ح + ه : 6 + 27 = 33  ◀️

م + د   : 24 + 8 = 32  ◀️

د + ى  : 8 + 40 = 48  ◀️

Jumlah gabungan keseluruhan abjadnya : 161

Bila nilai gabungan abjad di atas dikonversikan sebagai nomor surat, maka dapat dilihat sbb :

▶ Qs. 48 Al Fath.     : 29 ayat
▶ Qs. 33 Al Ahzab  : 73 ayat
▶ Qs. 32 As Sajdah : 30 ayat
▶ Qs. 48 Al Fath      : 29 ayat

Jumlah keseluruhan ayatnya : 161

Dengan uraian di atas sama-sama diperoleh nilai 161 !!

Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa bila nilai 161 dikurangi nilai 114 adalah :

▶ 161 – 114 = 47

Artinya, baik ditinjau dari penjumlahan gabungan abjadnya maupun konversi nomor suratnya (dijumlahkan ayat-ayatnya), keduanya menghasilkan nilai yang sama, yakni 47.

Atau dengan kata lain, ada 2 nilai 47 (Qs. Muhammad), yang dapat pula dikorelasikan sbb :

▶ Qs. 47 Muhammad pertama adalah sebagai Rasulullah saw
▶ Qs. 47 Muhammad kedua, adalah korelasi nama Muhammad sebagai nama dari Imam Mahdi.

Lantas bila dijumlahkan ke 2 nilai 47 tersebut adalah :

▶ 47 + 47 = 94

Terkait dengan apakah nilai 94 di sini..?

Ternyata nilai 94 ini terkait juga dengan jumlah nilai dari lafadz nama dari nabi Ibrahim as, seperti penjabaran sbb :

▶️ ا   : Huruf ke 1
▶️ ب : Huruf ke 2
▶️ ر   : Huruf ke 10
▶️ ه   : Huruf ke 27
▶️ ي  : Huruf ke 30
▶️ م  : Huruf ke 24

Jumlahnya : 94

Semakin jelas sekarang, bukan kah nabi Ibrahim as adalah kakek leluhurnya dari Rasulullah Muhammad saw ?

Hal ini juga membuktikan bahwa misi dari Imam Mahdi di akhir zaman kelak, adalah dalam rangka memurnikan ketauhidan kepada Allah SWT, sebagaimana yang diteladani jauh sebelumnya oleh Rasulullah Muhammad saw dan nabi Ibrahim as (Bapak Tauhid).

Masyaa Allah, kembali terlihat sistematika sempurna dari nilai-nilai numerik Al Qur’an, kitab terbenar kitab termurni, sistematika yang hanya mungkin diciptakan oleh Allah, mustahil ada makhluk-Nya yang akan menciptakan sistematikan demikian sempurnanya.

Begitu juga dengan misi dari nabi Isa as dan Imam Mahdi, adalah untuk mengembalikan kemurnian risalah dari Rasulullah Muhammad saw, yang telah banyak di rusak dan dikotori oleh musuh-musuh Islam, kaki tangannya dajjal laknatullah.

Keterkaitan ini juga akan diulas melalui lafadz dari nama nabi Isa as dan Imam Mahdi, yaitu :

✒ Nilai lafadz nama nabi Isa as : 100

images (24)

ع  : huruf ke 18
ي  : huruf ke 30
س : huruf ke 12
ى  : huruf ke 40

Jumlahnya : 100

✒ Nilai lafadz Mahdi : 99
✒ Jumlah dari keduanya : 199
✒ Untuk mendapatkan nomor suratnya, nilai 199 ini dikurangi 114
✒ 199 – 114 = 85

Ternyata nilai 85 ini pun terkait juga dengan Qs. 47 Muhammad, 38 ayat. Karena jumlah dari nomor surat + jumlah ayatnya : 47 + 38 = 85.

Bila lebih jauh nilai 85 ini adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. 40 Al Mu’min. Bukankah kelak Imam Mahdi muncul dan dibai’at pada usia 40 tahun ? Sama halnya dengan usia Muhammad, ketika diangkat menjadi Rasulullah.

Allahu Akbar.. demikian sempurna sistematika numeriknya..!!

Sebagai uraian penutup, kita kembali kepada Qs. Ash Shaff, yang pada urutan kronolologisnya surat ini diturunkan sebagai surat ke 109. Surat ini berjumlah 14 ayat.

▶ Bila nilai 109 ini kembali dilihat kepada urutan pada mushaf Al Qur’an, surat yang ke 109 adalah Qs. Al Kafirun, 6 ayat.

▶ Dengan landasan dari Qs. 109 Al Kafirun (pada urutan secara mushaf, dengan jumlah 6 ayat), selanjutnya nilai 6 ini dikoneksikan dengan nomor ayat ke 6 dari Qs. Ash Shaf, yakni :

Qs. Aṣh Ṣhaff : 6

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). ” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Pada masa itu (era nabi Isa as), ayat ini memang sebagai penegasan tentang akan hadirnya nabi terakhir, yakni Rasulullah Muhammad saw (yang pada awal sebelumnya bernama Ahmad), setelah nabi ke 24, Isa as.

Namun bila ayat ini dikorelasikan dengan keadaan di akhir zaman, ayat inipun dapat dikaitkan dengan akan diturunkannya kembali nabi Isa as dan Imam Mahdi. Dimana menurut sebuah hadist, diriwayatkan bahwa Imam Mahdi (yang akan hadir pada akhir zaman menjelang kiamat), mempunyai kesamaan nama dengan Rasulullah saw, yakni Muhammad bin Abdullah (sesuai dengan hadist yang telah disebutkan di atas).

Lebih lanjut, kembali pada Qs. Ash Shaff yang menyebutkan tentang nabi Isa as dan Ahmad (Muhammad).

Bila dilihat urutan secara mushafnya pun, Qs. Ash Shaff ini adalah surat ke 61 (14 ayat). Dan bila kedua nilainya dijumlahkan maka : 61 + 14 = 75.

Dan surat ke 75, dalam urutan mushaf Al Qur’an adalah Qs. Al Qiyamah (Kiamat), hal ini jelas menunjukkan korelasinya dengan kejadian menjelang kiamat, dimana Imam Mahdi dan Isa as akan hadir, untuk menaklukan dajjal laknatullah. Karena pada ayat ini, jelas menyebutkan nabi Isa as (putra Maryam).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Lalu Allah mengutus Isa ibn Maryam seperti Urwah bin Mas’ud, ia mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu selama tujuh tahun, manusia tinggal dan tidak ada permusuhan di antara dua orang pun. Kemudian Allah mengirim angin sejuk dari arah Syam lalu tidak tersisa seorang yang di hatinya ada kebaikan atau keimanan seberat biji sawi pun yang tersisa kecuali ia mencabut nyawanya,” (HR Muslim).

Selanjutnya, dengan penjabaran ke dua nilai 109 di atas, yaitu :

▶ Qs. 109 Al Kafirun, 6 ayat (urutan nomor surat berdasarkan urutan pada mushaf Al Qur’an).
▶ Qs. 109 Ash Shaff, 14 ayat (urutan nomor surat berdasarkan urutan kronologis turunnya kepada Rasulullah Muhammad saw).

Maka selanjutnya diperoleh nilai sbb :

▶ Nilai 109 nya 2 kali
▶ 1 + 0 + 9 = 10, lalu 10 x 2 = 20
▶ Sedangkan jumlah ayatnya juga dijumlahkan : 6 + 14 = 20
▶ Hasil akhirnya diperoleh nilai 20 dan 20, atau 2020.

Apakah perolehan ini terkait dengan tahun 2020 ? Dan apakah hal ini juga terkait dengan tahun kehadiran Imam Mahdi ?

Wallahu a’lam bishawab..

Akhirul kalam, bagaimanapun kita tetap berharap semoga benarlah adanya, Imam Mahdi akan segera muncul di tahun 2020 ini. Demi mengakhiri kekejian dan kedzaliman yang ditimpakan kepada banyak ummat Islam di muka bumi ini.

Dan kemudian Islam kembali berjaya di muka bumi ini, sebagai agama yang Rahmatan lil ‘Aalamiin.

Aamiin Allahumma Aamiin.

Syaiful Husein – 0813 1724 9922
@jawara2020 – Numerik Al Quran

Keutamaan Qs. Al Kahfi Dalam Kaitannya dengan Isa as dan dajjal laknatullah

Dalam hadistnya, Rasulullah Muhammad saw bersabda :

“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat awal dari surah Al- Kahfi terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi).

Hadist ini demikian menyebar dan alhamdulillah sebagian besar ummat Islam telah mengamalkannya, demi meraih fadhilah agar terlindungi dari fitnah dajjal laknatullah.

Dalam menyampaikan fatwanya melalui hadist, tentunya Rasulullah Muhammad saw tak akan pernah lepas dari landasan Al Qur’an, sebagai sumber segala ilmu yang sangat beliau fahami.

Artinya tidak mungkin beliau bersabda dengan berlandaskan kepada akal fikiran pribadinya (tanpa bersandarkan kepada ilmu Al Qur’an), terlebih beliau tak pernah lepas dari bimbingan dan petunjuk dari Allah swt, yang melalui malaikat utamanya, Jibril as, beliau selalu menerima instruksi/perintah yang pada akhirnya diperuntukkan pula bagi ummat Islam yang sangat ia cintai, baik itu ummat semasa hidupnya maupun di masa jauh ke depan setelah wafatnya.

Untuk itu, sudah sepantasnya lah kita sebagai ummat Islam mengikuti perintah tersebut, dan ada baiknya diiringi pula dengan upaya untuk mencari tahu bagaimana keterkaitan hadist tersebut dengan Al Qur’an, sebagai sumber ilmunya. Agar amaliah yang kita laksanakan (dengan berlandaskan pada hadist tersebut), menjadi bertambah kualitas kepahaman dan keyakinannya.

Pada hadist di atas, disebutkan tentang keutamaan dari Qs. Al Kahfi (10 ayat awal) dalam mengantisipasi fitnah dajjal laknatullah, yang demikian keji kepada ummat Islam.

Mari kita analisa hadist tersebut, dan tentunya dengan berlandaskan kepada Al Qur’an yang merupakan petunjuk atas segala hal permasalahan yang ada, termasuk tentunya, petunjuk untuk memahami tentang fatwa-fatwa Rasulullah Muhammad saw melalui hadist-hadistnya.

Berikut ini akan disampaikan analisa kajiannya, berdasarkan metode numerik Al Qur’an :

▶ Pada urutan di mushaf Al Qur’an, surat Al Kahfi ini berada pada urutan ke 18, dengan jumlah 110 ayat.

▶ Bila nilai 18 ini dikaitkan dengan nomor urut secara kronologis turunnya, dan ternyata surat yang diturunkan sebagai surat ke 18, adalah surat Al Kafirun (الكفرون).

Sudah mulai terlihat keterkaitannya. Karena dajjal laknatullah akan muncul di akhir zaman dengan tanda yang jelas di keningnya bertuliskan kaf-fa-ra (ك ف ر), atau kafir.

Tentang hal ini juga dijelaskan dalam hadist dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , Rasulullah Muhammad saw telah bersabda :

“Tiada seorang nabi pun, melainkan dia memberi peringatan (yang menakutkan) kepada umatnya tentang pendusta yang buta sebelah matanya. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) kamu tidak buta sebelah mataNya. Dan ditulis di antara dua matanya (Dajjal) Kaf, Fa` dan Ra (Kafir)”. [HR Bukhari, Muslim].

Terkait dengan fenomena “mata” (buta sebelah) yang merupakan salah satu ciri sang dajjal laknatullah, terkait juga dengan uraian nilai 18 di atas.

Keterkaitannya adalah :

👁 Dalam bahasa Arabnya, mata adalah ‘ain. Dan ternyata memiliki kesetaraan sebutan dengan salah satu huruf hijaiyah, yakni huruf ‘Ain (ع).

👁 Huruf ع ini dalam urutan huruf hijaiyah, adalah huruf ke 18.

👁 Ternyata surat ke 18 (dalam urutan kronologis turunnya) adalah surat Al Kafirun

👁 Dan pada urutan surat di mushaf Al Qur’an, surat ke 18 adalah Al Kahfi, yang mana surat inilah yang dianjurkan untuk diamalkan demi terlindungnya dari fitnah dajjal laknatullah (yang tertulis Kaf-Fa-Ra/Kafir) di antara ke 2 matanya.

Atau dalam urutan skemanya dapat dijelaskan sbb :

✒ Urutan turunnya Qs. Al Kafirun ▶️urutan surat ke 18 ▶️ Kafirun ▶️ Kafir ▶️ Kaf-Fa-Ra ▶️ Ciri dajjal ▶️Buta sebelah matanya ▶️ Mata : ‘Ain : ع ▶️ ع : huruf ke 18 ▶️ surat ke 18 dalam urutan mushaf Al Qur’an : Al Kahfi ▶️ Membaca Qs. Al Kahfi untuk terlindungi dari fitnah dajjal laknatullah

Bahkan, dalam kaitannya dengan mata, nabi Isa as pun salah satu mukjizatnya adalah dapat menyembuhkan mata yang buta.

Nah jelas bukan, keterkaitannya ?

Mari kita lanjutkan..

Qs. Al Kafirun diturunkan sebagai surat ke 18, jumlah ayat dari surat ini adalah 6 ayat.

Bila dijumlahkan nilai 18 dan 6, menjadi :

▶ 18 + 6 = 24

Nilai 24 ini sangat terkait dengan yang akan membunuh dajjal laknatullah, yaitu nabi Isa as, nabi ke 24 (dari 25 nabi Allah yang wajib diimani).

Lantas bagaimana keterkaitan nabi Isa as dengan Qs. Al Kahfi ? Karena, nabi Isa as pun sangat terkait dengan keberadaan dajjal laknatullah, dimana kelak di akhir zaman nabi Isa as lah yang akan membunuh dajjal laknatullah.

Dalam nilai huruf hijaiyahnya, Qs. Al Kahfi (الكهف) dapat dijabarkan sbb :

ال : Huruf ke 31
ك  : Huruf ke 22
ه   : Huruf ke 27
ف : Huruf ke 20

Sehingga jumlah keseluruhannya adalah :

▶ 31 + 22 + 27 + 20 = 100

Nilai 100 ini ternyata setara dengan nilai dari lafadz nama nabi Isa as (عيسى), yakni :

ع  : Huruf ke 18
ي  : Huruf ke 30
س : Huruf ke 12
ى  : Huruf ke 40

Sehingga jumlah keseluruhannya adalah :

▶ 18 + 30 + 12 + 40 = 100

Catatan :
▶ Dalam parameter numerik Al Qur’an, huruf Ya dengan titik (ي) dibedakan dengan huruf Ya tanpa titik (ى)
▶ Dimana huruf Ya bertitik (ي) nilainya 30
▶Sedangkan Ya tanpa titik (ى) nilainya adalah 40.

Dengan kesetaraan nilai 100 dari lafadz dari Al Kahfi dan nama dari Isa as, terbukti sebuah kesetaraan makna, yaitu :

▶ Qs. Al Kahfi dianjurkan diamalkan agar terlindungi dari fitnah dajjal laknatullah
▶ Nabi Isa as, kelak akan turun kembali di akhir zaman untuk menaklukan dajjal laknatullah.

Demikian Allah sangat mengasihi hamba-Nya, dikala nabi Isa as belum diturunkan kembali di akhir zaman, Allah telah siapkan pula “senjata” ampuh agar hamba-Nya terlindungi dari fitnah dajjal laknatullah, dengan mengamalkan Qs. Al Kahfi.

Namun dalam hadist yang disampaikan di awal tulisan ini, terdapat penekanan pada 10 ayat pertama saja pada Qs. Al Kahfi untuk diamalkan (dihafalkan).

Tentunya hal ini pun mengandung makna yang mendalam, dan dapat pula diketahui landasan ilmunya, melalui Al Quran.

Berikut ini penjelasannya :

▶ Secara keseluruhan Qs. Al Kahfi berjumlah 110 ayat
▶ Dengan penekanan pada 10 ayat awalnya, berarti terdapat 100 ayat setelah itu.
▶Bukankah nilai 100 telah dijelaskan keterkaitannya dengan nilai dari latadz nama nabi Isa as ?

Lebih lanjut lagi, dalam Qs. Al Kahfi, terdapat satu ayat dimana ditengah-tengah ayatnya dicetak tebal (dibedakan dengan ayat lainnya), yakni pada ayat ke 19 nya. Lafadz yang ditebalkan tersebut adalah :

InShot_20200114_102423723

Memiliki pesan apakah hal ini ? Berikut penjelasannya :

▶ Ayat ini terletak pada ayat ke 19
▶Bila nilai ini dikonversikan menjadi nomor surat ke 19, adalah Qs. Maryam, ibunda nya nabi Isa as

Semakin jelas keterkaitan surat Al Kahfi ini dengan keberadaan nabi Isa as.

Dengan “pesan khusus” dari ayat ke 19 ini, berarti masih ada 91 ayat lagi setelah ayat ini untuk mencapai keseluruhan dari Qs. Al Kahfi yang seluruhnya berjumlah 110 ayat.

Sebuah nilai yang unik, karena ke dua nilai ini saling bercermin, yakni 19 dan 91.

Mengandung makna apakah nilai 91 ini…?

▶ Bila kita konversikan sebagai nomor surat ke 91, adalah Qs. Asy Syams (Matahari) yang ada di juz 30.
▶ Surat ke 91 ini adalah merupakan surat ke 24 apabila diurutkan dari surat terakhir (Qs. 114).
▶ Dan nilai 24 ini bila dikoneksikan dengan nomor kenabian, adalah merupakan nomor urutan nabi Isa as (nabi ke 24).

Luar biasa, ternyata nilai 19 nya terkait dengan Qs. 19 Maryam (ibundanya nabi Isa as), sedangkan Qs. 91 nya, terkait dengan putra dari Maryam itu sendiri, yakni nabi Isa as.

Dari uraian ini juga sebagai sebagai penegasan bahwa Allah tak mempunyai anak (Nabi Isa as), dan ia (nabi Isa as) adalah merupakan anak dari Maryam, mari kita buktikan dengan mengacu pada nilai 19 dan 91 di atas, dengan melihat pada Qs. 19 Maryam 91, yakni :

✒ Qs. 19. Maryam : 91

Karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.

Terbukti, nabi Isa as, BUKANLAH ANAK DARI ALLAH..!! Sebagaimana yang diyakini ummat kristen.

Masih terkait dengan nilai 100 dan korelasinya dengan nabi Isa as, sebagai putra dari Maryam, akan semakin terlihat konektifitasnya dengan uraian sbb :

▶ Nilai latadz nama nabi Isa as : 100
▶ Nilai 100 bila ditinjau dari urutan kronologis turunnya, adalah Qs. Al Bayinah (diturunkan sebagai surat ke 100)
▶ Dan Qs. Al Bayinah, bila ditinjau dari urutan penempatan pada mushaf Al Qur’an diabadikan sebagai surat ke 98
▶ Nilai 98 adalah merupakan jumlah ayat dari Qs. Maryam (Ibunda Nabi Isa as)

Dari uraian di atas, kembali terlihat konektifitasnya, antara nabi Isa as dan ibundanya, Maryam.

Atau dalam urutan skemanya dapat terlihat sbb :

✒ Lafadz nama nabi Isa as ▶️ 100 ▶️ surat yang diturunkan pada urutan ke 100 (Qs. Al Bayinah) ▶️Nomor surat Qs. Al Bayinah pada urutan Mushaf Al Qur’an adalah Qs. 98 ▶️Nilai 98 adalah jumlah ayat dari Qs. Maryam ▶️ Maryam adalah ibundanya nabi Isa as.

Kembali terbukti bukan ?

Selain itu, nilai 19 dan 91 di atas, masing-masing nilai tersebut sama-sama menghasilkan nilai 10, mengisyaratkan apakah hal ini ?

Berikut sistematikanya :

▶ 1 + 9 = 10 dan
▶ 9 + 1 = 10

Maka dari itulah, kedua nilai 10 ini, selain mengisyaratkan tentang penekanan di 10 ayat awal dari Qs. Al Kahfi, ada juga hadist lain (dengan riwayat yang sama dari Abu Darda), yang menyebutkan penekanannya di 10 ayat terakhirnya.

Berikut hadistnya, dari Abu Darda’ r.a., Nabi SAW bersabda :
Barang siapa membaca 10 ayat terakhir dari surat Al-Kahf, maka ia terlindung dari fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad)

Dari hadist ini, bila kita kembalikan kepada Al Qur’an sebagai rujukan utamanya, tetap akan menghasilkan uraian yang sama (seperti penjelasan dalam kajian kali ini), karena pada kenyataannya kajian kali ini, memang berangkat dari nilai yang sama, yakni nilai 10.

Terlebih bila ke dua nilai 10 tersebut dijumlah akan menghasilkan nilai 20. Artinya untuk kelengkapan 110 ayat dari Qs. Al Kahfi, masih ada 90 ayat lainnya.

Bagaimanakah keterkaitan nilai 20 dan 90 ini ?

Dapat dijelaskan sbb :

▶ Qs. 90 adalah Al Balad (negeri), yang berjumlah 20 ayat.
▶ Dan penjumlahan dari nomor surat dan jumlah ayatnya : 90 + 20, tentunya akan kembali kepada nilai 110, yang merupakan jumlah ayat dari Qs. Al Kahfi itu sendiri.

Keterkaitan uraian disini juga dapat bermakna, apabila anjuran dari hadist ini diamalkan oleh sekian banyaknya ummat Islam, tentunya akan berdampak positif bukan hanya ke diri pribadi saja, namun lebih dari itu, akan berdampak jauh lebih luas lagi, bahkan dapat melindungi sebuah negeri (karena jelas dari uraian di atas, terkait juga dengan Qs. 90 Al Balad yang berarti negeri), dari ancaman kekejian fitnah dajjal laknatullah.

Sangat jelas bukan, keterkaitan dari nilai 20 dan 90 di atas ?

Bahkan bila dilakukan dengan analisa sistem perkalian dari kedua nilai 10 tersebut, akan menghasilkan nilai : 10 x 10 = 100.

Bukankah nilai 100 ini (lihat uraian tentang nilai 100 di atas), sangat terkait dengan lafadz dari Al Kahfi dan nama dari nabi Isa as.

Sehingga dapat disimpulkan, kedua hadist tersebut (baik yang menekankan di 10 ayat awal maupun di akhir) memang sama-sama patut untuk diperhatikan, dibaca, dipahami dan diamalkan.

Masyaa Allah, demikian sempurna seluruh sistematika numerik Al Qur’annya. Sebuah sistematika yang tentunya dari Allah semata, mustahil dari ciptaan makhluk-Nya !

Lantas bagaimana keterkaitan Qs. Al Kahfi ini dengan hari Jum’at sesuai anjuran pada hadist lain yang menganjurkan untuk membacanya pada hari Jum’at ?

Pembahasan tentang hal ini pernah dijabarkan pada tulisan sebelumnya (klik link ini) : https://belajarnumerikalquran.wordpress.com/2017/09/27/kekhususan-hari-jumat/

Namun kali ini ada sedikit penambahan mengenai keterkaitannya, sbb :

▶ Jumlah ayat dari Qs. Al Kahfi adalah 110
▶ Nilai ini lalu dikonversi menjadi nomor surat berdasarkan urutan ke 110 dari kronologis turunnya
▶ Ternyata, surat yang diturunkan sebagai surat ke 110, adalah Qs. Al Jum’ah (hari Jum’at)

Terbukti, sangat jelas kaitannya …!

Kembali kepada jumlah ayat dari Qs. Al Kahfi (110) ayat, lalu nilai ini dikonversi sebagai urutan surat ke 110 pada penempatan mushaf Al Qur’an.

▶ Ternyata surat ke 110 adalah Qs. An Nashr (pertolongan)

Yaa… begitulah adanya, tentu dengan anjuran dari hadist tentang Qs. Al Kahfi ini, mengandung pesan untuk mengembalikannya seluruhnya kepada Kehendak Allah, dengan sebuah harapan yang tinggi agar Dia Yang Maha Menolong, Allah swt, ridha untuk segera menurunkan pertolonganNya kepada kita, dari kekejian fitnah dajjal laknatullah.

Lebih lanjut, kembali kepada penekanan 10 ayat dari Qs. 18 Al Kahfi ini dapat dijabarkan sbb :

▶ Nomor surat ini : 18
▶ Pesan penekanannya pada 10 ayat
▶ Nilai 18 + 10 = 28

Mari kita jabarkan lebih jauh nilai 28 ini, yaitu :

▶ Nilai 28 dijumlahkan ke 2 digitnya, menjadi : 2 + 8 = 10
▶ Selisih dari nilai 2 dan 8 adalah : 6
▶ Sehingga diperoleh dua nilai baru yakni : 6 dan 10
▶ Kembali ke nilai 28.
▶ Untuk kembali mencapai nilai 28, maka nilai 6 dan 10 harus ditambahkan dengan nilai 12, atau dapat dijabarkan menjadi : 6 + 10 + 12 = 28
▶ Dan kembali diperoleh nilai baru, yakni 12.
▶ Sehingga hasil dari penjabaran nilai 28, diperoleh nilai : 6, 10 dan 12

Mengandung makna apakah ke 3 nilai ini ? Mari kita konversikan kedalam abjad hijaiyah, yaitu :

ح : Huruf ke 6
ر. : Huruf ke 10
س : Huruf ke 12

Dari pengkonversian ini, diperoleh 3 huruf, yang dapat membentuk lafadz سحر (Sihrin/Sihir).

Semakin jelas mengapa harus diadakan penekanan di 10 ayat dari Qs. Al Kahfi, ternyata terkait dengan faktor “sihir” nya dajjal laknatullah.

Karena faktor sihir disini dapat bermakna luas, yang merupakan cara kerjanya sistem dajjal laknatullah, yaitu :

▶Sihir dari golongan jin kafir dan sihir dalam bentuk ilmu hitam pemuja iblis (pasukannya dajjal laknatullah)
▶ Sihir melalui media (buku, internet, dll)
▶Sihir dengan iming-iming kenikmatan dunia (maksiat, narkoba, minuman keras, fashion, gaya hidup, dll).

Dimana kekejian dari “sihir-sihir” ini tentunya sangat membahayakan ummat Islam yang tidak teguh imannya.

Khususnya bagi generasi muda, yang terbukti sudah sangat banyak menjadi korban “sihir” ini, dimana pergaulan bebas dan segala macam jenis maksiat, sudah dianggap lumrah, hal yang wajar !

Tentunya semua ini di akibatkan karena begitu mudahnya akses-akses buruk tersebut diperoleh dengan sarana dan prasarana yang telah disiapkan oleh dajjal laknatullah dan pengikutnya (melalui perkembangan teknologi yang diaplikasikan dalam hal buruk), dan inilah bentuk “sihir” yang sangat mengancam dan berbahaya. Sangat menyedihkan..!

Untuk itulah, mengapa 10 ayat dari Qs. Al Kahfi ini, lebih ditekankan dalam hadist tersebut, karena dengan rutinitas dalam mengamalkannya, insyaa Allah, yang membaca dan menghafalkannya, terlindung dari “sihir” dan fitnah keji dajjal laknatullah.

Sebagai uraian penutup, kita kembali kepada Qs. Al Kafirun, yang pada urutan di mushaf Al Qur’an surat ini diabadikan sebagai surat ke 109.

▶ Bila nilai 109 ini kembali dilihat kepada urutan kronologis turunnya, ternyata surat yang diturunkan sebagai surat ke 109 adalah Qs. Ash Shaff, 14 ayat.

▶ Dengan landasan dari Qs. 109 Al Kafirun (pada urutan secara mushaf) dengan jumlah 6 ayat, selanjutnya nilai 6 ini dikoneksikan dengan nomor ayat ke 6 dari Qs. Ash Shaf, yakni :

61. Aṣh Ṣhaff : 6

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). ” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Pada masa itu (era nabi Isa as), ayat ini memang sebagai penegasan tentang akan hadirnya nabi terakhir, yakni rasulullah Muhammad saw (yang pada awal sebelumnya bernama Ahmad), setelah nabi ke 24, Isa as.

Namun bila ayat ini dikorelasikan dengan keadaan di akhir zaman, ayat inipun dapat dikaitkan dengan akan diturunkannya kembali nabi Isa as dan Imam Mahdi. Dimana menurut sebuah hadist, diriwayatkan bahwa Imam Mahdi (yang akan hadir pada akhir zaman menjelang kiamat), mempunyai kesamaan nama dengan Rasulullah saw, yakni Muhammad bin Abdullah.

Hadistnya adalah :
Al-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, yakni :

Dari Abdullah bin Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak kiamat dunia ini sampai seorang laki-laki dari ahli baitku menguasai bangsa Arab. *Namanya sesuai dengan namaku* . (HR. Al-Tirmidzi)

Karena, bila dilihat urutan secara mushafnya pun, Qs. Ash Shaff ini adalah surat ke 61 (14 ayat). Bila kedua nilainya dijumlahkan maka : 61 + 14 = 75.

Dan surat ke 75, dalam urutan mushaf Al Qur’an adalah Qs. Al Qiyamah (Kiamat), hal ini jelas menunjukkan korelasinya dengan kejadian menjelang kiamat, dimana Imam Mahdi dan Isa as akan hadir, untuk menaklukan dajjal laknatullah. Karena pada ayat ini pun jelas menyebutkan nabi Isa as (putra Maryam).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Lalu Allah mengutus Isa ibn Maryam seperti Urwah bin Mas’ud, ia mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu selama tujuh tahun, manusia tinggal dan tidak ada permusuhan di antara dua orang pun. Kemudian Allah mengirim angin sejuk dari arah Syam lalu tidak tersisa seorang yang di hatinya ada kebaikan atau keimanan seberat biji sawi pun yang tersisa kecuali ia mencabut nyawanya,” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishawab..

Akhirulkalam, apapun hasil dari kesimpulan tulisan ini, intinya hanya satu, yaitu ingin menyampaikan betapa pentingnya ummat Islam untuk mewaspadai akan bahayanya fitnah dajjal laknatullah, dan begitu pentingnya pula memenuhi anjuran Rasulullah Muhammad saw untuk mengamalkan Qs. Al Kahfi (minimal 10 ayat awalnya), dalam rangka melindungi diri kita dari fitnah dajjal laknatullah.

Dan semoga kajian ini bermanfaat, serta dapat menjadi motivasi untuk lebih jauh mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya.

Aamiin Allahumma Aamin..

Terkait dengan artikel ini, klik link di bawah : https://belajarnumerikalquran.wordpress.com/2017/09/29/tentang-kehadiran-nabi-isa-a-s-di-akhir-zaman/

Syaiful Husein – 0813 1724 9922
@jawara2020 – Numerik Al Qur’an

Pernyataan Allah SWT Akan Kemenangan Islam !!

Di Al Qur’an ada 3 ayat yang mengisyaratkan bahwa Allah mengutus Rasulullah Muhammad saw dengan diiringi risalah Al Qur’an, adalah untuk memenangkan agama-Nya, Islam, dari agama-agama lainnya.

Ke 3 ayat tersebut adalah :

1. Qs. 9 At Taubah 33 (di awali dengan angka 9) :

Dia-lah yang telah Mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

2. Qs. 48 Al Fath 28 :

Dia-lah yang Mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar, agar Dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

3. Qs. 61 Ash Shaff 9 (di akhiri dengan angka 9) :

Dia-lah yang Mengutus Rasul- Nya dengan membawa petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.

________________________________

Secara makna verbalnya, ke tiga ayat di atas memiliki arti kata yang sama, dan merupakan pernyataan dari Allah SWT, Islam PASTI akan menang ! mengungguli agama-agama lainnya.

Pernyataan ini berarti jaminan langsung dari Allah SWT, tidak mungkin diingkari, PASTI akan terjadi… !

Perhatikan angka 9 :

✒ yang merupakan nomor surat dari Qs. At Taubah

✒ dan merupakan nomor ayat dari Qs. 61 Ash Shaff

Dengan asumsi kesetaraan penggunaan angka 9 di sini, mari kita jumlahkan kedua nomor surat ini (ayat ke 1 dan ke 3 di atas) dengan nomor ayatnya :

✒ 9 + 33 + 61 + 9 = 112
✒ Qs. 112 adalah surat Al Ikhlash (Memurnikan ke Esaan Allah / Ketauhidan / Keikhlasan)

Sedangkan perhitungan untuk ayat ke (2) yang tidak mengandung nilai 9 :

Qs. 48 Al Fath 28, menjadi : 48 + 28 = 76

✒ Qs. 76 adalah surat Al Insan (Manusia)

Artinya, pernyataan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah tersebut adalah diperuntukkan bagi manusia-manusia yang tetap istiqamah dan ikhlas dalam memperjuangkan Ke Esaan Allah SWT (ketauhidan), dan kebenaran agama Islam yang diridhaiNya.

Sebaliknya bagi orang-orang kafir dan kaum munafik (yang mengaku Islam namun mendustai ketauhidan bahkan mendukung kekafiran) akan mengalami hal yang sebaliknya, kekalahan..!! dengan disertai oleh kemurkaan dan azab dari Allah SWT.

Untuk itu, wahai saudara-saudaraku se iman dan para pejuang kebenaran Islam, janganlah pernah gentar menghadapi arogansi dan propaganda kaum kafir dan munafiq tersebut, karena Allah SWT telah menjamin kemenangan untuk kita. Tetap istiqamah, tetap ikhlas menjalani perjuangan ini.

PERHATIKAN SURAT PERTAMA (1) DAN KE (3) YANG MENGANDUNG NILAI 9 :

🔍 Ayat yang pertama (1) :

Qs. 9 At Taubah 33, bila di balik angkanya, menjadi 33 dan 9.

✒ Lihatlah Qs. 33 Al Ahzaab 9 :

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami Kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu.** Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
____________
**Ayat ini menerangkan kisah ahzāb yaitu golongan-golongan yang dihancurkan dalam Perang Khandaq karena menentang Allah dan rasul-Nya. Yang dimaksud dengan bala tentara yang tidak dapat kamu lihat ialah para malaikat yang sengaja Didatangkan Allah untuk menghancurkan musuh-musuh Allah itu.
____________

Yaa.. ternyata Allah SWT menjamin kemenangan tersebut disertai dengan bala tentaraNya yang tak terlihat, yang siap berjuang bersama kaum beriman yang benar-benar ikhlas membela kebenaran Islam, dan akan ikut menghancurkan musuh-musuh Islam.

🔍 Ayat yang ke (3) :

Qs. 61 Ash Shaff 9, bila dibalik angkanya menjadi 9 dan 61.

Qs. 9 At Taubah 61 :

“Dan di antara mereka (orang munafik) ada orang-orang yang menyakiti hati Nabi (Muhammad) dan mengatakan, “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah, “Dia mempercayai semua yang baik bagi kamu, dia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah akan mendapat azab yang pedih.”

Jelas bukan ? Dari ke 2 ayat di atas, Allah akan membalas segala kekejian musuh-musuh Islam tersebut …!

🔍 Sedangkan untuk ayat yang ke 2 (Qs. 48 ayat 28), bila dibalik angka-angkanya, akan menjadi surat ke 28 ayat 48, perhatikan :

28. Al-Qaṣhash : 48

Maka ketika telah datang kepada mereka kebenaran (Al-Qur’an) dari sisi Kami, mereka berkata, “Mengapa tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu? ” Bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu? Mereka dahulu berkata, “(Musa dan Harun adalah) dua pesihir yang bantu-membantu. ” Dan mereka (juga) berkata, “Sesungguhnya kami sama sekali tidak mempercayai masing-masing mereka itu.”

Dari ayat ini menjelaskan, akan tetap ada kelompok/golongan yang berpenyakit hatinya, tetap memilih untuk tidak beriman dan berkeras mempertahankan arogansinya.

Dan golongan inilah yang juga akan mendapat balasan serta azab pedih, teriring pula dengan kehancurannya.

Ingatlah para pendusta dan penista Islam…!! Orang-orang yang menyakiti Rasulullah (yang membawa risalah Al Quran dan kebenaran agama Islam) PASTI…. akan mendapatkan azab yang pedih dan akan hancur …!!!

Karena, Islam akan berjaya di muka bumi ini, PASTI..!!

58. Al-Mujādalah : 21

Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.

Bertaubatlah dan berhentilah menistai agama Islam…!! sebelum azab itu tiba…!!

Karena ketika Islam menang dan berjaya, akan di jamin dengan konsep dan sistem “rahmatan lil ‘aalamin nya”, rahmat bagi sekalian alam.

Terbalik dengan konsep yang kaum kafir dan munafik terapkan.. merusak dan mendzalimi..!!

Akhirul kalam, semoga bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita, ummat Islam.

Syaiful Husein
@Jawara2020 – Numerik Al Qur’an

Jawaban TEGAS atas pengakuan adanya nabi baru (nabi ke 26), setelah Rasulullah Muhammad SAW (nabi ke 25)

Penjabaran kali ini dimulai dengan memperhatikan tentang firman Allah SWT dalam bentuk kitab yang diturunkan kepada 4 Nabi, yakni :

📘 Taurat : Musa as, nabi ke 16

📙 Daud as, nabi ke 20

📗 Injil : Isa as, nabi ke 24

📚 Al Quran : Muhammad SAW, nabi ke 25

Mari perhatikan dan jumlahkan nomor kenabiannya :

▶️ 16 + 20 + 24 + 25 = 85

Di Al Quran, hanya ada satu nilai 85, yang merupakan kombinasi dari hasil penjumlahan nomor surat dan jumlah ayatnya, yaitu :

▶️ Surat Muhammad, surat ke 47 dengan jumlah ayat 38.

Sehingga bila dijumlahkan :
▶️ 47 + 38 = 85

Hal ini adalah sebagai bukti nyata, bahwa memang benar adanya, Rasulullah Muhammad SAW, adalah sebagai sang penerima wahyu atas kitab terakhir, kitab penyempurna, Al Quran Al Kariim, setelah 3 nabi pembawa 3 kitab sebelumnya.

Akhir-akhir ini, telah terjadi beberapa kasus, dimana ada oknum-oknum yang mengaku sebagai nabi “baru”, artinya mereka mengakui adanya nabi ke 26, setelah Rasulullah Muhammad SAW..??

Mari kita buktikan fenomena ini, dengan numerik Al Quran.

Nilai ke 4 nabi pembawa kitab di atas adalah 85. Bila nilai ini ditambahkan 26 (sebagai nabi ke 26 / nabi palsu mereka), maka hasilnya menjadi :

▶️ 85 + 26 = 111

Nilai 111, bila dikonversikan sebagai nomor surat adalah Qs. 111 Al Lahab, atau Abu Lahab, seorang sosok penantang dan pembangkang atas risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW (Al Quran).

Artinya, dapat disimpulkan di sini, bahwa sosok-sosok yang mengaku sebagai nabi ke 26 tersebut, setelah nabi ke 25 (Rasulullah Muhammad SAW), adalah sebagai sosok-sosok dari Abu Lahab versi baru di zaman ini..!!

Yang ingin merusak ajaran Islam yang sesungguhnya, mereka adalah para penentang kemurnian Firman Allah SWT, Al Quran Al Kariim dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Selanjutnya, dengan akan dihadirkannya kembali nabi Isa as, di akhir zaman, maka nilai 85 di atas akan ditambahkan kembali dengan nilai 24 (sebagai urutan kenabian Isa as).

Karena nabi Isa as, dihadirkan bukanlah sebagai nabi baru atau nabi ke 26. Jadi.. nilai 24 tetap digunakan sebagai dasar perhitungannya.

Sehingga menjadi :

▶️ 85 + 24 = 109

Nilai 109 ini dikonversikan menjadi urutan surat ke 109, yakni :

▶️ Qs. 109 Al Kaafirun.

Lalu.. hasil di atas, dikaitkan dengan hadist Rasulullah SAW di bawah ini :

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW, berkata:

“Tidak ada seorang nabi pun kecuali memperingatkan umatnya dari Dajjal. Buta satu matanya, pendusta. Ketahuilah dia buta. Adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal: ك ف ر – (KAF-FA-RA), yakni kafir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain:
“Bisa dibaca oleh semua mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak.” (HR. Muslim).

Dari uraian di atas, berujung pada Qs. 109 Al Kaafirun, yang berasal dari kata dasar kafir (kaf-fa-ra), yang juga merupakan tanda yang tertera di antara ke dua mata Dajjal, laknatullah.

Jelas bukan..? Bahwa memang sesungguhnya misi utama dari kehadiran nabi Isa as di akhir zaman, adalah dalam rangka mengalahkan dan membunuh Dajjal, yang telah melakukan banyak fitnah besar serta merusak akidah ummat pada saat itu (yang sebagian besar, telah termakan oleh fitnah Dajjal, menuju keingkaran/kekafiran).

Selanjutnya, dengan uraian yang cukup sederhana kebenaran kitab ke 4 (Al Quran), dapat pula dibuktikan dengan uraian sbb :

▶️ Al Quran adalah kitab ke 4 (kitab terakhir / kitab penyempurna).

▶️  Nilai 4 dini dikonversikan menjadi surat ke 4, An Nisaa’

▶️ Al Quran di wahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW, srt Muhammad adalah surat ke 47.

▶️ Kemudian nilai 47 di konversikan menjadi nomor ayat, dari surat ke 4 An Nisaa’.

Sehingga di dapat ayat dari surat ke 4, An Nisaa’ ayat 47 :

FB_IMG_1578230823924

Sebuah teguran dan peringatan serta perintah yang tegas, bagi ummat yang mengimani 3 kitab sebelum Al Quran (Taurat, Zabur dan Injil), agar mengimani Al Quran sebagai kitab penyempurna atas kitab-kitab sebelumnya.

Begitu pula dengan uraian singkat di bawah ini.

▶️ Sebelum Al Quran, telah di wahyukan dan diturunkan 3 kitab kepada 3 Nabi :

1. Taurat : Musa as
2. Zabur : Daud as
3. Injil : Isa as

▶️ Nilai 3 kitab dan 3 nabi, dikonversikan menjadi surat ke 3, Ali ‘Imraan ayat ke 3.

Sebuah pembuktian sederhana tentang kebenaran Al Quran sebagai kitab penyempurna (atas 3 kitab sebelumnya), yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW

Karena Al Quran diturunkan sebagai kitab ke 4, perhatikan pula ayat ke 4 nya (3 Ali ‘Imraan 4), seperti gambar di bawah ini :

FB_IMG_1578231072346

Masyaa’ Allah,  demikian sempurna sistematika numerik Al Qurannya, mustahil kitab suci ini merupakan hasil olah fikir atau buatan manusia.

Hanya kesempurnaan Allah lah yang mampu menciptakan sistematika yang demikian sempurna, baik dari sisi verbal terjemahnya maupun numerik Al Qurannya.

Semoga bermanfaat dan mampu menyadarkan  para penganut nabi palsu setelah Rasulullah Muhammad SAW, untuk kembali kepada risalah Al Quran yang murni kebenarannya.

Syaiful Husein – 0813 1724 9922

@jawara2020 – Numerik Al Quran